PONTIANAK POST – Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Tanjungpura menggelar wisuda perdana bagi lima mahasiswa. Acara berlangsung di Ballroom Grand Zuri Hotel, Kecamatan Delta Pawan, Kabupaten Ketapang, Kamis (11/12).
Para lulusan berasal dari dua program studi, yakni Pendidikan Matematika dan Pendidikan Fisika.
Sekretaris Daerah Ketapang, Repalianto, mewakili Bupati Ketapang.
Ia menyambut antusias pelaksanaan wisuda perdana ini.
Ia berharap para lulusan STKIP Tanjungpura mampu memenuhi kebutuhan guru di Kabupaten Ketapang.
Ketua STKIP Tanjungpura, Alvionita Silvianty, juga menyampaikan harapan serupa. Ia ingin para sarjana baru dapat berkontribusi bagi pembangunan daerah.
Kontribusi tersebut terutama dalam meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Ketapang.
“Semoga ilmu yang diperoleh dapat diamalkan dan bermanfaat bagi masyarakat, bangsa, dan negara,” ujarnya.
Pembina Yayasan Tanjungpura Mekar, Mohamad Rif’at, menekankan pentingnya pembelajaran yang adaptif dan inovatif.
Ia juga menyoroti perlunya pendekatan kolaboratif dan kreatif bagi para lulusan.
“Pendidik harus mampu menghadirkan pembelajaran nyata bagi siswa. Contohnya, menerapkan teori probabilitas dalam kemungkinan penangkapan pelaku kriminal dengan berkolaborasi bersama polisi,” katanya.
Dalam orasi ilmiah, Sudiansyah memaparkan sejumlah tantangan pendidikan di Kabupaten Ketapang. Ia menyebut jumlah guru secara agregat berada dalam kondisi surplus.
Kebutuhan ideal mencapai 8.416 guru. Namun distribusi guru masih tidak merata, terutama di wilayah pesisir, pedalaman, dan daerah dengan akses terbatas.
Menurutnya, persoalan utama bukan pada jumlah guru. Masalah justru terletak pada penempatan yang tidak tepat, ketidaksesuaian kualifikasi, serta kurang meratanya layanan pendidikan.
Ia lalu menyampaikan sejumlah rekomendasi strategis.
Sudiansyah menekankan pentingnya distribusi guru berbasis data spasial dan kebutuhan riil di lapangan.
Ia juga menilai penguatan pedagogi STEM kontekstual perlu diprioritaskan.
Selain itu, kaderisasi guru lokal harus diperkuat agar keberlanjutan tenaga pendidik terjamin.
Ia mendorong pengembangan pembelajaran digital dan hybrid sebagai solusi untuk wilayah terpencil.
Upaya tersebut harus diiringi peningkatan motivasi belajar siswa. Pendekatannya dapat berupa mentoring, kelompok belajar, dan proyek berbasis minat dan bakat.
Di akhir orasi, Sudiansyah menyampaikan pesan inspiratif melalui konsep 3R: Reflect, Reinvent, dan Rich.
Reflect mengajak lulusan merefleksikan pengalaman masa lalu. Reinvent mendorong keberanian mencoba hal baru dan memperbaiki diri.
Rich dimaknai sebagai kaya tidak hanya secara materi, tetapi juga kaya gagasan, ilmu, inovasi, serta harapan masa depan.
“Marilah kita jadikan Ketapang bukan hanya kaya sumber daya alam, tetapi juga kaya gagasan, kaya ilmu, kaya inovasi, dan kaya generasi yang berdaya saing,” ujarnya. (sti)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro