PONTIANAK POST - Dokter spesialis paru dan pernapasan Dr. dr. Feni Fitriani Taufik, Sp.P(K), M.Pd.Ked membagikan langkah pencegahan untuk mengurangi dampak asap karhutla terhadap kesehatan. Pencegahan dapat dilakukan melalui tiga tahapan, yakni primer, sekunder, dan tersier.
Feni mengatakan pencegahan primer dilakukan dengan menghindari pajanan asap sejak awal. Penanganan sumber kebakaran harus segera dilakukan, sementara masyarakat di sekitar lokasi perlu meminimalkan paparan asap.
“Caranya seperti apa? Hindari aktivitas di luar rumah karena polusi akibat asap kebakaran itu tentu akan lebih besar konsentrasinya ada di luar rumah. Kalaupun harus keluar rumah, gunakan masker jenis apa pun tetap ada faktor perlindungannya dibanding tidak menggunakan masker sama sekali,” kata Feni kepada ANTARA di Jakarta, Rabu (26/8).
Baca Juga: Kasus ISPA Kalbar Tembus 151 Ribu akibat Karhutla, Kemenkes Kirim Bantuan Nakes dan Logistik
Batasi Aktivitas di Luar Rumah
Dosen Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tersebut menyarankan masyarakat menghitung kebutuhan ketika harus beraktivitas di luar rumah. Waktu di luar ruangan sebaiknya sesingkat mungkin dengan perlindungan semaksimal mungkin.
Selain masker, perlindungan dapat dilengkapi dengan kacamata untuk mengurangi risiko iritasi mata. Pakaian yang menutup seluruh tubuh juga disarankan sebagai bagian dari perlindungan.
Jangan Biarkan Asap Masuk ke Rumah
Saat berada di dalam rumah, masyarakat disarankan menutup rapat jendela dan pintu untuk mengurangi masuknya asap. Udara di dalam rumah juga perlu dijaga agar tidak semakin tercemar.
Feni mengingatkan masyarakat tidak menambah sumber polusi di dalam rumah, termasuk asap rokok, lilin, dan obat nyamuk bakar.
“Di dalam rumah sendiri jangan menambah polusi udara, misalnya tidak merokok di dalam rumah, tidak menyalakan lilin atau obat nyamuk bakar di dalam rumah karena konsentrasi polusi di dalam rumah, udara di dalam rumah akan meningkat dengan melakukan kegiatan tersebut,” ujar Feni.
Baca Juga: Kasus ISPA di Sanggau Capai 9.071 hingga Juli 2026, Warga Diminta Waspada Kabut Asap
Kenali Gejala dan Jangan Tunda Berobat
Pencegahan sekunder dilakukan untuk mencegah orang yang telah terpapar asap mengalami kondisi kesehatan yang lebih berat. Masyarakat perlu memperhatikan gejala dan segera mengambil tindakan jika kondisi memburuk.
Feni menyarankan masyarakat menyiapkan obat pertolongan pertama di rumah dan memeriksakan diri apabila keluhan tidak membaik.
"Segera ke dokter atau fasilitas kesehatan jika keluhan yang tadi belum ada perbaikan,” ujar dia.
Pengobatan Harus Mengikuti Anjuran Dokter
Pencegahan tersier ditujukan kepada masyarakat yang sudah mengalami dampak kesehatan akibat paparan asap karhutla. Mereka perlu mendapatkan perawatan atau obat tambahan sesuai anjuran dokter.
Pasien juga diminta memperhatikan pengobatan dan kondisi kesehatannya. Kebiasaan yang dapat memperburuk kondisi, terutama merokok, sebaiknya dihentikan.
Feni menekankan bahwa berhenti merokok tidak hanya penting selama karhutla. Kebiasaan tersebut sebaiknya dihentikan secara berkelanjutan.
Jaga Pola Hidup Bersih dan Sehat
Feni meminta masyarakat tetap menjaga pola hidup bersih dan sehat selama kondisi karhutla. Langkahnya antara lain cukup beristirahat, mengelola stres, memperbanyak minum air putih, dan mengonsumsi makanan bergizi.
“Artinya dengan mempertahankan pola hidup bersih dan sehat ini mudah-mudahan daya tahan tubuh masih bisa dioptimalkan sehingga tidak terlalu terdampak dengan efek kebakaran hutan tersebut,” kata dr. Feni.
Baca Juga: Kemenkes Siapkan Rekomendasi PJJ Saat Kualitas Udara Memburuk akibat Karhutla
Shelter Udara Bersih Bisa Jadi Solusi
Menurut Feni, perlindungan dari dampak karhutla membutuhkan sinergi. Masyarakat perlu menghindari kebiasaan seperti membakar sampah, sementara pemerintah dan pihak terkait dapat menyiapkan shelter yang menyediakan udara lebih bersih bagi warga terdampak.
Tiga Juta Warga Terpapar Kabut Asap
Sebelumnya, Kementerian Kesehatan menyampaikan hingga Jumat (21/8), karhutla telah berdampak ke 87 kabupaten/kota di Jambi, Riau, Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.
Sekitar tiga juta warga di 37 kabupaten/kota disebut terpapar kabut asap akibat karhutla.
Paparan partikel halus PM2,5 menjadi perhatian karena partikel tersebut dapat masuk ke saluran pernapasan dan meningkatkan risiko Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
ISPU Kalbar 26 Agustus 2026: Pontianak Sangat Tidak Sehat
Data kualitas udara Kalimantan Barat pada 26 Agustus 2026 juga penting dipantau masyarakat. Data AQMS Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup pada 26 Agustus 2026 menunjukkan kualitas udara di sejumlah wilayah Kalimantan Barat berada pada kategori berbeda.
Kondisi terburuk tercatat di Stasiun Pontianak Tenggara dengan ISPU PM2,5 mencapai 214, masuk kategori sangat tidak sehat.
Pada stasiun pemantauan di Kelurahan Bangka Belitung Darat, Kecamatan Pontianak Tenggara, parameter kritis yang terpantau adalah PM2,5. Nilai ISPU 24 jam tercatat 214, dengan rata-rata 192.
Sementara itu, pemantauan di Kabupaten Sambas menunjukkan ISPU PM2,5 sebesar 119, masuk kategori tidak sehat. Di Kabupaten Kubu Raya, ISPU PM2,5 tercatat 90 atau kategori sedang.
Pemantauan lainnya menunjukkan ISPU PM2,5 di Kabupaten Sekadau dan Kabupaten Sintang masing-masing berada pada angka 55, juga dalam kategori sedang. Sedangkan Stasiun Bengkayang Sebalo mencatat ISPU PM2,5 sebesar 45, yang masuk kategori baik.
Data tersebut memperlihatkan bahwa kualitas udara di Kalimantan Barat pada 26 Agustus tidak seragam. Pontianak menjadi salah satu wilayah yang perlu mendapat perhatian karena nilai ISPU PM2,5 telah mencapai kategori sangat tidak sehat.
Masyarakat di wilayah dengan kualitas udara buruk perlu membatasi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan perlindungan yang sesuai. Kelompok rentan perlu mendapat perhatian lebih untuk mengurangi risiko paparan polutan.*
Editor : Uray RonaldSumber : Antara