Diet Ekstrem Turunkan Berat Badan Cepat, Risiko Batu Empedu Mengintai Kesehatan

Chairunnisya • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:03 WIB
Deretan buah yang baik untuk diet sehat anda.
Deretan buah yang baik untuk diet sehat anda.

PONTIANAK POST - Angka di timbangan yang terus menurun sering dianggap sebagai tanda keberhasilan program diet. Namun, penurunan berat badan yang terjadi terlalu cepat ternyata tidak selalu membawa dampak baik bagi tubuh.

Di balik keberhasilan mencapai berat badan ideal dalam waktu singkat, terdapat risiko kesehatan yang perlu diperhatikan, salah satunya meningkatnya peluang terbentuknya batu empedu.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam RSIA NUN Surabaya, dr Putu Anisya Purnamasari SpPD, menjelaskan bahwa penurunan berat badan secara drastis dapat memengaruhi proses kerja empedu dalam tubuh.

Baca Juga: Herbal Kaya Antioksidan Jadi Pilihan Pendukung Kesehatan Wanita Modern

Menurutnya, kondisi tersebut terjadi karena penurunan berat badan terlalu cepat membuat hati melepaskan lebih banyak kolesterol ke dalam empedu. Di sisi lain, kantong empedu menjadi lebih jarang berkontraksi sehingga kolesterol lebih mudah mengendap.

"Kolesterol yang mengendap lama-kelamaan membentuk kristal, kemudian berkembang menjadi batu empedu," ujarnya, dikutip dari Jawapos.

Bukan Semua Diet Berisiko Batu Empedu

Meski penurunan berat badan dapat menjadi salah satu faktor risiko, tidak semua orang yang berhasil menurunkan berat badan akan mengalami batu empedu.

Baca Juga: Ahli Gizi Ingatkan Risiko Diet Ekstrem bagi Tubuh Usia 40 Tahun Ke Atas

Risiko terutama meningkat pada kondisi extreme weight loss, yaitu ketika seseorang kehilangan berat badan dalam jumlah besar dalam waktu sangat singkat.

"Sekarang banyak orang mengejar body goals dengan bantuan obat ataupun operasi sehingga berat badannya turun sangat drastis dalam waktu singkat. Kondisi inilah yang meningkatkan risiko terbentuknya batu empedu," jelas dosen Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Ciputra itu.

Menurut Anisya, kehilangan berat badan lebih dari 10 kilogram hanya dalam satu bulan menjadi salah satu kondisi yang perlu diwaspadai.

Baca Juga: Memasuki Usia 40 Tahun, Diet Sehat Kini Fokus Menjaga Fungsi Tubuh

Penurunan berat badan yang terlalu cepat membuat tubuh mengalami perubahan metabolisme yang dapat memengaruhi keseimbangan pembentukan cairan empedu.

Faktor Lain yang Meningkatkan Risiko Batu Empedu

Selain penurunan berat badan ekstrem, terdapat sejumlah faktor lain yang dapat meningkatkan risiko terbentuknya batu empedu. Beberapa di antaranya adalah obesitas, terutama obesitas sentral yang ditandai dengan penumpukan lemak di area perut.

Risiko juga meningkat pada orang yang pernah menjalani operasi bariatrik, menggunakan kontrasepsi hormonal pada perempuan, mengalami diabetes, sindrom metabolik, hingga memiliki kadar trigliserida tinggi.

Karena itu, program penurunan berat badan perlu dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi tubuh secara keseluruhan, bukan hanya mengejar perubahan angka di timbangan.

Baca Juga: Perut Buncit Tak Kunjung Hilang? Dr Zaidul Akbar Ungkap Cara Alami Tanpa Olahraga dan Diet Ribet

Mengenali Gejala Awal Gangguan Empedu

Anisya mengatakan masyarakat yang sedang menjalani program diet juga perlu mengenali tanda awal gangguan empedu.

Salah satu gejala yang perlu diperhatikan adalah munculnya nyeri atau rasa tidak nyaman di perut kanan atas, terutama setelah mengonsumsi makanan berlemak.

"Itu bisa menjadi rambu-rambu adanya endapan di kantong empedu. Sebaiknya segera diperiksa ke dokter," ujarnya.

Baca Juga: Edukasi Kesehatan RSUD SSMA Kota Pontianak: Diet Rendah Lemak, Strategi Efektif Cegah Penyakit Degeneratif

Untuk memastikan kondisi tersebut, pemeriksaan dapat dilakukan melalui USG abdomen serta pemeriksaan fungsi hati seperti SGOT, SGPT, dan bilirubin.

Jangan Hanya Mengejar Angka di Timbangan

Menurut Anisya, pembentukan batu empedu diawali dari kondisi gallbladder sludge atau endapan kristal di kantong empedu.

Pada tahap tersebut, kondisi masih berpeluang kembali normal apabila penyebabnya segera ditangani sebelum terbentuk inti batu.

Baca Juga: Diet Efektif Tanpa Lapar dan Lemas: 3 Tips Agar Tubuh Sehat dan Bertenaga

"Kalau inti batu sudah terbentuk, pengobatan lebih terbatas dan tidak semua pasien bisa diobati dengan obat pelarut batu," jelasnya.

Apabila batu empedu sudah terbentuk dan menimbulkan keluhan seperti nyeri berulang, tindakan operasi umumnya menjadi pilihan terapi.

Sementara pada batu empedu tanpa gejala, dokter biasanya melakukan observasi dan pemantauan berkala karena batu tetap berpotensi berpindah serta menyumbat saluran empedu.

"Jangan tergiur dengan penurunan berat badan ekstrem dalam waktu singkat. Tujuan kita bukan hanya mengejar angka di timbangan, tetapi membangun gaya hidup yang lebih sehat melalui pilihan makanan dan kebiasaan sehari-hari jangka panjang," ucapnya. (*)

Editor : Chairunnisya
diet ekstrem batu empedu turun berat badan kesehatan empedu body goals