Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Takjil Khas di Ketapang: Bingke Badok, Semakin Berkerak Semakin Enak

Ahmad Sofi • Minggu, 1 Maret 2026 | 22:25 WIB

 

 

BINGKE BADOK: Bingke Badok, takjil khas di bulan Ramadan bagi masyarakat Melayu Ketapang.
BINGKE BADOK: Bingke Badok, takjil khas di bulan Ramadan bagi masyarakat Melayu Ketapang.

 

 

PONTIANAK POST - Berburu kuliner jelang berbuka puasa menjadi rutinitas menyenangkan saat Ramadan. Di Ketapang, di antara deretan makanan yang dijual, ada satu juadah yang tak boleh absen. Yakni, bingke badok. Makanan ini menjadi kue tradisional dari Kampung Tuan-Tuan yang memasaknya dibakar menggunakan kayu.

Bingke bukan nama asing bagi pencinta kue Nusantara. Di Pontianak orang mengenal bingke berendam. Di Ketapang, ada bingke badok. Makanan ini tak sekadar varian, melainkan representasi rasa dan cara hidup masyarakat Melayu Ketapang. Istimewanya, kue khas ini jarang ditemui di hari-hari biasa, tetapi banyak dibuat saat Ramadan.

Salah satu warga, Bang Oman, menyebut Bingke Badok sebagai juadah yang 'tak boleh absen' saat berbuka puasa.

"Dari dulu, sejak zaman uyuk (kakek nenek) kami, bingke badok sudah ada. Ini juadah Melayu Ketapang, baik di pesisir maupun pedalaman," tuturnya.

Secara bahan, bingke badok terbilang sederhana. Kue ini dibuat dari tepung beras, gula pasir, dan telur ayam dalam takaran tertentu. Semua dicampur dan dikocok hingga rata. Namun, yang membuat Bingke Badok ini istimewa adalah prosesnya.

Adonan dituangkan ke dalam cetakan kuningan tembaga tebal, ditutup, lalu dibakar dengan api bawah dan api atas bersuhu sedang. Bukan oven listrik, melainkan kayu bakar yang menyala perlahan. Dari situlah nama badok berasal. Dalam bahasa lama Melayu Ketapang, 'badoq' atau 'pandok' berarti bakar.

Seperti ungkapan “mandok kayu di ladang" (membakar kayu di ladang). Filosofinya sederhana, panas yang sabar melahirkan rasa yang dalam. Hasilnya? Tekstur setengah keras, yang oleh warga disebut "nyonyor" (lembek namun tidak lembek berair). Bagian pinggirnya berkerak kecokelatan, bahkan sedikit hangus. Justru di situlah kenikmatannya.

"Semakin berkerak di pinggir, semakin sedap," kata Bang Oman.

Kue ini tidak ada di setiap kedai Ramadan. Ini disebabkan proses pembuatanny yang terbilang masih tradisional, sehingga membutuhkan waktu dan sedikit tenaga lebih.

Namun demikian, bingke badok ini tetap menjadi primadona bagi masyarakat, khususnya Melayu Ketapang yang menganggap ini adalah tradisi yang ada di setiap Ramadan. (afi)

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#kue #ramadan #ketapang #Takjil