Pangkas Usia Harapan Hidup, Ini Cara Mencegah Polusi Udara di Dalam Rumah

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Sabtu, 29 Agustus 2026 | 01:21 WIB
Ilustrasi tanaman hias bernilai ekonomi di sudut rumah.
Ilustrasi indoor rumah.

 

PONTIANAK POST – Polusi udara bukan hanya persoalan kabut asap atau udara kotor yang terlihat mata. Paparan partikulat halus juga berkaitan dengan berkurangnya usia harapan hidup manusia.

Laporan Air Quality Life Index (AQLI) yang menggunakan data pada periode sebelumnya pernah memperkirakan rata-rata penduduk Indonesia dapat kehilangan 2,5 tahun usia harapan hidup apabila tingkat polusi partikulat tidak diturunkan hingga memenuhi pedoman kualitas udara WHO.

Angka tersebut perlu dibaca sebagai estimasi dampak paparan PM2.5 terhadap usia harapan hidup, bukan berarti setiap orang pasti meninggal 2,5 tahun lebih cepat.

Data AQLI terbaru yang menggunakan konsentrasi PM2.5 tahun 2023 memperkirakan dampaknya di Indonesia sebesar 1,3 tahun pada rata-rata penduduk, jika dibandingkan dengan kondisi ketika konsentrasi PM2.5 memenuhi pedoman WHO sebesar 5 mikrogram per meter kubik.

Polusi Udara Bukan Sekadar Masalah di Jalan

PM2.5 merupakan partikulat berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan.

AQLI menggunakan data konsentrasi PM2.5 dan menghubungkannya dengan hubungan antara paparan partikulat dan usia harapan hidup untuk memperkirakan dampaknya terhadap populasi.

Di Indonesia, hampir seluruh penduduk tinggal di wilayah dengan konsentrasi partikulat tahunan yang melebihi pedoman WHO. Dalam fact sheet AQLI 2025, sekitar 72,9 persen penduduk Indonesia disebut tinggal di wilayah dengan konsentrasi partikulat yang juga melampaui standar nasional 15 µg/m³.

Rumah Juga Bisa Menjadi Sumber Polusi

Persoalan kualitas udara tidak berhenti di luar rumah.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, Ristrini, mengingatkan bahwa aktivitas sehari-hari di dalam rumah dapat menghasilkan pencemaran udara.

Hal tersebut disampaikannya dalam webinar Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Menurut Ristrini, sumber pencemaran udara rumah tangga antara lain asap rokok, asap kendaraan bermotor, gas dapur, debu, bahan kimia dari produk rumah tangga, bahan bakar memasak, serta pembakaran sampah.

Aktivitas memasak, membersihkan debu, dan penggunaan produk kimia juga dapat meningkatkan pencemaran udara di dalam rumah.

“Sumber dan kegiatan penyebab pencemaran udara di rumah tangga adalah dari asap rokok, asap kendaraan bermotor, gas dapur, debu, bahan kimia dari produk rumah tangga, bahan bakar untuk masak, dan pengelolaan sampah rumah tangga. Adapun kegiatan yang menyebabkan peningkatan pencemaran udara di dalam rumah antara lain memasak, membersihkan debu, dan penggunaan produk kimia,” ujarnya dikutip dari website resmi BRIN.

Efeknya Sering Tidak Terasa Saat Itu Juga

Berbeda dengan asap tebal yang langsung membuat mata perih, sebagian dampak polusi udara dapat berlangsung tanpa gejala yang jelas pada awal paparan.

Ristrini menyebut pencemaran udara rumah tangga dapat menyebabkan iritasi mata, hidung, dan tenggorokan serta masalah pernapasan. Paparan juga dikaitkan dengan risiko penyakit serius, termasuk asma, bronkitis, hingga kanker.

Kelompok yang lebih rentan antara lain bayi, anak-anak, lanjut usia, dan orang dengan kondisi kesehatan tertentu.

Penelitian yang diterbitkan dalam Jurnal Teknologi Lingkungan juga menunjukkan bahwa PM2.5 dapat ditemukan di lingkungan rumah dan paparan dapat berbeda menurut lokasi serta aktivitas penghuni.

Dalam studi pada dua rumah, aktivitas dapur menjadi salah satu faktor yang memengaruhi konsentrasi PM2.5 di dalam rumah. Peneliti juga menemukan tingkat risiko yang berbeda berdasarkan durasi paparan.

Dapur Bisa Menjadi Titik Penting

Bagi keluarga yang setiap hari memasak, dapur menjadi salah satu area yang perlu diperhatikan.

Pembakaran bahan bakar untuk memasak dapat menghasilkan polutan. Karena itu, sirkulasi udara di area dapur perlu diperhatikan.

Ristrini menyarankan penggunaan peralatan pembakaran yang efisien dan memastikan gas atau hasil pembakaran tidak terakumulasi di dalam ruangan.

Gunakan jendela, ventilasi, atau exhaust fan untuk membantu mengeluarkan udara kotor dari area memasak.

Asap Rokok Jangan Masuk Rumah

Asap rokok merupakan salah satu sumber polusi yang paling mudah dikendalikan.

Caranya sederhana: jangan merokok di dalam rumah.

Membuka jendela setelah seseorang merokok juga bukan solusi untuk menghilangkan seluruh paparan. Karena itu, pencegahan terbaik adalah menghilangkan sumber asap dari ruang hunian.

Debu Jangan Dibersihkan dengan Cara yang Membuatnya Terbang

Membersihkan rumah memang penting, tetapi caranya juga perlu diperhatikan.

Ristrini menyarankan penggunaan penyedot debu atau lap basah untuk mengurangi debu di dalam rumah.

