PONTIANAK POST - Rumah seorang pemuda di Desa Air Upas, Kecamatan Air Upas, diduga dibakar orang tak dikenal (OTK) pada Selasa (2/9) dini hari. Rumah tersebut milik Goda Tohan, pemuda yang lantang menyuarakan pemberantasan peredaran Narkoba di wilayahnya.
Goda mengatakan, kejadian tersebut merupakan bentuk intimidasi atas sikap kritisnya terhadap persoalan narkoba di wilayah Air Upas. Dia menduga ada pihak-pihak yang tidak senang dengan sikapnya tersebut.
Dia menjelaskan, percobaan pembakaran rumah tersebut terjadi saat penghuni rumah sedang tidur. "Sekitar pukul 03.15 WIB, api tiba-tiba muncul di dalam rumah dan membuat kami panik," ungkap Goda, Rabu (3/9).
Beruntung api tersebut cepat ditemukan dan langsung dipadamkan, sehingga tidak menyebar ke bagian rumah yang lainnya.
Usai kejadian, Goda bersama saudaranya memeriksa sekitar rumah. Dari arah pintu samping tercium bau bensin dan ditemukan jejak kaki yang menguatkan dugaan bahwa kebakaran tersebut disengaja.
"Ini jelas bukan kebakaran biasa. Ada bau bensin dan jejak kaki di sekitar rumah. Saya menduga ini bentuk teror dan intimidasi. Apa yang terjadi tidak hanya mengancam saya, tetapi juga keluarga saya," ungkap Goda.
Menurutnya, selama ini dirinya aktif menyuarakan keresahan masyarakat terkait maraknya peredaran narkoba di Air Upas.
"Saya melihat kejadian ini sebagai bentuk pembungkaman terhadap sikap kritis saya," ujarnya.
Beberapa waktu lalu, kepada awak media dia dengan lantang menyuarakan pemberantasan peredaran narkoba di wilayah Air Upas. Tidak hanya orang dewasa, Narkoba juga sudah menyasar pelajar, bahkan anak Sekolah Dasar (SD).Baca Juga: BMKG Peringatkan Potensi Cuaca Ekstrem di Kalbar Awal September
Goda menyebut bahwa keresahan masyarakat Air Upas telah mencapai titik tertinggi, lantaran narkoba seperti Sabu dan Inex bisa diakses secara terbuka dan bebas, tanpa ada upaya nyata yang terlihat untuk menghentikannya.
"Saya sebagai pemuda di Air Upas ini sangat was-was. Kita bisa lihat sendiri di lapangan, mereka sampai membuka lapak, ini sungguh ironis dan sangat meresahkan," katanya beberapa waktu lalu.
Dia menilai, menjamurnya peredaran barang haram ini lantaran tidak adanya penindakan terhadap para bandar narkoba. Bahkan, di Air Upas yang kerap ditangkap hanya pengguna atau kaki tangan saja. Sedangkan para bandar bebas bekeliaran.
"Ini menimbulkan pertanyaan besar bagi kami. Apakah ada permainan di balik ini semua. Padahal mereka jualan ada lapaknya seperti di RT 07 Dusun Air Tebadak Desa Air Upas, semua tahu itu. Hanya saja kami ada keterbatasan tidak bisa menangkap," ungkapnya.
Goda mengaku bahwa keluarganya juga menjadi korban. Sang adik pernah terjerat penyalahgunaan Narkoba. Hal ini membuat dirinya semakin yakin bahwa pemberantasan narkoba tidak hanya pada kepedulian masyarakat, tapi harus ada tindakan nyata dan tegas aparat.Baca Juga: Inflasi Kalbar Agustus 2025 Tercatat 2,13 Persen, Tertinggi di Ketapang
"Kami siap dilibatkan oleh pihak kepolisian. Kami bisa jadi mata dan telinga aparat. Tapi selama ini belum ada langkah konkret untuk melibatkan masyarakat dalam upaya pemberantasan Narkoba. Kami menunggu itu," lanjutnya.
Dia menyampaikan bahwa banyak warga merasakan hal yang sama, namun merasa tak berdaya. Salah satu bentuk kekecewaannya adalah terhadap belum optimalnya peran Subpolsektor yang dibangun dengan harapan besar oleh masyarakat.
"Awalnya kami punya harapan besar saat Subpolsektor dibangun di Air Upas. Apalagi itu pakai dana swadaya masyarakat. Kami pikir ini bisa jadi solusi untuk menekan tindak peredaran narkoba.
Tapi nyatanya, sampai hari ini belum berjalan maksimal. Bahkan, justru muncul opini liar di masyarakat bahwa maraknya narkoba ini diduga ikut dipupuk oleh oknum-oknum," tambahnya.
Harapan muncul, ketika Kapolres Ketapang baru telah dilantik, dirinya meminta agar Kapolres Ketapang yang baru mampu membawa perubahan nyata dan menjawab harapan masyarakat."Kami harap, Kapolres yang baru bisa lebih peka dan menaruh perhatian khusus pada Air Upas.
Kami masyarakat siap dilibatkan dalam pemberantasan narkoba. Kami bisa jadi mata dan telinga aparat. Jangan sampai masyarakat terus curiga dan beropini negatif soal fakta di lapangan tidak sejalan dengan harapan," harapnya. (afi)
Editor : Hanif