PONTIANAK POST - Ratusan orang mengikuti doa bersama di Pendopo Joglo Paguyuban Jawa Ketapang, Jumat (13/2) malam. Acara dalam rangka menyambut Bulan Ramadan 1447 Hijriah ini dihadiri jajaran Forkopimda Ketapang dan tokoh agama.
Ketua Umum Paguyuban Jawa Kabupaten Ketapang, Achmad Sholeh, menjelaskan bahwa doa bersama menyambut Ramadan (Megengan) memiliki filosofi mendalam.
"Megengan berasal dari kata 'menahan', menahan hawa nafsu, menahan perilaku buruk, serta menahan lapar dan dahaga sebagai latihan sebelum Ramadan" ujarnya.
Dia menambahkan, dalam budaya Jawa tradisi ini juga dikenal dengan berbagai istilah seperti Nyadran, Padusan, Ojenan, hingga Dandangan. Semua memiliki makna persiapan diri, baik lahir maupun batin.
Megengan juga identik dengan tradisi berbagi apem sebagai simbol permohonan maaf dan rasa syukur. Di Jawa bentuknya bundar. Sementara di Ketapang menyerupai bantal. Tradisi ini sekaligus menjadi awal dari budaya saling memaafkan menjelang Ramadhan.
"Tradisi ini penting agar anak-cucu kita tetap memahami akar budaya yang sarat nilai spiritual. Kita ingin Ramadan datang dalam suasana hati yang bersih dan penuh persaudaraan," ungkapnya.
Sholeh menegaskan bahwa kegiatan ini juga menjadi simbol kebersamaan masyarakat Jawa di Ketapang yang berasal dari berbagai daerah seperti Kudus, Jepara, Lamongan, Banyumas, Gunung Kidul, Yogyakarta, dan Surakarta, namun hidup rukun dalam keberagaman.
Pengasuh Pondok Pesantren Darul Ma'ruf Kudus, Jawa Tengah, KH. Ahmad Asnawi, yang hadir dalam kesempatan tersebut mengatakan adat dan tradisi dihormati dalam Islam selama tidak bertentangan dengan syariat.
"Ramadan adalah bulan istimewa umat Nabi Muhammad SAW. Amal kecil yang dilakukan dengan ikhlas bisa bernilai besar di sisi Allah," tuturnya.
Dia mengingatkan pentingnya memanfaatkan bulan Sya’ban untuk memperbanyak doa, memohon umur panjang untuk ibadah, rezeki halal yang cukup, dan husnul khatimah. Surga tidak bisa diukur dengan harta dunia, nilainya jauh melampaui apa pun yang bisa dibayangkan manusia.
"Yang paling penting adalah amal yang benar, ikhlas, dan halal. Itulah yang membawa keberkahan hidup dan keselamatan di akhirat," pesannya. (afi)
Editor : Miftahul Khair