Tolong Sembako Tak Bisa Masuk
KETAPANG - Banjir masih merendam sebagian wilayah di Ketapang. Kecamatan Jelai Hulu menjadi daerah yang terdampak banjir paling parah. Bahkan, hingga saat ini masih ada beberapa desa di Jelai Hulu yang terisolir dan lumpuh total. Kepala Desa Asam Jelai, Kecamatan Jelai Hulu, Joni, mengatakan desanya terendam banjir sudah hampir dua pekan. Desanya menjadi salah satu daerah yang paling parah terdampak banjir. "Ketinggian air di badan jalan kemarin 5 sampai 6 meter. Di halaman rumah 4 - 5 meter, dan di dalam rumah ada yang sampai 4,5 meter," katanya, Kamis (20/10).
Dia menjelaskan, banjir di desanya merendam seluruh rumah warga yang berjumlah 197 rumah. Terdiri dari 254 kepala keluarga dan 826 jiwa. Desanya pun lumpuh dan masyarakat tidak bisa beraktivitas. "Masyarakat Asam Jelai lumpuh total. Kerugian masyarakat cukup banyak," jelas Joni.
Joni mengungkapkan, sebagian warganya masih bertahan di tenda-tenda pengungsian yang dibangun di daerah perbukitan. Sebagian warga yang memiliki rumah dua tingkat, bertahan di rumahnya. "Saat ini banjir sudah tidak separah beberapa hari yang lalu, tetapi masih saja ketinggian air di atas 1 meter," ungkapnya.
Dia berharap banjir segera surut dan masyarakat bisa kembali kerumah masing-masing dan menjalankan aktivitas seperti biasa. Dia juga berharap warganya bisa mendapatkan bantuan. "Bantuan banyak, tapi tidak bisa sampai ke Desa Asam Jelai semaunya, karena akses darat masih terendam. Satu-satunya akses adalah melewati sungai. Warga sudah mulai kekurangan sembako dan lain-lain," pungkasnya.
Warga Desa Asam Jelai sangat membutuhkan bantuan, baik untuk kebutuhan makanan sehari-hari, maupun bantuan alat transportasi untuk evakuasi. Selain kebutuhan sembako, warga juga membutuhkan peralatan untuk memasak, seperti gas elpiji. "Kalau listrik sudah mati total sejak beberapa hari lalu," paparnya.
Joni mengatakan, kendala yang dihadapi warga saat ini yakni sulitnya mendapatkan elpiji untuk memasak, keterbatasan ketersediaan sembako dikarenakan toko tutup karena barang-barang terendam banjir. "Kami juga mengalami keterbatasan fasilitas untuk pengungsian dan tidak adanya perahu untuk evakuasi warga," ujarnya.
Selain itu, jauhnya jarak desa puskesmas, dan sulitnya evakuasi masyarakat pada malam hari dikarenakan tidak adanya PLN, termasuk untuk komunikasi karena jaringan internet terputus. "Kadang-kadang kesal juga, karena bantuan tidak sampai ke desa saya. Sedangkan desa saya 100 persen tenggelam total," lanjutnya.
"Hari ini ada salah satu warga harus melahirkan di tempat pengungsian. Tanggal 15 kemarin juga saya harus evakuasi bayi saya ke puskesmas menggunakan speed milik BPBD. Pada tanggal 16, bayi saya harus dirujuk ke Kota Ketapang menggunakan ambulans perusahaan," tambah Joni. (afi) Editor : Misbahul Munir S