PONTIANAK POST - Di tengah dinamika fiskal nasional yang menuntut ketelitian lebih tinggi, Kabupaten Ketapang membuktikan bahwa keterbatasan anggaran bukanlah alasan untuk berhenti bergerak.
Meskipun terjadi efisiensi anggaran dari pusat yang mencapai Rp500 miliar, semangat untuk membangun daerah justru semakin membara dengan menghidupkan kembali kearifan lokal, yakni gotong royong. Pemerintah Kabupaten Ketapang terus berkolaborasi dengan dunia usaha untuk membangun di Ketapang.
"Pola ini menjadi bukti bahwa ketika negara dan swasta bergandengan tangan, keterbatasan dana dapat disiasati dengan kekuatan kebersamaan dan inovasi," kata Bupati Ketapang, Alexander Wilyo.
Baca Juga: Polisi Tertibkan PETI di Ketapang, Dua Ponton Ditenggelamkan
Saat turun langsung ke lapangan meninjau kondisi jalan Pelang–Kepuluk beberapa waktu lalu, Alex menegaskan bahwa hal ini merupakan prioritas penanganan infrastruktur di wilayah yang menjadi urat nadi perekonomian warga.
Kunjungan ini melahirkan rencana aksi di tahun 2026, yakni penanganan ruas Jalan Pelang–Kepuluk menggunakan konstruksi tiang pancang.
"Menghadapi tantangan tanah gambut dalam, pembangunan tidak bisa dilakukan sembarangan. Tahun 2026, konstruksi akan dilanjutkan menggunakan metode tiang pancang bersumber dari dana APBD," ungkap Alex.
Dia menjelaskan, titik start pengerjaan ditetapkan mulai dari ujung beton Kafe Merah, sebuah lokasi kritis yang merupakan area gambut dalam. Saat ini, proses tender untuk proyek strategis ini sedang berjalan.
Sementara ruas Kepuluk–Batu Tajam akan dilakukan pengaspalan dan penanganan kerusakan. Pengaspalan akan dimulai dari Jembatan Kepuluk arah Sungai Kulan. Langkah ini diambil merespons kondisi jalan yang sudah banyak berlubang dalam.
"Selain pengaspalan, penanganan intensif juga akan dilakukan pada beberapa titik kerusakan parah di sekitar wilayah Pengatapan dan Batu Tajam," ungkap Alex.
Alex menambahkan, pembangunan akan dilakukan secara bertahap, namun konsisten. Pembangunan tidak dipaksakan selesai dalam semalam, melainkan dikerjakan jengkal demi jengkal, mulai dari tender, penancapan tiang pancang di Kafe Merah, hingga pengaspalan di Pengatapan dengan kualitas terbaik.
Menurutnya, efisiensi anggaran sebesar Rp500 miliar dari pusat ternyata tidak menyurutkan nyali. Sebaliknya, hal ini memicu kreativitas baru dalam bentuk gotong royong modern.
Baca Juga: Bupati Ketapang Dorong Percepatan Pembangunan Infrastruktur dan Pelayanan Publik Daerah
"Pemerintah daerah membuka ruang kolaborasi seluas-luasnya bagi dunia usaha untuk turut serta dalam percepatan infrastruktur, melengkapi alokasi APBD yang ada," paparnya.
Perbaikan ruas jalan ini diharapkan dapar mendongkrak ekonomi warga. Distribusi hasil pertanian dan perkebunan dari wilayah pedalaman diharapkan menjadi lebih lancar, serta memangkas biaya logistik yang selama ini membebani petani.
"Anak-anak sekolah dan warga yang membutuhkan pertolongan medis darurat dapat melintas dengan lebih aman, terlepas dari kondisi cuaca atau musim hujan," harapnya.
Alex juga mengungkapkan, pembangunan di Ketapang saat ini bukan lagi sekadar urusan proyek fisik, melainkan sebuah gerakan moral. Dia mengajarkan bahwa di tengah efisiensi global, nilai-nilai lokal seperti gotong royong dan ketekunan adalah modal terbesar yang tak ternilai harganya.
"Kami mungkin bekerja dengan anggaran yang lebih ketat, tetapi semangat kami tidak pernah surut. Bersama dunia usaha dan masyarakat, kita menenun keadilan dari pinggiran, satu tahap demi satu tahap," ujarnya. (afi)
Editor : Miftakhair