Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Teror Setahun di Air Upas: Pelaku Masih Bebas, Warga Bongkar Rumah Sendiri

Aristono Edi Kiswantoro • Selasa, 28 April 2026 | 23:07 WIB
Warga di Air Upas, Ketapang, membongkar rumahnya sendiri demi menghindari teror dan ancaman pembakaran yang kian meresahkan.
Warga di Air Upas, Ketapang, membongkar rumahnya sendiri demi menghindari teror dan ancaman pembakaran yang kian meresahkan.

 

PONTIANAK POST  Ketakutan itu nyata di Air Upas. Sebelum api datang, warga memilih membongkar sendiri pondok dan rumah mereka di kebun.

Kayu-kayu diselamatkan, barang-barang diangkut, demi menghindari nasib yang sama: hangus tanpa sisa.

Setahun sudah Kecamatan Air Upas dilanda rangkaian aksi teror yang belum terpecahkan.

Sedikitnya 37 kejadian tercatat sejak Februari 2025, terdiri dari 31 kasus pembakaran rumah dan pondok ladang, dua pembakaran alat berat, serta empat kasus penembakan.

Namun hingga kini, pelaku belum juga tertangkap.

Baca Juga: Air Upas dalam Cengkeraman Sabu: Empat Bulan Delapan Kasus, Belasan Orang Ditangkap, Termasuk Anak di Bawah Umur

Teror bermula dari pembakaran pondok ladang di Desa Petuakan. Aksi itu kemudian merambat ke Desa Gahang dan meluas ke sejumlah desa lain.

Sasaran tidak lagi terbatas pada pondok di kebun, tetapi juga rumah warga. Pelaku bergerak tanpa pola yang jelas dan tanpa pandang bulu.

Di sela teror pembakaran, warga juga dihantui aksi penembakan menggunakan senapan angin.

Sejumlah warga dilaporkan menjadi korban, mempertegas rasa tidak aman yang terus membayangi kehidupan sehari-hari.

Awalnya, pembakaran diduga berkaitan dengan pencurian buah sawit. Namun pola aksi yang muncul justru berbeda.

Pelaku tidak mengambil barang berharga, melainkan membakarnya. Yang diambil justru bahan makanan, diduga untuk bertahan hidup di dalam hutan.

Motif teror pun kian kabur. Dugaan awal mengarah pada dampak pemberantasan narkoba di wilayah tersebut.

Belakangan, muncul indikasi keterkaitan dengan persoalan pertambangan, diperkuat temuan secarik kertas di lokasi yang diduga menjadi tempat persembunyian pelaku.

Tokoh pemuda Air Upas, Firminus Goda, menilai aksi ini tidak berdiri sendiri. Ia meyakini ada pihak lain yang berada di balik rangkaian teror tersebut.

“Pasti ada oknum yang menjadi backing,” tegasnya, Selasa (28/4).

Dugaan adanya pihak yang menyuplai kebutuhan pelaku menguat setelah aparat menemukan peralatan elektronik dan logistik di sebuah gubuk yang diduga menjadi tempat persembunyian Jaka, pria yang kini berstatus daftar pencarian orang (DPO).

“Ada panel listrik tenaga surya dan makanan siap saji ditemukan di sana. Artinya, ada yang menyuplai,” ungkap Goda.

Ia juga tidak menutup kemungkinan keterkaitan dengan kasus narkoba, mengingat rekam jejak Jaka sebagai pengguna.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa pelaku lapangan bukan satu-satunya pihak yang harus diungkap.

“Bisa saja terkait narkoba, tapi yang jelas ada oknum di belakangnya,” ujarnya.

Di tengah situasi yang tidak menentu, warga memilih langkah ekstrem: membongkar sendiri bangunan mereka.

Keputusan itu diambil sebagai upaya menyelamatkan aset yang tersisa, meski harus menanggung kerugian.

“Beberapa rumah dan pondok sengaja dibongkar pemiliknya karena takut dibakar. Mereka simpan dulu kayunya, nanti dibangun lagi kalau situasi sudah aman,” jelas Goda.

Harapan warga kini tertuju pada aparat penegak hukum. Mereka mendesak kepolisian segera mengungkap pelaku dan menghentikan teror yang telah berlangsung selama setahun terakhir.

“Aparat memang sudah ada, tapi belum bisa memberikan rasa tenang karena teror masih terjadi. Kami minta segera ungkap dan tangkap pelakunya,” tegasnya.

Hingga berita ini diturunkan, Polres Ketapang belum memberikan keterangan resmi terkait perkembangan penyelidikan, termasuk upaya penangkapan Jaka yang masih buron.

