Agar Tak Lupa Akar Budaya
KETAPANG - Ratusan warga mengikuti ritual adat Maruba pada hari terakhir, Rabu (26/6) siang. Ritual pencucian atau pembersihan pusaka Kerajaan Hulu Aik ini digelar pada 24-26 Juni 2024 di Laman Sengkuang, Desa Benua Kerio, Kecamatan Hulu Sungai.
Sekretaris Daerah Kabupaten Ketapang, Alexander Wilyo, yang juga bergelar Patih Jaga Pati Laman Sembilan Domong Sepuluh, menghadiri pembersihan Bosi Koliknk Tungkat Rayat ini.
"Saya dinobatkan sebagai Patih Jaga Pati sebelum saya menjadi Sekda. Tugas saya sebagai Patih Jaga Pati itu artinya adalah inti dari segala adat, menegakkan, mempertahankan, dan menjunjung tinggi adat orang Dayak," kata Alex.
Alex menegaskan, kegiatan seperti ini akan selalu dilaksanakan setiap tahun dan sudah menjadi agenda rutin. "Kita orang Dayak harus bisa maju dan bersaing dengan orang lain, biar nanti ada orang Dayak yang jadi Kapolsek, jadi perwira, jadi camat dan kedepannya bisa menjadi pemimpin, manajer, direktur, bahkan menjadi konglomerat," jelasnya.
Alex mengungkapkan, Maruba adalah ritual adat pencucian atau pembersihan Pusaka Kerajaan Hulu Aik, sejak zaman Raja Yang Mulia Siak Bahulun yang dikenal dengan nama Todung Rosi, cikal bakal Kerajaan Tanjungpura kuno.
Anaknya yang bernama Putri Dayang Putung atau dikenal dengan Putri Junjung Buih menikah dengan Prabu Jaya dari Kerajaan Singasari (cikal bakal Kerajaan Majapahit). Prabu Jaya akhirnya mendirikan kerjaan baru dengan nama Tanjungpura di era kejayaan Majapahit.
Alex melanjutkan, ritual adat Maruba ini telah dilaksanakan sejak dulu dan sampai saat ini di era raja ke-51 Petrus Singa Bansa, ritual ini masih rutin dilaksanakan. "Mari bersama kita dukung dan sukseskan ritual adat Maruba sebagai ikon budaya," ajak Alex.
Dia menambahkan, Kerajaan Hulu Aik adalah satu-satunya kerajaan Dayak yang masih eksis di dunia sampai saat ini. Hal ini dibuktikan dengan masih adanya pusaka-pusaka kerajaan dan Prasasti Lingga, yaitu batu bertulis Sanskerta.
Alax juga menambahkan, pasa Agustus ini pemerintah akan meresmikan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur.
"Akan banyak orang-orang datang ke Kalimantan. Artinya, kita harus mempersiapkan diri agar tidak kalah. Pesan saya kita harus menumbuhkan rasa semangat persatuan kita lebih maju dan berdaulat secara budaya, berdaulat secara ekonomi dan berdaulat secara politik," pesannya. (afi)
Editor : A'an