PONTIANAK POST — Seorang perempuan berusia 47 tahun terbaring di meja operasi RSCM Kencana, Jakarta, Minggu (6/9). Pada saat bersamaan, dokter mengendalikan robot bedah dari Bali, terpisah jarak sekitar seribu kilometer dari pasien.
RSCM menyebut tindakan tersebut sebagai tele-robotic surgery pertama di Indonesia dalam bidang ginekologi. Teknologi itu memungkinkan dokter menggerakkan instrumen bedah dari lokasi berbeda melalui konsol dan jaringan komunikasi.
Operasi tersebut disiarkan langsung dalam Asia Pacific Association for Gynecologic Surgery 26th Annual Meeting dan Indonesian Gynecological Endoscopy Society 13th Annual Meeting di Jimbaran Convention Center, Bali.
Di balik demonstrasi teknologi itu, ada pasien yang selama beberapa waktu menghadapi perdarahan di luar siklus menstruasi. Kondisi tersebut bukan hanya mengganggu aktivitasnya, tetapi juga menurunkan kualitas hidup.
“Pasien terganggu, baik karena volume darah yang keluar maupun kualitas hidupnya menurun,” kata anggota tim tele-robotic surgery RSCM, dr. Riyan Hari Kurniawan Sp.OG, Kamis (10/9).
Perlengketan Menutupi Rahim
Kondisi pasien menjadi lebih kompleks karena mengalami obesitas tingkat II dan memiliki riwayat operasi. Ia pernah menjalani operasi sesar serta laparoskopi untuk pemasangan mesh akibat hernia dinding perut.
Riyan mendampingi pasien secara langsung di Jakarta selama operasi. Tim medis di lokasi tetap disiagakan untuk memantau kondisi pasien dan mendukung dokter yang mengendalikan instrumen robotik dari Bali.
Saat pembedahan berlangsung, tim menemukan perlengketan jaringan. Perlengketan itu harus dibebaskan terlebih dahulu sebelum instrumen dapat mencapai rahim.
Setelah jaringan berhasil diuraikan, tim melakukan histerektomi atau pengangkatan rahim. Tindakan tersebut dipilih setelah mempertimbangkan kondisi klinis dan riwayat pengobatan pasien.
Operasi Bukan Pilihan Pertama
Menurut Riyan, pasien dengan perdarahan abnormal tidak serta-merta diarahkan menjalani operasi. Dokter terlebih dahulu mempertimbangkan penanganan nonoperatif.
“Pemilihan penanganan itu nonoperatif dulu. Misalnya, kita kasih obat-obatan untuk menghentikan perdarahan atau menstruasinya,” ujarnya.
Tindakan bedah dipertimbangkan apabila pengobatan tidak memberikan respons yang diharapkan. Pilihannya meliputi operasi terbuka, laparoskopi, dan pembedahan menggunakan teknologi robotik.
Metode yang digunakan bergantung pada kondisi pasien, tingkat kesulitan kasus, kemampuan tim medis, serta fasilitas rumah sakit. Operasi robotik juga tidak otomatis menjadi pilihan untuk semua pasien.
Pada kasus ini, pasien telah memiliki anak dan berada pada usia menjelang menopause. Ia juga menginginkan penanganan yang lebih menyeluruh, sedangkan fasilitas bedah robotik tersedia di RSCM.
“Minimal invasif tercapai, presisinya bagus, dan kebetulan alatnya di rumah sakit kami ada. Jadi, semuanya mendukung, cocok untuk robotik,” kata Riyan.
Dua Hari Setelah Operasi, Pulang
Pendekatan minimal invasif membantu memperpendek masa pemulihan pasien. Operasi dilakukan pada Minggu pagi dan pasien diperbolehkan pulang pada Selasa pagi.
Sehari setelah operasi, pasien sudah dapat berjalan seperti biasa. Tim medis tetap memberikan pemantauan dan petunjuk perawatan lanjutan setelah kepulangan.
Masa rawat setiap pasien dapat berbeda. Keputusan pulang ditentukan berdasarkan kondisi klinis, respons tubuh setelah operasi, serta hasil evaluasi dokter.
Peluang Tangani Kasus Kompleks
Riyan menilai teknologi robotik membuka peluang untuk menangani berbagai kasus ginekologi kompleks. Di antaranya endometriosis serta kasus tertentu dalam bidang onkologi ginekologi.
Teknologi tersebut juga tidak dibatasi untuk kelompok usia tertentu. Namun, pemilihan pasien harus dilakukan secara cermat berdasarkan manfaat dan risikonya.
Robot tidak bekerja dan mengambil keputusan secara mandiri. Setiap gerakan instrumen tetap dikendalikan dokter, sedangkan tim medis berada di dekat pasien untuk melakukan pengawasan langsung.
“Keberhasilan tindakan tetap bergantung pada pemilihan pasien, kemampuan tim medis, kesiapan fasilitas, dan konektivitas yang mendukung,” katanya.
Dalam operasi jarak jauh, kestabilan jaringan menjadi bagian penting karena perintah dokter harus diteruskan menuju perangkat robotik secara cepat dan akurat. Kesiapan tim di lokasi pasien juga dibutuhkan untuk mengantisipasi gangguan teknis atau kondisi darurat.
Memperluas Pilihan Bedah
Direktur Perencanaan dan Pengembangan Strategi Layanan RSCM, dr. Bobi Prabowo Sp.Em, mengatakan bedah robotik ginekologi merupakan bagian dari transformasi layanan rumah sakit.
“Pengembangan bedah robotik di bidang ginekologi menjadi langkah penting bagi RSCM dalam memperluas pilihan layanan bedah berteknologi tinggi bagi masyarakat,” ujarnya.
Pencapaian tersebut menunjukkan bahwa jarak fisik mulai dapat dijembatani teknologi. Namun, keselamatan pasien tetap ditentukan oleh kompetensi dokter, keandalan jaringan, kesiapan peralatan, dan keberadaan tim medis di ruang operasi.
Editor : Aristono Edi Kiswantoro