Oleh: Haryanto
Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan bukan hanya persoalan jarak pandang, batuk, atau sesak napas. Bagi masyarakat yang hidup dengan diabetes, terutama mereka yang sudah mengalami luka kaki diabetik, kabut asap perlu dipandang sebagai salah satu kondisi lingkungan yang dapat meningkatkan risiko kesehatan secara lebih luas.
LUKA KAKI diabetik merupakan salah satu komplikasi diabetes yang memerlukan perhatian serius. Penyembuhannya dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain kadar gula darah, kondisi pembuluh darah, infeksi, neuropati, status nutrisi, tekanan pada kaki, serta kondisi luka itu sendiri. Kajian ilmiah yang diterbitkan pada beberapa jurnal melaporkan menunjukkan bahwa kontrol glikemik yang buruk, gangguan vaskular, infeksi, dan faktor lainnya dapat berkontribusi terhadap buruknya luaran luka kaki diabetik (Kim J, 2023; Hse L, 2023; Lane KL, 2020).
Lalu, apa hubungannya dengan kabut asap? Partikel halus yang tidak boleh dianggap sepele.
Kabut asap kebakaran mengandung berbagai polutan, terutama particulate matter (PM), termasuk PM2.5, karbon monoksida, nitrogen oksida, serta berbagai senyawa organik. Partikel PM2.5 berukuran sangat kecil sehingga dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan dan memicu respons inflamasi sistemik. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) juga memasukkan diabetes sebagai salah satu kondisi kronis yang membuat seseorang perlu lebih berhati-hati saat terpapar asap kebakaran.
Yang menarik, hubungan antara asap kebakaran dan diabetes bukan sekadar dugaan. Sebuah penelitian internasional yang diterbitkan pada Jurnal Diabetes Care, Juli 2024 yang menganalisis lebih dari 3,6 juta kejadian rawat inap diabetes di berbagai negara (Australia, Brasil, Kanada, Cili, Selandia Baru, Thailand, dan Taiwan) menemukan bahwa peningkatan paparan PM2.5 yang berasal dari kebakaran berkaitan dengan peningkatan risiko rawat inap akibat diabetes. Untuk setiap peningkatan 10 µg/m³ PM2.5 dari kebakaran pada periode hari berjalan hingga tiga hari sebelumnya, terdapat peningkatan risiko rawat inap diabetes tipe 2.
Namun, penelitian tersebut belum dapat membuktikan bahwa kabut asap secara langsung menyebabkan atau memperburuk luka kaki diabetik. Penelitian ini juga memiliki keterbatasan karena hanya mencakup tujuh negara dan menggunakan estimasi paparan pada tingkat lokasi, bukan pengukuran paparan secara individual. Namun, temuan adanya hubungan antara PM2.5 akibat kebakaran hutan dan peningkatan risiko rawat inap karena diabetes memberikan alasan yang kuat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kelompok rentan, termasuk penderita diabetes yang telah mengalami komplikasi kaki.
Temuan tersebut memberikan pesan penting: kabut asap dapat menjadi beban tambahan bagi orang yang sudah hidup dengan diabetes.
Bagaimana dengan luka kaki? Di sinilah persoalannya menjadi lebih kompleks. Kita belum dapat mengatakan bahwa PM2.5 dari kabut asap secara langsung menyebabkan luka kaki diabetik atau secara langsung membuat luka semakin parah. Namun, terdapat alasan biologis dan epidemiologis untuk memberikan perhatian khusus pada penderita diabetes yang mengalami luka.
Diabetes dapat menyebabkan gangguan pada pembuluh darah kecil dan besar, neuropati, gangguan imunitas, serta gangguan proses penyembuhan. Ketika tubuh menghadapi stres tambahan akibat paparan polusi udara dan inflamasi, kondisi tersebut berpotensi memperberat beban fisiologis pasien. Bahkan, penelitian terbaru yang diterbitkan di Jurnal Internasional Diabetes Research and Clinical Practice, Desember 2025 menunjukkan adanya hubungan antara paparan PM2.5 dan komplikasi mikrovaskular tertentu. Meskipun penelitian tersebut belum secara khusus membuktikan hubungan sebab-akibat dengan penyembuhan luka kaki, temuan ini memperkuat alasan untuk berhati-hati terhadap paparan polusi udara pada kelompok dengan komplikasi diabetes.
Lebih spesifik lagi, sebuah studi populasi berskala besar di Korea Selatan yang melibatkan 347.543 kasus meneliti hubungan kualitas udara dengan kejadian kaki diabetik dan amputasi. Hasilnya menunjukkan adanya hubungan antara beberapa parameter kualitas udara dengan risiko kejadian kaki diabetik dan amputasi. Penelitian ini belum membuktikan bahwa kabut asap menyebabkan luka kaki, tetapi memberikan sinyal bahwa kualitas udara merupakan faktor lingkungan yang layak diperhitungkan dalam kesehatan kaki penderita diabetes (International Journal of Environmental Research and Public Health, Juni 2024).
