PONTIANAK POST - Di tengah sorotan publik terhadap industri tambang yang kerap dikaitkan dengan isu lingkungan, PT Jaga Usaha Sandai (PT JUS) memilih jalur berbeda.
Perusahaan ini menjadikan tanggung jawab sosialnya bukan sekadar formalitas, melainkan gerakan nyata: mengembalikan anak-anak putus sekolah (ATS) ke ruang kelas.
Data menunjukkan lebih dari 1.021 anak usia sekolah di Kecamatan Sandai berhenti belajar, menjadikan wilayah ini sebagai salah satu kantong ATS terbesar di Kalimantan Barat.
Alasan klasik seperti kemiskinan, jarak, hingga trauma sosial membuat banyak dari mereka kehilangan kesempatan. Namun bagi PT JUS, angka-angka itu bukan sekadar statistik—melainkan wajah generasi yang masih bisa diselamatkan.
Melalui kemitraan dengan PGRI Sandai, PKBM Bina Muda Sentosa, dan Dinas Pendidikan, PT JUS meluncurkan GARDA ATS GERPENDIK. Program ini menawarkan pendidikan kesetaraan (Paket A, B, C) sekaligus pelatihan kecakapan hidup, mulai dari pertanian organik, mekanik motor, hingga literasi digital dasar.
“Anak-anak di sekitar wilayah kerja kami adalah aset masa depan. Pendidikan adalah hak, bukan pilihan,” ujar Rino, Manajer CSR PT JUS, dalam peresmian program di SMAN 2 Sandai.
Program ini menjangkau 13 desa, melibatkan ratusan anak yang sebelumnya berhenti sekolah. Di Desa Petai Patah, seorang warga belajar usia 17 tahun kini kembali menempuh Paket C sambil bekerja di kebun. “Dulu dia malu dan kehilangan percaya diri. Sekarang semangatnya kembali,” kata Kepala Desa setempat.
Lebih dari sekadar kelas, GARDA ATS GERPENDIK melahirkan keterampilan baru: warga belajar bisa merakit komputer, membuat pupuk organik, hingga memasarkan produk UMKM secara daring. PT JUS menanggung penyediaan alat, modul, tutor, bahkan transportasi.
Direktur PT JUS, Juslianto, menegaskan visi jangka panjang perusahaan: “Kami tidak hanya membangun jalan distribusi hasil tambang. Kami juga membangun jalan menuju masa depan dengan pendidikan sebagai fondasi.”
Bagi sebagian besar warga Sandai, langkah ini menghadirkan optimisme baru. “Saya tidak pernah bayangkan bisa sekolah lagi. Sekarang saya bahkan bisa ajarkan adik saya membaca,” ujar seorang peserta Paket C di Desa Demit. *
Editor : Aristono Edi Kiswantoro