PONTIANAK POST - Produk fermentasi kerap dikaitkan dengan keberadaan bakteri baik.
Padahal, makanan atau minuman yang melalui proses fermentasi tidak otomatis dapat disebut sebagai probiotik.
Dilansir dari Jawapos, Guru Besar Botani Farmasi dan Farmakognosi Fakultas Farmasi Universitas Airlangga, Prof Dr Apt Mangestuti Agil MS, menjelaskan cuka apel menjadi salah satu contoh bahwa produk fermentasi tidak selalu harus dilihat dari keberadaan probiotiknya.
Baca Juga: Tak Perlu Obat! Cuka Apel Bisa Bantu Turunkan Kolesterol, Ini Cara Aman Konsumsinya Menurut Menkes
Dari Apel Menjadi Cuka
Cuka apel dibuat dari buah apel yang dihancurkan kemudian difermentasi dengan penambahan ragi.
Dalam proses tersebut, fermentasi menghasilkan alkohol. Alkohol kemudian dipecah oleh bakteri menjadi asam asetat.
Asam asetat inilah yang menimbulkan bau dan rasa khas pada cuka.
Baca Juga: Ayam Panggang Madu Apel, Menu Praktis Satu Wajan yang Bikin Makan Malam Lebih Nikmat
Selain asam asetat, cuka apel juga memiliki kandungan vitamin, mineral, serta zat polifenol sebagai antioksidan dalam jumlah sedikit.
Tidak Semua Fermentasi Berarti Probiotik
Pemahaman mengenai perbedaan makanan fermentasi dan probiotik menjadi penting karena keduanya tidak selalu sama.
Probiotik merupakan bakteri baik yang tergabung dalam kumpulan mikroorganisme yang hidup di tubuh, termasuk usus dan permukaan tubuh atau kulit.
Baca Juga: Ini Daftar Makanan Prebiotik Alami yang Baik untuk Menjaga Kesehatan Usus
Kumpulan mikroorganisme tersebut membentuk komunitas yang disebut mikrobiom. Di dalamnya terdapat bakteri, virus, dan jamur yang bekerja sama secara baik dan seimbang.
Produk atau makanan disebut probiotik apabila mengandung bakteri hidup yang secara ilmiah telah terbukti memiliki manfaat kesehatan dalam dosis tertentu.
Contohnya adalah Lactobacillus, Bifidobacterium, dan Saccharomyces species.
Fermentasi Tidak Otomatis Menghasilkan Probiotik
Probiotik dapat ditemukan dalam suplemen, makanan yang difortifikasi probiotik, maupun makanan fermentasi tertentu seperti yoghurt dan kefir yang mengandung varian bakteri yang memenuhi persyaratan probiotik.
Baca Juga: Air Beras Fermentasi Berpotensi Menjaga Keseimbangan Bakteri Baik di Usus
Sebaliknya, produk probiotik yang mengandung varian mikroba khusus dan dikemas dalam kapsul tidak berasal dari proses fermentasi konvensional.
Karena itu, tidak semua makanan fermentasi adalah probiotik. Begitu pula, tidak semua probiotik merupakan makanan fermentasi.
Produk fermentasi seperti minuman beer dan roti yang dibuat melalui proses pemanasan atau penyaringan kebanyakan tidak lagi mengandung varian bakteri spesifik yang memiliki manfaat kesehatan.
Baca Juga: Guru Besar Unair Ungkap Hubungan Bakteri Usus dengan Suasana Hati Manusia
Produk tersebut memang dapat mengandung mikroba hidup, tetapi belum tentu termasuk probiotik.
Pemahaman tersebut membuat cuka apel menjadi contoh bahwa proses fermentasi dan keberadaan probiotik merupakan dua hal yang perlu dibedakan. (*)
Editor : Chairunnisya