Kurma Muda Bukan Obat Kesuburan, Ini Penjelasan Guru Besar Botani Farmasi Unair

Chairunnisya • Dipublikasikan Rabu, 19 Agustus 2026 | 09:50 WIB
Kurma (DOK JAWAPOS)
Kurma (DOK JAWAPOS)

PONTIANAK POST - Kurma muda belakangan banyak diperbincangkan karena dipercaya memiliki manfaat khusus bagi kesehatan reproduksi wanita.

Padahal, manfaat pangan dan khasiat klinis merupakan dua hal yang perlu dibedakan.

Dilansir dari Jawapos, Guru Besar Botani Farmasi dan Farmakognosi Fakultas Farmasi Universitas Airlangga, Prof Dr Apt Mangestuti Agil MS, menekankan bahwa kurma memang memiliki kekayaan zat gizi dan senyawa bioaktif yang menarik untuk dipelajari.

Baca Juga: Kurma untuk Ibu Hamil, Benarkah Bisa Membantu Mempercepat Proses Persalinan?

Namun, potensi biologis belum otomatis membuktikan manfaat klinis tertentu.

Kandungan Kurma Bisa Berubah

Kurma mengalami sejumlah tahap perkembangan, mulai hababouk, kimri, khalal, ruthab, hingga tamar.

Setiap tahap memiliki karakteristik berbeda dari sisi kadar air, gula, tekstur, warna, dan kandungan senyawa bioaktif.

Baca Juga: Jus Kurma, Si Manis Penuh Khasiat

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa tingkat kematangan merupakan salah satu faktor yang menentukan komposisi buah.

Kurma mengandung berbagai polifenol dan senyawa fenolik yang mempunyai aktivitas antioksidan serta berpotensi memberikan efek biologis lain.

Namun, jumlah dan jenis senyawanya tidak selalu sama. Varietas, tempat tumbuh, dan tingkat kematangan turut menentukan komposisinya.

Baca Juga: Daun Kelor Membantu Memenuhi Nutrisi Kesehatan Reproduksi

Potensi Biologis Perlu Dibuktikan

Sejumlah penelitian praklinis pada hewan memang telah mengeksplorasi pengaruh ekstrak kurma terhadap sistem reproduksi dan siklus estrus.

Hasil penelitian menunjukkan adanya perubahan atau sinkronisasi siklus estrus pada dosis tertentu.

Namun, hasil penelitian pada hewan tidak dapat langsung diterjemahkan sebagai bukti bahwa konsumsi kurma muda mampu mengatur ovulasi atau meningkatkan kesuburan pada wanita.

Sampai saat ini, bukti klinis pada manusia untuk menyatakan kurma muda sebagai pengatur ovulasi masih belum cukup kuat.

Baca Juga: Kurma Muda Viral untuk Kesuburan, Benarkah Bisa Membantu Mengatur Ovulasi?

Karena itu, kurma muda lebih tepat ditempatkan sebagai bagian dari pola makan sehat, bukan sebagai “obat kesuburan”.

Tetap Utamakan Pola Hidup Sehat

Untuk menjaga kesehatan reproduksi wanita, yang paling penting tetaplah pola makan bergizi seimbang, aktivitas fisik, tidur cukup, pengelolaan stres, serta pemeriksaan kesehatan reproduksi bila terdapat keluhan.

Baca Juga: Mengenal Daun Ungu, Tanaman Herbal Nusantara yang Terus Menarik Perhatian Peneliti

Bagi perempuan yang mengalami gangguan menstruasi, sulit hamil, atau masalah reproduksi lainnya, pemeriksaan dan konsultasi dengan tenaga kesehatan tetap diperlukan.

Dengan demikian, popularitas kurma muda tidak perlu membuat masyarakat mengabaikan batas antara pangan dan obat.

Buah tersebut dapat menjadi bagian dari pilihan pangan sehat, tetapi klaim manfaat khusus terhadap kesuburan masih membutuhkan pembuktian lebih lanjut. (*)

Editor : Chairunnisya
kesehatan reproduksi senyawa bioaktif kurma muda obat kesuburan fakta kurma