 

Ketidakjelasan Motif

Hingga kini motif pembakaran masih terpecah ke tiga dugaan besar—narkoba, konflik lahan, dan persaingan bisnis.

Ketiganya muncul dalam waktu berbeda, membentuk pola yang berubah-ubah, sekaligus memperlihatkan betapa kaburnya akar persoalan di balik teror tersebut.

Dugaan pertama mengarah pada jaringan narkoba. Narasi ini menguat pada fase awal teror di 2025, seiring maraknya pengungkapan kasus peredaran sabu di wilayah Air Upas.

Aparat kepolisian sempat mengaitkan situasi keamanan dengan dampak dari penindakan terhadap jaringan tersebut.

Keterkaitan ini semakin diperbincangkan setelah salah satu terduga pelaku, Jaka (30 tahun, yang kini masuk daftar pencarian orang.

Namun, hingga kini belum ada bukti kuat yang memastikan bahwa aksi pembakaran dan penembakan merupakan bagian dari konflik atau balas dendam dalam jaringan tersebut.

Memasuki 2026, arah dugaan bergeser. Pada 28 Maret 2026, warga menemukan secarik kertas berisi pesan ancaman yang meminta penyerahan lahan untuk kepentingan tambang bauksit.

Temuan ini menjadi titik penting yang memunculkan dugaan baru: konflik agraria.

Isi pesan tersebut dinilai sebagai bentuk intimidasi langsung kepada warga.

Apalagi, sejumlah aksi pembakaran terjadi di kawasan kebun sawit dan permukiman yang berada di area potensial aktivitas ekonomi.

Kondisi ini memunculkan kecurigaan adanya upaya sistematis untuk menekan warga agar meninggalkan lahannya.

Jika dugaan ini benar, maka teror di Air Upas tidak lagi sekadar tindakan kriminal acak, melainkan bagian dari konflik perebutan sumber daya yang lebih besar.

Namun, perspektif berbeda disampaikan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat.

Gubernur Ria Norsan menilai, akar persoalan justru lebih dekat pada konflik horizontal, yakni persaingan usaha dan kecemburuan sosial di tengah masyarakat.

Menurutnya, rangkaian peristiwa ini diduga bermula dari persoalan lokal, termasuk aktivitas penampungan sawit ilegal yang memicu gesekan antar pihak.

Dalam konteks ini, teror dipandang sebagai eskalasi konflik ekonomi di tingkat lokal, bukan semata kejahatan terorganisir.

Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Ketapang memilih berhati-hati dalam menyimpulkan motif.

Bupati Ketapang menegaskan komitmen untuk mempercepat penanganan kasus dan menjaga stabilitas daerah, namun belum memberikan pernyataan spesifik terkait latar belakang teror.

 

Aparat Harus Responsif

Pengamat Hukum dan Kebijakan Publik Kalimantan Barat, Herman Hofi Munawar, menilai penanganan persoalan ini membutuhkan langkah tegas aparat, sekaligus arah advokasi yang tepat.

 

Ia menegaskan, peran aktif Aparat Penegak Hukum (APH) menjadi kunci utama dalam menghentikan rangkaian teror yang telah berlangsung lebih dari setahun.

“Fokusnya APH harus proaktif,” tegasnya, Selasa (28/4).

Menurut Herman, lambannya pengungkapan kasus justru berpotensi memperpanjang ketakutan masyarakat.

Karena itu, aparat diminta tidak hanya menunggu, tetapi bergerak cepat dan responsif terhadap dinamika di lapangan.

Bagi warga, ketidakjelasan tersebut menjadi beban tersendiri. Tanpa mengetahui motif, mereka tidak hanya hidup dalam ketakutan, tetapi juga dalam ketidakpastian—apakah mereka menjadi sasaran karena konflik narkoba, sengketa lahan, atau sekadar berada di tengah persaingan ekonomi yang memanas. (afi/ars/bar)

 

TIGA DUGAAN MOTIF TEROR PEMBAKARAN

 

No Dugaan Motif Uraian
1 Jaringan Narkoba Diduga terkait peredaran narkoba di Air Upas; sasaran adalah rumah/pondok milik aktivis anti-narkoba.
2 Konflik Agraria Indikasi pengosongan lahan; ditemukan tulisan ancaman “Serahkan Lahanmu ke Bauksit” pada akhir Maret.
3 Persaingan Bisnis Disebut Gubernur Ria Norsan, dipicu persaingan usaha dan kecemburuan sosial.

 

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#persaingan bisnis #Air Upas #lahan #narkoba #bauksit