KETAPANG - Stasiun Meteorologi Kelas III Rahadi Oesman mengimbau untuk waspada terhadap dampak yang ditimbulkan dari musim kemarau. Masyarakat, khususnya yang memiliki lahan gambut, juga diminta untuk tidak menjaga dan tidak membakar lahan.
"Puncak musim kemarau di Ketapang diprediksi terjadi di bulan Juli-Agustus, namun untuk akhir musim kemarau belum dirilis," ujar Kepala Stasiun Meteorologi Kelas III Rahadi Oesman, Toni Kurniawan, beberapa waktu lalu.
Toni mengungkapkan, meskipun Indonesia tidak menghadapi gelombang panas ekstrem saat ini, fenomena Monsun Australia berdampak pada kelembaban udara di negara ini.Baca Juga: BPBD Kubu Raya Keluarkan Status Siaga Karhutla
"Wilayah Indonesia tidak terdampak gelombang panas. Kondisi saat ini dipengaruhi adanya Monsun Australia yang menyebabkan kondisi kelembaban udara dominan kering," jelasnya.
Sementara itu, Kepala Daops Manggala Agni Kalimantan X Ketapang, Rudi Windra Darisman mengatakan, pihaknya terus melakukan kegiatan yang dilaksanakan secara berkala seperti In House Training (IHT), penyegaran kesamaptaan, latihan fisik dan pelatihan-pelatihan lainya untuk me-refresh kesiapsiagaan anggota Manggala Agni.
"Untuk kesiapsiagaan sarana dan prasarana, tentunya kami pun melakukan pemeliharaan dan perawatan untuk menghadapi musim kemarau atau musim kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tahun 2024 ini," katanya.
Dia menjelaskan, kendaraan-kendaraan, baik roda dua maupun roda empat harus dilakukan pemeliharaan dan perawatan agar saat dibutuhkan, kendaraan dalam kondisi prima.
"Selain kendaraan, tentunya ada juga pompa dan perlengkapan lainnya yang juga harus dipersiapkan dengan baik. Itu terkait dengan persiapan tenaga dan sarana prasarana," jelas Rudi.
Rudi juga menerangkan, sampai saat ini semua stakeholder di Kabupaten Ketapang, seperti BPBD, TNI, Polri, masyarakat, instansi vertikal maupun dinas instansi daerah terus bersinergi dalam rangka menanggulangi kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Ketapang.
"Ada beberapa grup, baik itu grup dari Kabupaten Ketapang yang berisi semua stakeholder dan instansi terkait pengendalian karhutla, juga grup-grup di tingkat kecamatan," terangnya.
Dia mengungkapkan, kendala terbesar Manggala Agni adalah luas wilayah yang sangat besar.
Kabupaten Ketapang memiliki wilayah yang sangat luas, ditambah lagi wilayah kerja mencakup Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara.
"Untuk Kabupaten Ketapang sendiri, kami hanya memiliki 45 personel, dengan 15 personel di Kecamatan Kendawangan dan 30 personel di Ketapang.
Wilayah yang sangat luas ini meskipun sudah kami petakan sebagai areal rawan karhutla, tetap menjadi tantangan besar," ucapnya.
Dengan jumlah personel yang terbatas, Manggala Agni Ketapang mendorong kesiapan tim Satgas Masyarakat Peduli Api serta kelompok-kelompok masyarakat di desa agar bisa mandiri dalam pengendalian karhutla.
"Solusi ini sedang diimplementasikan dengan mendorong kesiapan kelompok-kelompok masyarakat ini agar bisa mandiri dalam melakukan kegiatan pengendalian karhutla, mulai dari patroli hingga pemadaman.
Kami juga mendorong agar semua desa yang rawan karhutla bisa menganggarkan sendiri melalui anggaran dana desa," tutupnya. (afi)
Editor : A'an