Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Cerita Perempuan yang Terancam Tambang di Pulau Gelam

Heriyanto • Senin, 26 Februari 2024 | 14:26 WIB

MENCARI IKAN : Neka (baju merah) bersama suaminya, Salmin (paling depan) mencari ikan di sekitar Pulau Gelam. Pulau kecil di Kendawangan tersebut kita terancam tambang pasir kuarsa. /Victor Fidelis
MENCARI IKAN : Neka (baju merah) bersama suaminya, Salmin (paling depan) mencari ikan di sekitar Pulau Gelam. Pulau kecil di Kendawangan tersebut kita terancam tambang pasir kuarsa. /Victor Fidelis

Pulau Gelam adalah aset berharga bagi para nelayan kecil di Kecamatan Kendawangan, Kabupaten Ketapang. Tidak terkecuali bagi nelayan perempuan yang mencari penghidupan di sekitar perairan pulau kecil tersebut. Namun, sumber pencarian mereka tersebut kini terancam.

SITI SULBIYAH, Kendawangan

Matahari masih mengintip di balik tirai malam ketika Neka (40) bangun dari tidurnya yang lelap. Kokok ayam membuat tersadar bahwa ia harus bersegera bersiap. Sementara suami dan anak laki-lakinya masih tampak tertidur pulas.

Hari itu, warga Pulau Cempedak, Desa Kendawangan Kiri, Kabupaten Ketapang tersebut akan mencari ikan menemani suaminya. Sejak subuh ia tampak sibuk dengan urusan dapur guna menyiapkan bekal. Mulai dari memasak nasi, menggoreng ikan, dan membuat sambal cabe hijau. Tak lupa juga menyiapkan kopi siap seduh. Ini menu wajib yang harus dibawa saat melaut.

“Kalau kita nggak sarapan nasi, (sarapannya) cukup kopi,” tutur Neka, sembari menuangkan nasi ke dalam rantang saat ditemui di rumahnya di Pulau Cempedak, November 2023 lalu.  

Sekitar pukul 05.30 WIB, Salmin, suami Neka bangun bersama seorang anaknya yang masih berusia balita. Segelas kopi ditemani rokok bagi Salmin cukup untuk mengawali hari sebelum berangkat ke laut. Setelah itu, ia bergegas ke perahu mesin miliknya di dermaga kayu yang tak jauh dari rumahnya. Perahu mesin yang kerap disebut oleh masyarakat sekitar dengan nama lepeh itu diisi dengan solar.

Pagi itu, Neka memang hanya menyiapkan bekal makanan yang dibutuhkan untuk mencari ikan di perairan selatan Kalbar itu. Namun, jauh sebelum itu, ia telah membuat jaring pukat yang digunakan untuk menangkap ikan. Sebagaimana perempuan nelayan lain di Pulau Cempedak, membuat pukat merupakan rutinitas harian mereka.

Daerah tangkapan yang menjadi tujuan keluarga Salmin pada hari itu adalah Pulau Gelam. Jaraknya sekitar 15 mil arah selatan dari Pulau Cempedak. Butuh waktu sekitar dua jam perjalanan menggunakan lepeh untuk bisa sampai ke pulau tersebut.

Perairan di sekitar Pulau Gelam menjadi pilihan para nelayan tradisional di Kecamatan Kendawangan mencari ikan lantaran mudah didapat. Berbagai macam hasil tangkapan nelayan didapat di perairan sekitar Pulau Gelam, sebut saja lobster, rajungan atau renjong, ikan baronang, ikan bawal, dan lain sebagainya. Para nelayan mengaku, ikan di perairan tersebut lebih banyak bila dibandingkan perairan lainnya di daerah Kendawangan.

Baca Juga: Eksplorasi Tambang Kuarsa di Gelam, Diduga Tabrak Sejumlah Aturan

Namun, pulau kecil tersebut kini terancam aktivitas tambang pasir kuarsa atau silika. Adalah PT. Sigma Silica Jayaraya yang mendapatkan izin eksplorasi dengan jenis komoditi pasir kuarsa di pulau tersebut. Hal ini berdasarkan Surat Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 93.K/MB.01/MEM.B/2022, dengan luas konsesi 839,00 Ha, dengan target 1.808.625 ton/tahun. Aktivitas eksplorasi ini diketahui sudah berlangsung sejak satu tahun yang lalu.

Selain PT. Sigma Silica Jayaraya, ada juga perusahaan PT. Inti Tama Mineral (ITM) yang mendapat izin konsesi di pulau tersebut sebesar 1.163,00 Ha, berdasarkan SK : 887/MB.03/DJB/ WIUP/2022, dari Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM).

