PONTIANAK POST - Perusahaan Listrik Negara (PLN) Indonesia Power dan Danantara Indonesia akan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) Kalimantan Barat-1, tepatnya di Kecamatan Matan Hilir Selatan, Kabupaten Ketapang. PLTGU ini berkapasitas 250 megawatt (MW).
Proyek strategis nasional ini masuk dalam RUPTL 2025–2034, dengan target operasi komersial (COD) pada tahun 2026.
Bupati Ketapang, Alexander Wilyo, menyambut baik rencana tersebut. "Saya menyambut baik dan mengapresiasi perkembangan proyek ini. Pembangunan PLTGU Kalbar-1 adalah langkah nyata mewujudkan pembangunan berkeadilan untuk Kabupaten Ketapang yang maju dan mandiri, terutama dalam menyediakan energi listrik yang stabil, andal, dan berkelanjutan," kata Alex, Selasa (21/10).
Menurutnya, pembangunan PLTGU ini adalah investasi besar yang akan membawa dampak multi-efek bagi Ketapang. Ini bukan hanya tentang listrik, tetapi juga pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, serta peningkatan kualitas hidup masyarakat.
Pemerintah daerah terus berkoordinasi dengan PLN dan pihak-pihak terkait agar seluruh proses teknis, perizinan, serta penataan ruang berjalan sesuai ketentuan.
Alex menegaskan bahwa penyediaan energi listrik merupakan kewenangan PT PLN (Persero), dan Pemerintah Kabupaten Ketapang akan terus memberikan dukungan sesuai porsi dan kewenangan yang dimiliki agar pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan berjalan lancar serta berpihak pada kepentingan masyarakat.
"Saya berharap dengan beroperasinya PLTGU Kalbar-1 pada tahun 2026, seluruh wilayah di Kabupaten Ketapang dapat teraliri listrik 100 persen, sehingga tidak ada lagi desa yang tertinggal dari akses energi," harapnya.
Sebagai bentuk dukungan, Pemerintah Kabupaten Ketapang juga mengajukan Surat permohonan percepatan program Listrik Desa (Lisdes) kepada PT PLN (Persero), yang ditargetkan mampu mewujudkan rasio desa berlistrik 100 persen pada tahun 2029.
Saat ini masih terdapat 47 desa yang belum sepenuhnya menikmati jaringan listrik PLN, sebagian di antaranya sudah masuk dalam program Lisdes Tahun 2025.
Vice President Pre-Construction PLN Indonesia Power, Aswindo menjelaskan bahwa PLTGU Kalbar-1 akan menjadi tulang punggung pasokan listrik di wilayah Kalimantan Barat, melengkapi sistem transmisi tegangan tinggi 150 kilovolt (kV) yang menghubungkan jalur Kendawangan – Sukamara – Ketapang.
"Pembangunan pembangkit ini akan menciptakan sistem kelistrikan yang lebih andal dan efisien. Kami berkomitmen menjalankan proyek ini dengan memperhatikan aspek sosial, hukum, dan lingkungan," ungkapnya.
Proyek ini saat ini memasuki tahap penyusunan dokumen perencanaan dan kelayakan, mencakup pembangunan turbin gas dan uap, sistem pendingin, tangki bahan bakar, serta fasilitas pendukung lainnya.
Wacana pembangunan PLTGU Kalimantan Barat-1 berkapasitas 250 MW di Kecamatan Matan Hilir Selatan (MHS), disambut baik oleh masyarakat Ketapang. PLTGU ini diharapkan mampu memenuhi kebutuhan listrik di Ketapang.
Salah satu warga Kecamatan Air Upas, Sabinus (48), mengaku senang dengan adanya rencana pembangunan PLTGU di Ketapang. "Semoga ini tidak hanya wacana dan segera direalisasikan. Kami sangat mendambakan listrik di tempat kami menyala 24 jam," katanya.
Sabinus menjelaskan, selama ini listrik di beberapa kecamatan di daerah hulu Ketapang, termasuk di Kecamatan Air Upas, kondisinya memperihatinkan. Pemadaman listrik bergilir harus dirasakan setiap hari oleh masyarakat.
"Kami merasa terganggu dan aktivitas kami sehari-hari tidak bisa berjalan dengan baik. Semuanya membutuhkan listrik. Sementara listrik yang disuplay dari PLN di tempat kami kapasitasnya terbatas, sehingga harus bergiliran menikmati listrik," jelasnya.
Aktivitas perekonomian masyarakat terganggu. Anak-anak juga tidak bisa belajar maksimal. "Orang yang punya usaha terganggu. Listrik menyala tidak tentu. Sementara jika menggunakan genset, kami harus mengeluarkan biaya lagi. Belum lagi anak-anak susah belajar kalau malam," ungkapnya.
Oleh karena itu, wacana pembangunan PLTGU ini bisa memenuhi kebutuhan listrik di seluruh Ketapang. "Jika memang pembangunan PLTGU ini benar, ini angin segar bagi kami yang berada di daerah hulu. Kami bisa merasakan listrik 24 jam nonstop," ucapnya.
Sementara itu, salah satu pelaku UMKM di Ketapang, Uti Arminol Kama (46), juga menyambut baik wacana pembangunan PLTGU tersebut. Adanya pembangkit tersebut diharapkan bisa menjaga stabilitas kelistrikan di Ketapang.
"Semoga ini bisa terealisasi dengan cepat. Jika listrik di Ketapang ini sudah memadai, maka akan sangat mendukung terhadap pembangunan perekonomian di Ketapang," ungkapnya.
Pria yang akrab disapa Amo tersebut mengaku, usaha rumah jahit miliknya sangat bergantung kepada listrik. Semua peralatan menggunakan tenaga listrik. Listrik yang digunakan selama ini semuanya disuplay dari PLN.
Jika kondisi listrik tidak stabil, maka akan sangat mempengaruhi usahanya. "Jika listrik mati atau ada pemadaman bergilir, otomatis kami tidak bisa operasional, karena semuanya menggunakan listrik. Makanya listrik ini menjadi satu-satunya nadi kami," ujarnya.
Oleh karena itu, dia mengaku senang dengan adanya wacana tersebut. Meski selama ini kondisi listrik di Kota Ketapang cukup stabil, namun jika pembangkit listrik yang memiliki daya 250 MW tersebut beroperasi, tentunya akan membuat kelistrikan di Ketapang semakin andal. (afi)
Editor : Miftahul Khair