PONTIANAK POST - Merencanakan kehamilan berikutnya bukan hanya soal kesiapan mental dan keinginan menambah anggota keluarga.
Kondisi tubuh ibu setelah persalinan juga perlu mendapat perhatian, termasuk memberikan jeda yang cukup sebelum kembali hamil.
Dokter spesialis kebidanan dan kandungan sekaligus konselor laktasi, dr Evania Nita Oetama SpOG MKedKlin CBC, menjelaskan bahwa secara umum jarak kehamilan yang dianjurkan adalah 18–24 bulan sebelum ibu kembali hamil.
Baca Juga: Edukasi 1000 Hari Pertama Kehidupan Buktikan Tingkatkan Pengetahuan Ibu Hamil di Pontianak
World Health Organization (WHO) merekomendasikan jeda setidaknya 24 bulan setelah kelahiran hidup.
Sementara itu, American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) menyarankan menghindari jarak antarkehamilan kurang dari enam bulan serta memberikan konseling mengenai manfaat dan risiko jika kehamilan terjadi sebelum 18 bulan.
Cara Menghitung Jarak Kehamilan
Baca Juga: Kurma untuk Ibu Hamil, Benarkah Bisa Membantu Mempercepat Proses Persalinan?
Evania menjelaskan, masih ada anggapan bahwa jarak kehamilan dihitung dari satu persalinan ke persalinan berikutnya. Padahal, patokan yang digunakan berbeda.
’’Yang perlu diperhatikan, istilah jarak kehamilan biasanya dihitung dari persalinan sampai terjadinya kehamilan berikutnya, bukan dari persalinan pertama sampai persalinan berikutnya,’’ jelas konselor laktasi ini, dikutip dari Jawapos.
Dengan pemahaman tersebut, pasangan dapat memperhitungkan waktu secara lebih tepat ketika mulai merencanakan kehamilan berikutnya.
Memberi Waktu Tubuh untuk Pulih
Setelah melahirkan secara normal, tubuh ibu membutuhkan waktu untuk memulihkan kondisi fisik, cadangan nutrisi, serta kesehatan reproduksi.
Baca Juga: Irish Bella Hamil Setelah Berulang Kali Program Bayi Tabung, Berhasil di Kuala Lumpur
Karena itu, memberikan jeda sebelum kehamilan berikutnya menjadi salah satu hal yang perlu dipertimbangkan pasangan.
Jarak tersebut memberikan kesempatan bagi ibu untuk mempersiapkan kembali kondisi tubuh sebelum menjalani kehamilan.
Meski demikian, Evania menekankan bahwa jarak kehamilan tidak dapat dijadikan satu-satunya patokan.
Kondisi setiap ibu berbeda sehingga kesiapan untuk kehamilan berikutnya tetap perlu dilihat secara individual.
Baca Juga: Pengabmas Kebidanan Berikan Edukasi Pocket Book Digital Kepada Ibu Hamil Untuk Cegah Stunting
Tidak Sekadar Mengejar Angka
Jarak kehamilan ideal bukan berarti setiap ibu harus mengikuti angka yang sama tanpa mempertimbangkan kondisi pribadi.
Kesiapan tubuh dan keadaan kesehatan tetap menjadi bagian penting dalam menentukan waktu yang tepat.
Baca Juga: Memilih Alat Kontrasepsi Sesuai Usia, Kondisi, Risiko, hingga Program Hamil
Dengan demikian, pasangan sebaiknya tidak hanya berfokus pada hitungan bulan, tetapi juga memperhatikan kondisi ibu setelah persalinan sebelum memutuskan kembali menjalani kehamilan. (*)
Editor : Chairunnisya