Nelayan perempuan di Pulau Cempedak yang kerap mencari ikan di Pulau Gelam. SITI PONTIANAK POST
Nelayan perempuan di Pulau Cempedak yang kerap mencari ikan di Pulau Gelam. SITI PONTIANAK POST

Perairan di sekitar pulau dengan luas 28 kilometer persegi itu masuk dalam kawasan konservasi perairan daerah berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 91/KEPMEN-KP/2020 tentang Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-pulau Kecil Kendawangan dan perairan sekitarnya.

Neka sering menemani suaminya pergi melaut. Mencari ikan di Pulau Gelam tak selalu dilakukan. Sebab, jaraknya cukup jauh serta tidak memungkinkan untuk balik hari karena akan memakan ongkos yang besar. Kalau mencari ikan di sana, paling tidak membutuhkan waktu 4-6 hari untuk menetap di sana.

Pendapatan yang dihasilkan dari mencari ikan di Pulau Gelam dengan menghabiskan waktu selama rata-rata hampir satu pekan tersebut bagi Neka cukup besar. Keuntungan kotor bisa mencapai Rp3 juta, bahkan bisa mencapai Rp5 juta bila sedang musim renjong berkembang biak. Adapun ongkos yang mesti dikeluarkan selama melaut di sana lebih dari Rp1,2 juta yang meliputi bensin, rokok, es batu, dan bahan makanan.

“Kalau ke Pulau Gelam, bawa beras dan kompor gas di bawa. Untuk lauknya nanti dari hasil tangkapan, mana yang ditangkap itu yang dimakan,” jelasnya.

Pulau Gelam memang tak lagi jadi tempat tinggal tetap warga. Namun, sejumlah nelayan memilih membangun pondok-pondok kecil untuk tempat bertahan selama beberapa hari di sana.

Seperti yang dilakukan Marai (43), nelayan perempuan dari Pulau Cempedak, Desa Kendawangan Kiri, Kecamatan Kendawangan, Kabupaten Ketapang. Marai bersama bapaknya, Hajrad (75), beserta ibunya yang bernama Etek (70) tinggal di sebuah pondok kecil di Pulau Gelam. Sudah sekitar satu bulan keluarga Hajrad menetap di sana. Mereka tinggal di sebuah pondok kayu beratap daun kelapa. Beberapa pondok juga berdiri di tempat tersebut. 

Ketika berkunjung ke pondok Hajrad November 2023 yang lalu, tampak Marai yang duduk di selasar pondok tengah membersihkan puluhan renjong. Menurut Marai, renjong-renjong tersebut adalah hasil tangkapan pada hari sebelumnya dan telah direbus.

“Bagian perut (renjong) dibersihkan agar tidak ada kotorannya lagi,” ungkap Marai sembari memanfaatkan bagian batang sendok untuk mengeluarkan kotoran dalam perut dan membersihkan bagian luar renjong.

Aktivitas Nelayan di Pulau Gelam/ SITI SULBIYAH
Aktivitas Nelayan di Pulau Gelam/ SITI SULBIYAH

Para perempuan nelayan memang  menggantungkan hidupnya di Pulau Gelam ini. Sumia (50), perempuan nelayan yang sering mencari ikan di Pulau Gelam. Warga Pulau Cempedak, Desa Kendawangan Kiri, Kecamatan Kendawangan, Kabupaten Ketapang ini sebulan dua kali melaut sekitar pulau tersebut.

Baca Juga: Praktik Culas Tambang Kuarsa di Gelam

"Kalau musim lobster, 2-3 malam (di Cempedak) ke laut lagi (Pulau Gelam, red),” ungkap Sumia ketika ditemui di Pulau Cempedak.

Ibu dari dua orang anak ini ketika mencari ikan bertugas sebagai juru kemudi lepeh. Sementara suaminya memasang jaring. Sumia harus memiliki kemampuan kemudi yang baik agar jaring tidak sangkut di kipas mesin.

Selain di Pulau Gelam, ia juga mencari ikan Ke Pulau Bawal, Tanjung Peredak, dan paling jauh cari ikan di Pulau Penambun. Namun dari beberapa wilayah perairan yang pernah ia lalui, perairan di sekitar Pulau Gelam jadi pilihan utama. Sebab, selain hasilnya yang cukup menguntungkan, jaraknya mudah dijangkau serta daratan yang bisa menjadi tempat huni nelayan,

Sumia punya kenangan di Pulau Gelam. Ia dibesarkan di pulau kecil tersebut hingga remaja berumur 15 tahun. Keluarganya pernah tinggal di sana. “Kuburan orang tua di sana,” imbuhnya.

