Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Pulau Gelam Terancam Aktivitas Tambang, Bakal jadi Tambahan Beban Bagi Perempuan

Syahriani Siregar • Senin, 26 Februari 2024 | 14:41 WIB
Nelayan perempuan di Pulau Cempedak yang kerap mencari ikan di Pulau Gelam. SITI PONTIANAK POST
Nelayan perempuan di Pulau Cempedak yang kerap mencari ikan di Pulau Gelam. SITI PONTIANAK POST

KENDAWANGAN - Perempuan menjadi pihak yang rentan terdampak dari kerusakan lingkungan akibat aktivitas penambangan pasir kuarsa. Aktivitas eksplorasi yang dilakukan di Pulau Gelam, Kecamatan Kendawangan, Kabupaten Ketapang misalnya, telah memunculkan kekhawatiran dari para perempuan nelayan. 

“Kalau ada tambang, takut pulaunya karam. (Kalau karam) nggak bisa dicari lagi ikannya. Ikan-ikan bisa hilang,” ungkap Yanti (37), warga Pulau Cempedak, Desa Kendawangan Kiri, Kecamatan Kendawangan.

Yanti memang tak lagi mencari ikan lantaran harus menemani anaknya yang masih balita. Namun, suami dan ketiga anak laki-lakinya adalah nelayan. Sehari-hari mereka ke laut mencari ikan hingga renjong. Termasuk mencarinya ke Pulau Gelam.

“Seminggu sekali (ke Gelam),” sebut ibu empat anak ini.

Walau tak ikut, Yanti memegang peran besar dalam keluarga ini. Ia membantu mempersiapkan segala perlengkapan untuk berangkat ke laut lepas. Ia menyiapkan makan hingga pukat. Ketika hasil tangkapan di bawa pulang, ia jugalah yang melepaskan tangkapan satu per satu dari jaring, hingga mengolah renjong agar siap dijual ke Kendawangan. Yanti berperan penting dalam ketahanan ekonomi keluarganya.

Perairan di sekitar Pulau Gelam menjadi pilihan para nelayan di Kecamatan Kendawangan mencari ikan lantaran mudah didapat. Berbagai macam hasil tangkapan nelayan didapat di perairan sekitar Pulau Gelam, sebut saja lobster, rajungan atau renjong, ikan baronang, ikan bawal, dan lain sebagainya. Para nelayan mengaku, ikan di perairan tersebut lebih banyak bila dibandingkan perairan lainnya di daerah Kendawangan.

Namun, pulau kecil tersebut kini terancam aktivitas tambang pasir kuarsa atau silika. Adalah PT. Sigma Silica Jayaraya yang mendapatkan izin eksplorasi dengan jenis komoditi pasir kuarsa di pulau tersebut. Hal ini berdasarkan Surat Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 93.K/MB.01/MEM.B/2022, dengan luas konsesi 839,00 Ha, dengan target 1.808.625 ton/tahun. Aktivitas eksplorasi ini diketahui sudah berlangsung sejak satu tahun yang lalu.

Selain PT. Sigma Silica Jayaraya, ada juga perusahaan PT. Inti Tama Mineral (ITM) yang mendapat izin konsesi di pulau tersebut sebesar 1.163,00 Ha, berdasarkan SK : 887/MB.03/DJB/ WIUP/2022, dari Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM).

Baca Juga: Praktik Culas Tambang Kuarsa di Gelam

Perairan di sekitar pulau dengan luas 28 kilometer persegi itu masuk dalam kawasan konservasi perairan daerah berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 91/KEPMEN-KP/2020 tentang Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-pulau Kecil Kendawangan dan perairan sekitarnya.

Pemerhati isu perempuan & politik lingkungan, Julia, menilai kehadiran tambang pasir tentunya akan berdampak kepada nelayan perempuan umumnya, terutama berdampak pada pendapatan nelayan.

“Yang akan terjadi lebih kepada jumlah income yang dibawa oleh suami nelayan mereka, yang berdampak kepada pendapatan rumah tangga,” katanya.

Keberadaan perempuan nelayan sangat penting di dalam aktivitas perikanan. Pusat Data dan Informasi  Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara) pada November 2015 mencatat, sedikitnya 48 persen pendapatan keluarga nelayan dikontribusikan oleh perempuan nelayan. Dalam pada itu, 17 jam dimanfaatkan perempuan nelayan untuk bekerja. Fakta lain juga menunjukkan sekitar 47 persen dari jumlah perempuan nelayan yang bekerja di bagian pengolahan dan pemasaran hasil tangkapan ikan.

