PONTIANAK POST - Menentukan waktu untuk kembali hamil membutuhkan pertimbangan yang matang.
Jarak antarkehamilan menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan karena kehamilan yang terjadi terlalu cepat dapat meningkatkan sejumlah risiko bagi ibu dan bayi.
Dokter spesialis kebidanan dan kandungan sekaligus konselor laktasi, dr Evania Nita Oetama SpOG MKedKlin CBC, mengatakan kehamilan yang terjadi terlalu cepat dapat meningkatkan risiko anemia pada ibu, kelahiran prematur, dan berat badan lahir rendah.
Baca Juga: Edukasi 1000 Hari Pertama Kehidupan Buktikan Tingkatkan Pengetahuan Ibu Hamil di Pontianak
Jarak Pendek Bukan Satu-satunya Faktor
Meski jarak antarkehamilan penting, Evania menegaskan bahwa kondisi kehamilan tidak ditentukan oleh faktor tersebut saja.
’’Faktor lain seperti usia ibu, anemia, status gizi, hipertensi, diabetes, riwayat prematur, kondisi plasenta, serta riwayat operasi juga sangat berpengaruh,’’ terang dokter yang juga praktik di RSU Amanah Probolinggo, dikutip Jawapos.
Baca Juga: Pernah Operasi Caesar? Ini Pertimbangan Dokter Sebelum Kehamilan Berikutnya
Artinya, penilaian terhadap kehamilan perlu melihat kondisi ibu secara lebih menyeluruh. Faktor kesehatan yang sudah dimiliki sebelum hamil juga dapat berpengaruh terhadap perjalanan kehamilan.
Jeda Terlalu Panjang Juga Perlu Diperhatikan
Perhatian bukan hanya diberikan pada kehamilan yang terjadi terlalu cepat. Jeda yang terlalu panjang antarkehamilan juga perlu dipertimbangkan.
Beberapa penelitian menunjukkan interval lebih dari lima hingga sepuluh tahun bisa meningkatkan risiko luaran kehamilan yang kurang baik.
’’Usia ibu, kondisi kesehatan, kesuburan, serta riwayat kehamilan sebelumnya tetap perlu diperhatikan. Karena itu, patokan utamanya bukan lama atau cepat, melainkan menemukan waktu yang paling sesuai dengan kondisi ibu dan keluarga,’’ ujar Evania.
Baca Juga: Berapa Lama Jarak Ideal Kehamilan? Berikut Penjelasan Dokter untuk Pasangan
Tidak Perlu Panik Jika Hamil Lebih Cepat
Kehamilan yang terjadi sebelum jarak yang dianjurkan tidak otomatis berarti kehamilan tersebut akan bermasalah.
Evania mengingatkan pasangan agar tidak langsung panik apabila kehamilan terjadi lebih cepat.
’’Jarak kehamilan ideal bukan untuk menakut-nakuti ibu agar tidak hamil, tetapi untuk memberikan kesempatan bagi tubuh ibu untuk pulih dan memberikan kondisi yang lebih optimal bagi kehamilan berikutnya,’’ ucapnya.
Karena itu, jarak antarkehamilan sebaiknya dipahami sebagai salah satu pertimbangan dalam merencanakan kehamilan, bukan sebagai satu-satunya penentu risiko. (*)
Editor : Chairunnisya