Asap Kebakaran Makin Tebal, Dokter Ungkap Masker yang Bisa Bantu Kurangi Paparan

Khoiril Arif Ya'qob • Dipublikasikan Rabu, 2 September 2026 | 13:07 WIB
ILUSTRASI: anak-anak pergi ke sekolah di tengah kondisi asap karhutla (PEKANBARU)
ILUSTRASI: anak-anak pergi ke sekolah dengan memakai masker di tengah kondisi asap karhutla (PEKANBARU)

PONTIANAK POST - Dokter Spesialis Paru sekaligus Subspesialis Onkologi Toraks MRCCC Siloam Semanggi, dr. Linda Masniari, SpP(K), mengatakan penggunaan masker tidak dapat menangkal paparan asap hingga 100 persen.

Namun, penggunaan masker tetap dapat memberikan pengurangan terhadap paparan asap, terutama ketika masyarakat berada di tengah kondisi udara yang dipenuhi asap akibat kebakaran hutan dan lahan.

“Kalau untuk menangkal 100 persen tidak bisa ya, tapi paling tidak ada sedikit pengurangan. Kalau misalnya mau, itu ya paling pakai yang waktu kita COVID dulu, pakai yang masker N95,” kata Linda dikutip dari Antara (1/9).

Baca Juga: 350 Umat Muslim Singkawang Gelar Salat Istisqa, Berharap Hujan Turun di Tengah Kabut Asap Karhutla

N95 Disebut sebagai Pilihan

Linda menyebut masker N95 sebagai jenis masker yang dapat digunakan ketika menghadapi paparan asap. Masker tersebut juga mengingatkan pada perlindungan yang digunakan masyarakat saat pandemi COVID-19.

Meski demikian, Linda menegaskan masker tidak memberikan perlindungan sepenuhnya dari paparan asap.

Menurut dia, asap memiliki partikel berukuran sangat kecil, yakni di bawah 0,5 mikron. Partikel tersebut dapat masuk ke saluran pernapasan dan mencapai bagian paru yang lebih dalam.

“Karena asap kan ukurannya di bawah 0,5 mikron ya, jadi dia bisa masuk ke paru dan bisa mengendap di alveol,” ujarnya.

Baca Juga: 105 Hektare Lahan Terbakar, Karhutla di Sungai Baru Sambas Masih Membara hingga Malam Hari

Paparan Asap Perlu Diwaspadai

Linda mengatakan paparan asap dapat berasal dari berbagai sumber, mulai dari kebakaran hutan dan lahan, pembakaran sampah, asap rokok, hingga emisi kendaraan bermotor.

Paparan asap dengan konsentrasi tinggi, menurut dia, dapat menyebabkan gangguan paru akut. Sementara paparan yang berlangsung lama dapat meningkatkan risiko gangguan paru hingga kanker paru.

Ia juga menyebut paparan asap akibat kebakaran dapat menyebabkan bronkitis dan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK).

Karena itu, ketika terjadi paparan asap, Linda menyarankan penggunaan masker N95 sebagai salah satu upaya untuk mengurangi paparan, meskipun tidak dapat menangkalnya secara keseluruhan.

Baca Juga: Dokter Paru Ungkap 3 Langkah Kurangi Risiko Kesehatan akibat Paparan Asap Karhutla

Editor : Khoiril Arif Ya'qob
paparan asap masker N95 asap karhutla masker