Dokter Paru Ungkap 3 Langkah Kurangi Risiko Kesehatan akibat Paparan Asap Karhutla

Khoiril Arif Ya'qob • Dipublikasikan Rabu, 26 Agustus 2026 | 13:30 WIB
ILUSTRASI: anak-anak pergi ke sekolah di tengah kondisi asap karhutla (PEKANBARU)
ILUSTRASI: anak-anak pergi ke sekolah di tengah kondisi asap karhutla (PEKANBARU)

PONTIANAK POST - Dokter spesialis paru dan pernapasan Dr. dr. Feni Fitriani Taufik, Sp.P(K), M.Pd.Ked menyampaikan tiga langkah pencegahan yang dapat dilakukan masyarakat untuk mengurangi risiko kesehatan akibat paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Menurut Feni, langkahnya meliputi pencegahan primer, sekunder, dan tersier. Ketiganya dilakukan sesuai kondisi dan tingkat paparan yang dialami masyarakat.

Pencegahan Primer: Kurangi Paparan Asap

Feni menjelaskan, pencegahan primer dilakukan dengan mencegah atau mengurangi pajanan asap karhutla. Penanganan sumber kebakaran perlu segera dilakukan, sementara masyarakat di sekitar lokasi kebakaran perlu meminimalkan paparan asap.

Baca Juga: Tiga Hari Diselimuti Kabut Asap Karhutla, Warga Sambas Keluhkan Mata Pedih dan Jarak Pandang

Masyarakat disarankan menghindari aktivitas di luar rumah karena konsentrasi polusi akibat asap kebakaran lebih tinggi di luar ruangan.

Jika harus keluar rumah, Feni menyarankan aktivitas dilakukan dengan memperhitungkan waktu, sesingkat mungkin, serta menggunakan perlindungan maksimal.

“Kalau pun harus keluar rumah, gunakan masker jenis apa pun tetap ada faktor perlindungannya dibanding tidak menggunakan masker sama sekali,” kata Feni dikutip dari Antara (26/8).

Perlindungan juga dapat dilengkapi dengan kacamata untuk mengurangi risiko iritasi mata serta pakaian yang menutupi tubuh.

Baca Juga: Kasus ISPA di Sanggau Capai 9.071 hingga Juli 2026, Warga Diminta Waspada Kabut Asap

Tutup Pintu dan Jendela Rumah

Saat berada di dalam rumah, masyarakat disarankan menutup rapat pintu dan jendela agar asap dari luar tidak masuk.

Feni juga mengingatkan agar masyarakat tidak menambah sumber polusi di dalam rumah. Aktivitas seperti merokok, menyalakan lilin, atau menggunakan obat nyamuk bakar di dalam rumah sebaiknya dihindari.

Menurut Feni, tindakan tersebut dapat meningkatkan konsentrasi polusi udara di dalam rumah.

Pencegahan Sekunder dan Tersier

Pencegahan sekunder dilakukan ketika masyarakat sudah terpajan asap, tetapi dampak kesehatan dapat dicegah agar tidak berkembang menjadi kondisi yang lebih berat.

Baca Juga: Kasus ISPA Kalbar Tembus 151 Ribu akibat Karhutla, Kemenkes Kirim Bantuan Nakes dan Logistik

Masyarakat perlu memperhatikan gejala yang mengarah pada perburukan dan menyiapkan obat pertolongan pertama di rumah. Jika keluhan tidak membaik, Feni menyarankan segera memeriksakan diri ke dokter atau fasilitas kesehatan.

Sementara itu, pencegahan tersier ditujukan bagi mereka yang sudah terdampak paparan asap. Pasien perlu menjalani perawatan atau menggunakan obat tambahan sesuai anjuran dokter serta memperhatikan pengobatan dan kondisi kesehatannya.

Jaga Pola Hidup Bersih dan Sehat

Feni juga menyarankan masyarakat menjaga pola hidup bersih dan sehat selama kondisi karhutla. Hal tersebut mencakup istirahat cukup, mengelola stres, memperbanyak konsumsi air putih, serta mengonsumsi makanan bergizi.

Kebiasaan merokok juga perlu dihentikan, bukan hanya selama terjadi karhutla, tetapi untuk seterusnya.

Baca Juga: Kabut Asap Selimuti Mempawah Hulu, Puskesmas Karangan Temukan Keluhan yang Mengarah ke ISPA

Selain upaya individu, Feni menyebut pencegahan dampak kesehatan karhutla juga membutuhkan sinergi. Hal itu termasuk menghentikan kebiasaan membakar sampah serta menyediakan shelter yang memiliki udara lebih bersih bagi warga terdampak.

Sebelumnya, Kementerian Kesehatan menyampaikan bahwa hingga 21 Agustus, karhutla telah berdampak pada 87 kabupaten/kota di tujuh provinsi. Sekitar tiga juta warga di 37 kabupaten/kota dilaporkan terpapar kabut asap akibat karhutla.

Paparan partikel halus PM2,5 dalam asap karhutla dapat masuk ke saluran pernapasan dan meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Baca Juga: Kabut Asap Mulai Selimuti Sambas, Dinkes Catat 1.098 Kasus ISPA hingga 12 Agustus 2026

Editor : Khoiril Arif Ya'qob
paparan asap tiga langkah asap karhutla ispa kesehatan