Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Dugong Mati di Perairan Ketapang Jadi Alarm Rusaknya Ekosistem Pesisir

Ahmad Sofi • Jumat, 20 Juni 2025 | 11:32 WIB
EVAKUASI: Tim gabungan melakukan pemeriksaan terhadap dugong yang ditemukan mati di Perairan Legum Belanda, Kendawangan, Minggu (15/6).
EVAKUASI: Tim gabungan melakukan pemeriksaan terhadap dugong yang ditemukan mati di Perairan Legum Belanda, Kendawangan, Minggu (15/6).

PONTIANAK POST — Seekor dugong (Dugong dugon) ditemukan mati di Perairan Legun Belanda, tak jauh dari Pulau Cempedak, Desa Kendawangan Kiri, Kecamatan Kendawangan. Mamalia laut yang dilindungi ini pertama kali ditemukan nelayan setempat pada Minggu malam, 15 Juni 2025. Peristiwa ini kembali menyuarakan alarm peringatan tentang rusaknya ekosistem pesisir dan tekanan berat terhadap satwa laut yang terancam punah.

Temuan itu segera dilaporkan kepada Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Cempedak Lestari, yang kemudian mengevakuasi bangkai dugong ke Pulau Cempedak. Penanganan dilakukan bersama Yayasan WeBe, Lanal Ketapang, serta Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSPL) Pontianak.

Keesokan harinya, 16 Juni, tim gabungan melakukan pemeriksaan nekropsi. Prosedur dilakukan oleh dokter hewan dari Yayasan IAR Indonesia (YIARI), dengan dukungan Lanal Ketapang dan warga setempat. Hasil awal menunjukkan adanya perubahan pada organ paru-paru. "Kami menduga dugong ini terjebak jaring, lalu tenggelam dan mati akibat kehabisan napas," ujar drh. Komara, Koordinator Medis YIARI.

Dugong, yang dikenal juga sebagai duyung, adalah mamalia laut pemakan lamun yang hidup di perairan dangkal. Spesies ini sangat sensitif terhadap kerusakan lingkungan, dan kini berada dalam status terancam punah. Ancaman tersebut meliputi penangkapan tidak sengaja (bycatch), pencemaran laut, lalu lintas kapal, perusakan habitat, dan perburuan liar.

"Kami sedih melihat dugong sebesar ini mati. Dulu lamun di sekitar sini sangat lestari. Tapi sekarang rusak. Kapal besar, limbah kebun sawit, dan industri tambang merusak semuanya. Ini berdampak besar bagi kehidupan laut dan masyarakat kami," tutur Tono, Ketua Pokdarwis Cempedak Jaya.

Kematian satu ekor dugong membawa dampak serius, mengingat spesies ini berkembang biak secara lambat. Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya perlindungan habitat pesisir, penegakan hukum lingkungan, dan peningkatan kesadaran masyarakat akan keberadaan spesies laut yang dilindungi. "Kami sangat mengapresiasi masyarakat yang melaporkan temuan ini," kata Setra, Direktur Utama Yayasan WeBe. "Keterlibatan warga sangat penting untuk menjaga populasi dugong di perairan Kendawangan."

Atas izin Danlanal Ketapang, bangkai dugong yang telah melalui proses nekropsi kemudian dikuburkan di dalam kompleks Markas Komando (Mako) Lanal Ketapang. Lokasi penguburan dipilih dengan mempertimbangkan aspek keamanan dari gangguan satwa liar atau pihak yang tidak bertanggung jawab. (afi)

Editor : Hanif
#Legun Belanda #ekosistem pesisir #pokmaswas #mamalia laut #dilindungi #dugong #Dugong Mati Karena Sampah