PONTIANAK POST - Memasuki masa pascamenopause merupakan bagian alami dalam perjalanan kehidupan seorang perempuan.
Namun, perubahan hormonal yang terjadi dapat membawa sejumlah keluhan kesehatan apabila tidak dipersiapkan dengan baik.
Pascamenopause terjadi setelah seorang wanita tidak mengalami siklus haid selama 12 bulan berturut-turut. Pada fase ini, kadar hormon estrogen mengalami penurunan yang kemudian berpengaruh terhadap berbagai fungsi tubuh.
Dilansir dari Jawapos, Guru Besar Botani Farmasi dan Farmakognosi Fakultas Farmasi Universitas Airlangga, Prof Dr Apt Mangestuti Agil MS, menjelaskan bahwa estrogen memiliki peran penting dalam menjaga berbagai fungsi tubuh, mulai dari reproduksi, kepadatan tulang, jantung dan sirkulasi darah, hingga fungsi otak.
Baca Juga: Isoflavon Kedelai Berpotensi Membantu Menjaga Kesehatan Wanita Saat Menopause
Selain itu, estrogen juga berperan dalam produksi kolagen, menjaga kelembaban kulit, serta mempertahankan kekuatan dan massa otot.
Ketika Estrogen Menurun, Tubuh Mengalami Perubahan
Menurut Prof Mangestuti, rendahnya kadar estrogen pada masa pascamenopause dapat memunculkan sejumlah gejala.
Baca Juga: Bagaimana Ketentuan Iddah Perempuan yang Memasuki Masa Menopause?
Beberapa keluhan yang sering dialami antara lain hot flashes atau sensasi panas kuat di area wajah, dada, dan leher akibat perubahan hormonal.
Gejala lain yang dapat muncul berupa berkeringat pada malam hari, kekeringan organ kewanitaan, depresi, menurunnya gairah seksual, insomnia, kekeringan kulit, perubahan berat badan, kerontokan rambut, hingga gangguan fungsi kandung kemih.
Kondisi tersebut sebenarnya merupakan bagian dari proses alamiah tubuh. Namun, pola hidup sehat dan pemenuhan nutrisi dapat membantu wanita menjalani fase ini dengan lebih baik.
Baca Juga: Menopause: Apa yang Terjadi pada Tubuh Anda dan Bagaimana Menghadapinya?
Salah satu pilihan yang dapat dipertimbangkan adalah konsumsi herbal yang mengandung fitoestrogen.
Fitoestrogen Memiliki Struktur Mirip Estrogen
Fitoestrogen merupakan senyawa alami pada tumbuhan yang memiliki struktur kimia mirip dengan estrogen. Karena kemiripan tersebut, fitoestrogen diharapkan dapat bekerja menyerupai hormon estrogen dalam tubuh.
Dengan konsumsi secara rutin, senyawa ini diharapkan membantu mengendalikan gangguan kesehatan akibat penurunan kadar estrogen, meskipun efeknya tidak sekuat pemberian estrogen sintetis.
Keunggulan fitoestrogen adalah relatif lebih aman serta dapat bekerja bersama senyawa lain dalam herbal yang memiliki aktivitas antioksidan dan antiradang.
Baca Juga: Natto dan Miso Produk Fermentasi Kedelai yang Banyak Diteliti
Kedelai sebagai Sumber Fitoestrogen
Salah satu tanaman yang dikenal sebagai sumber fitoestrogen adalah kedelai. Kedelai mengandung 12 jenis senyawa golongan isoflavon yang memiliki aktivitas menyerupai hormon estrogen.
Melalui kerja yang mirip hormon estrogen, isoflavon menunjukkan efek terhadap aktivitas hormon seks dan organ tubuh yang berkaitan.
Senyawa tersebut berpotensi membantu mengantisipasi berbagai gangguan yang berkaitan dengan pascamenopause, seperti pengeroposan tulang, gangguan pembuluh darah kecil, demensia, dan keganasan.
Baca Juga: Fakta Menarik Kedelai, Sumber Protein Lengkap yang Mendunia Sejak Zaman Kuno
Efek tersebut terjadi karena isoflavon dapat berikatan dengan reseptor estrogen beta yang terdapat pada jaringan dan organ tubuh, seperti otak, tulang, dan pembuluh darah kecil.
Ikatan tersebut membantu mengurangi kecepatan pengeroposan tulang, mengurangi kekeringan serta iritasi vagina, dan mempertahankan dinding pelindung vagina.
Kedelai sebagai Makanan Fungsional
Selain kandungan fitoestrogen, kedelai juga dikenal sebagai sumber protein tumbuhan berkualitas baik. Kedelai mengandung vitamin B kompleks, serat, zat besi, kalsium, dan zinc yang menjadikannya salah satu pilihan makanan fungsional.
Baca Juga: Fermentasi Kedelai Ternyata Tingkatkan Penyerapan Protein dan Senyawa Bioaktif
Beragam kandungan tersebut dapat membantu mendukung kesiapan kesehatan wanita ketika memasuki fase pascamenopause.
Dengan dukungan pola hidup sehat, nutrisi yang cukup, dan pemanfaatan herbal secara tepat, masa pascamenopause dapat dijalani sebagai bagian alami kehidupan tanpa harus selalu identik dengan gangguan kesehatan. (*)
Editor : Chairunnisya