PONTIANAK POST – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak cukup dihadapi dengan menunggu munculnya batuk atau sesak. Dua dokter mengingatkan masyarakat, terutama keluarga dengan anak, untuk mengurangi paparan asap sejak kualitas udara mulai memburuk.
Dokter spesialis anak dr. Rista Lestari, Sp.A., M.Sc., mengatakan anak menjadi kelompok yang perlu mendapat perhatian karena sistem pernapasannya masih berkembang. Aktivitas fisik yang tinggi juga membuat anak menghirup udara lebih banyak sehingga paparan polutan dapat meningkat.
“Asap kebakaran hutan dan lahan merupakan campuran berbagai partikel dan gas. Salah satu yang paling mendapat perhatian adalah PM2.5,” tulis Rista dalam pandangannya.
Partikel PM2.5 berukuran sangat kecil sehingga dapat masuk jauh ke saluran pernapasan. Paparan tersebut dapat memicu peradangan dan memperburuk gangguan pernapasan, termasuk gejala asma.
Menurut Rista, perlindungan anak tidak seharusnya menunggu sampai muncul keluhan. Ketika kualitas udara memburuk, aktivitas luar ruangan sebaiknya dikurangi atau dialihkan ke dalam ruangan.
Orang tua juga diminta memperhatikan kualitas udara, bukan sekadar melihat apakah langit tampak cerah. Informasi kualitas udara dan PM2.5 dari sumber resmi dapat menjadi dasar menentukan aktivitas anak.
“Perlindungan utama tetap dimulai dengan mengurangi paparan,” ujarnya.
Tiga Lapisan Perlindungan
Peringatan serupa disampaikan dokter spesialis paru dan pernapasan Dr. dr. Feni Fitriani Taufik, Sp.P(K), M.Pd.Ked. Ia membagi perlindungan terhadap dampak asap karhutla menjadi tiga tahap, yakni pencegahan primer, sekunder, dan tersier.
Pada tahap primer, masyarakat diminta mencegah paparan dengan menghindari aktivitas di luar rumah ketika konsentrasi asap tinggi. Jika terpaksa keluar, waktu aktivitas perlu dibuat sesingkat mungkin dengan perlindungan maksimal.
Masker, kacamata, dan pakaian yang menutup tubuh dapat digunakan sebagai perlindungan tambahan.
“Kalau pun harus keluar rumah, gunakan masker jenis apa pun tetap ada faktor perlindungannya dibanding tidak menggunakan masker sama sekali,” kata Feni kepada ANTARA di Jakarta, Rabu (26/8).
Saat berada di dalam rumah, pintu dan jendela disarankan ditutup untuk mengurangi masuknya asap. Namun, masyarakat juga diminta tidak menciptakan sumber polusi baru di dalam rumah.
Merokok, membakar sampah, menyalakan lilin, maupun menggunakan obat nyamuk bakar dapat meningkatkan konsentrasi polutan di dalam ruangan.
Pada pencegahan sekunder, masyarakat yang sudah terpapar perlu mengenali gejala dan memantau kondisi kesehatan. Jika keluhan tidak membaik, pemeriksaan ke dokter atau fasilitas kesehatan perlu segera dilakukan.
Sementara pencegahan tersier ditujukan kepada mereka yang sudah mengalami dampak kesehatan. Pengobatan dan obat tambahan perlu dilakukan sesuai anjuran dokter.
Anak Jangan Menunggu Batuk
Rista mengingatkan orang tua untuk tidak hanya memperhatikan apakah anak mengalami batuk. Perubahan pola pernapasan juga perlu menjadi perhatian.
Napas lebih cepat atau berat, tarikan dinding dada, sesak, mengi menetap, kesulitan makan atau minum akibat sesak, hingga bibir atau wajah kebiruan merupakan tanda yang membutuhkan pemeriksaan medis segera.
Anak dengan asma atau penyakit saluran pernapasan kronis juga membutuhkan perhatian lebih ketika kualitas udara memburuk.
Feni menambahkan pola hidup bersih dan sehat tetap penting selama periode kabut asap. Istirahat cukup, mengonsumsi makanan bergizi dan air putih, serta mengelola stres dapat membantu menjaga kondisi tubuh.
Keduanya menekankan bahwa kabut asap tidak semata persoalan lingkungan. Bagi masyarakat yang menghirupnya, terutama anak-anak dan kelompok rentan, kabut asap merupakan persoalan kesehatan.
Di tengah berulangnya karhutla di Kalimantan Barat, perlindungan terhadap kesehatan perlu dilakukan sebelum asap berubah menjadi keluhan dan penyakit.
Editor : Aristono Edi Kiswantoro