Aktivitas Tambang

Pontianak Post yang berkolaborasi dengan sejumlah media di Kalimantan Barat pada November 2023 yang lalu mengunjungi Pulau Gelam, Kabupaten Ketapang. Ketika kami tiba di bibir pantai, sejumlah bangunan yang terbuat dari kayu tampak berdiri. Bangunan itu merupakan tempat tinggal sementara para pekerja tambang yang melakukan pengambilan sampel di pulau tersebut. Sejumlah pekerja tampak beraktivitas di pondok tersebut.

Di lokasi tersebut, terdapat pula sejumlah alat pengeboran yang terparkir tepat di belakang pondok. Selang-selang panjang juga terlihat melekat pada alat tersebut.

Menurut pengakuan nelayan, aktivitas yang dilakukan perusahaan tersebut adalah pengambilan sampel pasir kuarsa. “Saya tanya (ke perusahaan), dan sampel itu diambil di beberapa titik,” ucap Hartono, nelayan dari Pulau Cempedak, ditemui November 2023 yang lalu.

Hartono juga merupakan ketua Pokdarwis Cempedak Jaya Ketapang, yang berpusat di Pulau Cempedak, Kecamatan Kendawangan. Pria yang disapa Pak Tono itu aktif melakukan patroli di sekitar Perairan Pulau Cempedak. Sesekali juga di Pulau Gelam. Ia juga turut memantau aktivitas pengambilan sampel yang dilakukan oleh perusahaan di Pulau Gelam.

Bagi para nelayan, Pulau Gelam adalah aset berharga. Pak Tono mengatakan, banyak nelayan menginap di sana terutama saat musim lobster dan rajungan berkembang biak. Mereka mengais rezeki dari hasil laut. Setiap hari pasti ada yang cari ikan di sana.

MERAPIKAN JARING : Nelayan Perempuan di Pulau Cempedak tengah merapikan jaring. Para nelayan perempuan di pulau tesebut kerap mencari ikan di Pulau Gelam. SITI PONTIANAK POST
MERAPIKAN JARING : Nelayan Perempuan di Pulau Cempedak tengah merapikan jaring. Para nelayan perempuan di pulau tesebut kerap mencari ikan di Pulau Gelam. SITI PONTIANAK POST

Tak hanya nelayan, para pedagang ikan di pesisir Kendawangan juga bergantung dengan keberadaan ikan-ikan dari Pulau Gelam. Yuningsih (43), pedagang perempuan di Pasar Ayu Kecamatan Kendawangan salah satunya. Menurut pedagang yang sudah berjualan selama 10 tahun tersebut, perairan di Pulau Gelam adalah salah satu pemasok ikan di pasar ini.

“Biasanya dari Pulau Gelam, ada juga Pulau Cempedak, Kuala Jelai, sampai Air Hitam,” kata ibu empat anak ini

Suami Yuningsih juga seorang nelayan. Kadang-kadang suaminya juga bekerja di perkebunan. Walau begitu, ikan-ikan Yuningsih dipasok oleh agen yang di desa tersebut. “Untungnya kadang-kadang dapat Rp100 ribu, kadang kalau banyak Rp200 ribu,” imbuhnya.

Dengan apa yang telah dilakukannya itu, ia mampu menghidupi keluarganya secara layak. Satu orang anaknya pun kini menempuh pendidikan tinggi.

Tidak sulit menemui pedagang ikan di pesisir Desa Kendawangan Kiri, Kabupaten Ketapang. Pasar Ayu yang berlokasi di pusat desa ini, ada sekitar 20 lapak ikan. Selain itu, tidak sedikit lapak-lapak ikan yang digelar pedagang di pinggir jalan utama di pusat desa tersebut. Uniknya, para pedagang ini hampir semuanya merupakan perempuan. (*)

 

Liputan  ini merupakan hasil kolaborasi Pontianak Post, Iniborneo.com, Suara.com, RRI Pontianak, Insidepontianak.com, Mongabay Indonesia dan Project Multatuli yang didukung oleh Jurnalis Perempuan Khatulistiwa, Yayasan WeBe, Hijau Lestari Negeriku, dan Garda Animalia melalui Bela Satwa Project.

Editor : Syahriani Siregar
#Nasib nelayan kecil #Pulau Gelam