PONTIANAK POST - Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah Ketapang mensosialisasikan pelestarian Naskah Kuno Kabupaten Ketapang, Senin (14/7). Acara berlangsung di Aula Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah Ketapang mengangkat tema Merawat Jejak Sejarah.
Acara itu menghadirkan narasumber utama, Prof. Faizal Amin, Guru Besar Filologi Islam dari IAIN Pontianak yang juga ditunjuk oleh Perpustakaan Nasional sebagai pakar filologi wilayah Kalimantan Barat.
Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah, Yulianus, menegaskan bahwa hingga saat ini naskah-naskah kuno yang ada di wilayah Kabupaten Ketapang belum teridentifikasi secara menyeluruh.
"Banyak kemungkinan bahwa dokumen dan manuskrip penting tersebut masih tersimpan di lingkungan keluarga, lembaga adat, tempat ibadah, maupun koleksi pribadi," katanya.
Oleh karena itu, dia menekankan bahwa pelestarian naskah kuno harus menjadi tanggung jawab bersama. Melalui sosialisasi seperti ini diharapkan dapat menjadi jalan untuk mengidentifikasi naskah-naskah kuno yang ada di Ketapang.
Wakil Ketua Komisi IV DPRD Ketapang, Nasdiansyah, menyampaikan dukungannya terhadap upaya pelestarian naskah kuno dan menekankan urgensi pembentukan Badan Penelitian dan Kajian Sejarah Tanjungpura sebagai wadah resmi untuk mengkaji, menghimpun, dan mempublikasikan sejarah lokal secara sistematis dan berkelanjutan.
"Apa yang dilakukan ini bukan hanya sebuah forum diskusi biasa, melainkan tonggak penting merawat warisan budaya Ketapang. Kami dari Komisi IV sangat mendukung terbentuknya lembaga resmi kajian sejarah Kabupaten Ketapang," ujar Nasdiansyah.
Dia juga menyoroti pentingnya tokoh-tokoh sejarah lokal, seperti Dr. Simon, Pak Mahmud, dan lainnya, untuk secara resmi ditetapkan dalam struktur lembaga tersebut, agar keilmuan dan pengetahuan mereka tidak hilang begitu saja dan dapat diwariskan ke generasi mendatang secara tertib administrasi dan ilmiah.
Selain itu, Nasdiansyah mendorong Dinas Kearsipan dan Perpustakaan untuk proaktif menjalin kerja sama dengan Perpustakaan Nasional, guna mengakses sumber daya dan anggaran yang dapat mendukung pelestarian budaya dan pembangunan infrastruktur, termasuk rencana pembangunan gedung perpustakaan baru senilai Rp9 miliar.
Acara itu juga dihadiri oleh tokoh-tokoh pemerhati sejarah dan budaya lokal, para akademisi, camat, lurah, serta unsur masyarakat yang peduli terhadap pelestarian identitas Ketapang. (afi)
Editor : Hanif