Cara tersebut membantu mengurangi kemungkinan debu kembali beterbangan ketika permukaan dibersihkan.

Perhatian lebih perlu diberikan pada kamar tidur, kasur, karpet, sofa, tirai, dan permukaan lain yang mudah menjadi tempat menumpuknya debu.

Jangan Membakar Sampah di Sekitar Rumah

Pembakaran sampah menghasilkan asap dan partikulat.

Selain mencemari udara luar, asap dapat masuk kembali ke rumah melalui jendela dan ventilasi.

Karena itu, Ristrini menyarankan masyarakat menghindari atau mengurangi pengelolaan sampah dengan cara dibakar.

Pastikan Rumah Memiliki Ventilasi

Rumah yang tertutup rapat tanpa pertukaran udara yang memadai dapat mengalami penumpukan polutan dari aktivitas di dalam ruangan.

Ventilasi alami dapat berupa jendela dan ventilasi atap. Ventilasi mekanis dapat menggunakan kipas atau exhaust fan untuk membantu mengeluarkan udara dari ruangan.

Namun, membuka jendela juga perlu disesuaikan dengan kondisi udara di luar.

Ketika udara luar sedang tercemar, misalnya akibat asap kebakaran hutan dan lahan, penghuni perlu memperhatikan informasi kualitas udara sebelum menentukan strategi ventilasi.

Peralatan Berbahan Bakar Juga Perlu Dirawat

Kompor gas, pemanas air, pemanggang, dan peralatan lain yang menggunakan bahan bakar harus dipelihara secara rutin.

Peralatan yang tidak berfungsi dengan baik dapat menghasilkan produk pembakaran yang berbahaya.

Karena itu, pastikan peralatan bekerja sesuai standar dan ruangan memiliki ventilasi yang memadai.

Perlukah Menggunakan Air Purifier?

Air purifier dengan filter HEPA dapat menjadi salah satu pilihan untuk membantu mengurangi partikulat di udara dalam ruangan.

Namun, alat tersebut bukan pengganti upaya menghilangkan sumber polusi.

Jika seseorang tetap merokok di dalam rumah atau memasak tanpa pengendalian asap, penggunaan purifier tidak menyelesaikan akar masalah.

Bagaimana dengan Tanaman Hias?

Tanaman hias seperti lidah mertua dan beberapa jenis palem sering disebut dapat membantu menyaring udara.

Ristrini juga menyebut tanaman tertentu dapat membantu menyaring udara dalam ruangan.

Namun, penghobi tidak seharusnya menjadikan tanaman sebagai pengganti ventilasi atau alat pemurni udara.

Penelitian mengenai kemampuan tanaman menyerap polutan dalam ruang tertutup tidak serta-merta berarti beberapa pot tanaman dapat membersihkan udara rumah dalam kondisi sehari-hari.

Perhatikan Kelembapan Rumah

Kualitas udara dalam ruangan juga berkaitan dengan kelembapan.

Ristrini mengingatkan agar kelembapan rumah tidak terlalu tinggi karena kondisi tersebut dapat mendukung pertumbuhan jamur dan tungau debu.

Jamur dan tungau dapat menjadi masalah terutama bagi penghuni yang sensitif terhadap alergen.

Karena itu, segera perbaiki kebocoran, keringkan area yang lembap, dan pastikan sirkulasi udara berjalan baik.

Dari 2,5 Tahun ke Kebiasaan Sehari-hari

Angka 2,5 tahun dari laporan AQLI terdahulu memberi gambaran mengenai besarnya konsekuensi paparan polusi partikulat dalam jangka panjang. Sementara data AQLI terbaru menunjukkan dampak rata-rata Indonesia telah berubah, tetapi polusi partikulat tetap menjadi salah satu ancaman eksternal penting terhadap usia harapan hidup.

Pesannya bukan bahwa setiap orang akan kehilangan jumlah tahun yang sama.

Dampaknya berbeda menurut tingkat paparan, lokasi, konsentrasi polusi, dan faktor lainnya.

Yang bisa dilakukan masyarakat adalah mengurangi paparan sejak dari lingkungan yang paling dekat: rumah.

Mulai dari tidak merokok di dalam rumah, mengendalikan asap dapur, membersihkan debu dengan cara yang tepat, tidak membakar sampah, merawat peralatan berbahan bakar, hingga memastikan ventilasi bekerja dengan baik.

FAQ: Polusi Udara di Dalam Rumah

Apakah rumah otomatis memiliki udara yang lebih bersih daripada luar ruangan?
Tidak selalu. Aktivitas seperti memasak, merokok, penggunaan bahan kimia, dan pembakaran dapat menjadi sumber polusi di dalam rumah.

Apa sumber polusi udara rumah yang paling mudah dikurangi?
Tidak merokok di dalam rumah dan menghindari pembakaran sampah merupakan dua langkah yang dapat dilakukan langsung.

Apakah membuka jendela selalu membuat udara lebih sehat?
Tidak selalu. Kondisi udara luar perlu dipertimbangkan, terutama ketika terjadi kabut asap atau episode polusi tinggi.

Apakah tanaman hias dapat membersihkan udara rumah?
Tanaman dapat menjadi pelengkap, tetapi tidak seharusnya menggantikan ventilasi, pengendalian sumber polusi, atau sistem filtrasi udara.

Apa yang paling penting dilakukan terlebih dahulu?
Kurangi sumber polusi. Setelah itu, pastikan ventilasi dan sirkulasi udara memadai serta gunakan filtrasi udara bila memang diperlukan.

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
ventilasi rumah polusi udara dalam rumah kualitas udara dalam ruangan Usia Harapan Hidup polusi udara