Berdasarkan beberapa hasil penelitian di atas, muncul beberapa pertanyaan, yaitu: 1) Apakah sudah ada penelitian yang sama di Indonesia terkait dampak asap kebakaran terhadap peningkatan rawat inap pada penderita diabetes? 2) Apakah sudah ada data tentang beberapa penderita DM, termasuk kejadian luka kaki diabetik, yang dirawat inap dalam beberapa bulan sejak kejadian karhutla sampai saat ini? Dua pertanyaan ini harus ditindaklanjuti agar dapat mengantisipasi dampak lebih lanjut
Jangan hanya mengontrol gula darah, perhatikan lingkungan
Selama ini, edukasi bagi penderita diabetes dengan luka kaki lebih banyak berfokus pada kontrol gula darah, perawatan luka, penggunaan alas kaki, pemeriksaan kaki, nutrisi, pencegahan infeksi, serta kontrol rutin. Semua itu tetap sangat penting.
Namun, dalam menghadapi perubahan lingkungan dan semakin seringnya episode kebakaran hutan dan lahan, kita perlu memperluas perspektif. Perawatan luka kaki diabetik tidak boleh hanya berbicara tentang apa yang terjadi di dalam tubuh pasien, tetapi juga apa yang terjadi di lingkungan tempat pasien hidup.
Penderita diabetes dengan luka kaki sebaiknya mendapatkan perhatian lebih saat kualitas udara memburuk. Mereka perlu mengurangi aktivitas di luar ruangan saat kabut asap pekat, menggunakan perlindungan pernapasan yang sesuai, menjaga hidrasi, tetap mengonsumsi obat dan makanan sesuai anjuran, serta memantau kadar gula darah secara teratur.
Yang tidak kalah penting, kaki harus tetap diperiksa setiap hari.
Perhatikan apakah terdapat perubahan warna kulit, peningkatan kemerahan, pembengkakan, bau, cairan dari luka, jaringan yang berubah warna, atau peningkatan nyeri. Pada pasien dengan neuropati, tidak adanya rasa sakit tidak berarti luka aman. Justru hilangnya sensasi dapat membuat luka berkembang tanpa disadari.
Kabut asap adalah masalah kesehatan, bukan sekadar masalah lingkungan
Kebakaran hutan dan lahan sering kali dibicarakan dari perspektif lingkungan: kerusakan hutan, hilangnya keanekaragaman hayati, gangguan transportasi, dan menurunnya kualitas udara. Namun, perspektif kesehatan masyarakat perlu diperluas.
Kabut asap merupakan persoalan kesehatan yang dapat memengaruhi kelompok rentan secara tidak proporsional. Penderita diabetes, terutama mereka yang sudah mengalami neuropati, penyakit pembuluh darah perifer, atau luka kaki diabetik, merupakan kelompok yang memerlukan perhatian khusus.
Ada beberapa hal yang harus ditindaklanjuti agar dapat mengantisipasi dampak lebih lanjut pada penderita diabetes, baik yang sudah terdapat luka maupun belum, yaitu: 1) Melakukan penelitian terkait dampak asap kebakaran terhadap peningkatan rawat inap pada penderita diabetes baik skala lokal maupun nasional; 2) Melakukan pendataan pada penderita DM yang sudah terdapat luka maupun tidak yang dirawat inap dalam beberapa bulan sejak kejadian karhutla sampai saat ini.
Selain itu, penanganan jangka pendeknya adalah ketika indeks kualitas udara memburuk, pesan kepada masyarakat tidak cukup hanya berbunyi “gunakan masker dan kurangi aktivitas di luar rumah.” Bagi penderita diabetes dengan luka kaki, pesan tersebut harus diperluas menjadi:
“Lindungi pernapasan, kendalikan gula darah, dan jangan abaikan kaki.”
Pada akhirnya, pencegahan komplikasi kaki diabetik bukan hanya tugas penderita dan tenaga kesehatan. Pemerintah, masyarakat, keluarga, serta pengelola lingkungan harus bekerja sama untuk menciptakan lingkungan yang lebih sehat. Kabut asap mungkin tidak terlihat sebagai penyebab langsung luka kaki diabetik. Tetapi bagi tubuh yang sudah berjuang melawan diabetes dan luka kronis, setiap tambahan beban kesehatan dapat menjadi sesuatu yang tidak boleh kita abaikan.
Penulis: Dosen Keperawatan Institut Teknologi dan Kesehatan Muhammadiyah Kalimantan Barat dan Ketua Balitbang DPP Persatuan Perawat Nasional Indonesia
Editor : Salman Busrah