Dalam studi yang dilakukan oleh Kiara, ditemukan fakta bahwa perempuan nelayan sangat berperan di dalam rantai nilai ekonomi perikanan, mulai dari pra-produksi sampai dengan pemasaran. 

Pegiat Sosial, Arniyanti menilai perempuan nelayan dihadapkan dengan stereotype bahwa profesi nelayan oleh perempuan hanya sebagai orang yang sekedar membantu bukan profesi layaknya nelayan laki-laki. Jadi kalau saat ini pun terjadi aktivitas tambang pada tempat nelayan perempuan menghidupi kebutuhannya, maka hal ini berdampak pada sumber penghidupannya.

“Perempuan, terlebih nelayan perempuan sudah punya beban ganda, yakni waktu kerja perempuan nelayan tidak hanya untuk kegiatan ekonomi tetapi juga non ekonomi alias kegiatan rumah tangga (domestik), sementara nelayan perempuan sebenarnya mampu berkontribusi lebih, tidak hanya pada ekonomi keluarga tetapi dengan banyaknya upaya penyelamatan lingkungan hidup,” paparnya.

Menurutnya, tidak hanya soal ekonomi, tapi perempuan adalah sosok yang menghantarkan makanan, atau yang mengatur keberlangsungan hidup dalam rumah tangga. Artinya ketika aktivitas tambang saat ini memungkinkan memberikan dampak buruk bagi sumber penghidupannya, maka perempuan akan mendapatkan beban tambahan lagi dalam mengatur strategi penghidupan atau keberlangsungan hidup dalam rumah tangganya tersebut.

Baca Juga: Cerita Perempuan yang Terancam Tambang di Pulau Gelam

Menurutnya, merusak alam sama dengan merusak sumber penghidupan akan membuat kerusakan tatanan kehidupan. Hal ini merupakan tambahan beban bagi perempuan untuk mengubah strategi penghidupannya.

Apalagi, tambahnya, bila nelayan perempuan di sana bergantung dengan profesi saat ini, maka akan sulit sekali untuk mendapatkan alternatif pekerjaan lain saat wilayah tangkap mereka hilang.  Hal ini selalu menjadi PR besar ketika sumber penghidupan telah rusak. Dampaknya juga bahwa pengetahuan yang mereka punya saat ini sudah tidak berarti lagi.

“Makanya saya selalu katakan, merusak alam adalah merusak tatanan kehidupan, merusak alam adalah merusak perempuan, sebab perempuan adalah pelestari kehidupan,” tuturnya.

Kekhawatiran akan kehilangan sumber penghidupan ini dirasakan oleh Juni, nelayan perempuan dari Pulau Cempedak. Ia mengatakan belum merasakan dampak secara signifikan dari aktivitas eksplorasi tambang di Pulau Gelam. Walau begitu, perempuan yang  sering mencari ikan di pulau tersebut menduga akan ada kerusakan di perairan sekitar pulau bila aktivitas tambang dilanjutkan ke eksploitasi.

“Kalau dibikin gitu (tambang di Gelam) pasti ikannya lepas (hilang,red), nanti susah cari ikan. Karena air limbahnya pasti (dikhawatirkan mencemari laut),” katanya,

Bila limbah mencemari laut, lanjut dia, tentunya akan mengurangi jumlah ikan dan berdampak pada pendapatan nelayan. Ikan yang sulit didapat akan membuat nelayan melaut lebih jauh lagi. Semakin jauh area tangkapan ikan, semakin besar pula ongkos yang harus dikeluarkan.

Kekhawatiran yang sama dirasakan oleh Lima (45). Nelayan perempuan di Pulau Cempedak ini mengakui belum ada dampak dari segi hasil tangkapan. Namun, sejak ada aktivitas tambang, ia yang biasanya memanfaatkan lahan di sana untuk bercocok tanam, kini tak lagi dilakukan.

"Semenjak ada aktivitas tidak menanam lagi, tidak dirawat lagi,” imbuhnya.

Ia tak tahu persis dampak yang akan terjadi bila eksploitasi tambang dilakukan di Pulau Gelam, entah itu wilayah tangkapan yang nantinya menjadi terbatas, ataukah jumlah tangkapan yang berkurang. Intinya, ia berharap bisa mendapat banyak ikan seperti saat ini guna menghidupi keluarganya.

“Inginnya (di Gelam) tetap bisa menangkap ikan di sana,” harapnya. (sti)

 
 
Editor : Syahriani Siregar
#nelayan perempuan #Pulau Gelam #nelayan kecil