PONTIANAK POST – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mengancam kawasan Pusat Rehabilitasi Orangutan YIARI di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Untuk mencegah api meluas hingga ke fasilitas rehabilitasi dan kawasan hutan di sekitarnya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengerahkan operasi water bombing.
Direktur Operasional Program YIARI, Argitoe Ranting, mengatakan kebakaran terdeteksi pada 22 Juli 2026 di Jalan Ketapang–Tanjungpura KM 5, Desa Sungai Awan Kiri, Kecamatan Delta Pawan, atau sekitar satu kilometer dari pusat rehabilitasi orangutan.
"Kebakaran terdeteksi pada 22 Juli 2026 di Jalan Ketapang-Tanjungpura KM 5, Desa Sungai Awan Kiri, Kecamatan Delta Pawan, atau sekitar satu kilometer dari pusat rehabilitasi orang utan YIARI."
Baca Juga: Komitmen Konservasi, BKSDA dan YIARI Lepasliarkan Tiga Orangutan Hasil Rehabilitasi di TNBBBR
Tim Gabungan Padamkan Api di Sekitar Kawasan
Pemadaman dilakukan oleh tim gabungan Satuan Tugas Karhutla Kabupaten Ketapang yang terdiri atas BNPB, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Manggala Agni, TNI, Polri, serta didukung YIARI dan PT MoPaKha.
Berdasarkan pemantauan sementara, luas lahan yang terdampak kebakaran diperkirakan mencapai sekitar 15 hektare. Pendataan masih terus dilakukan oleh petugas di lapangan.
Untuk menjangkau titik api yang sulit diakses melalui jalur darat, BNPB mengerahkan operasi water bombing sebagai bagian dari upaya terpadu mempercepat pemadaman.
Baca Juga: Pemkab Ketapang dan YIARI Perkuat Sinergi Lingkungan Berkelanjutan
Keselamatan Orangutan Menjadi Prioritas
Argitoe Ranting menegaskan keselamatan orangutan dan satwa lain yang berada di pusat rehabilitasi menjadi prioritas utama selama penanganan kebakaran berlangsung.
Menurutnya, seluruh satwa hingga kini berada dalam kondisi aman dan terus dipantau oleh dokter hewan serta animal keeper.
"Sejak kebakaran terdeteksi, seluruh tim bergerak cepat menjalankan prosedur tanggap darurat untuk memastikan orang utan dan satwa lainnya tetap aman, sekaligus mendukung upaya pengendalian api di sekitar kawasan," tuturnya.
Selain mengancam kawasan rehabilitasi, kebakaran juga berpotensi menurunkan kualitas udara dan mengganggu ekosistem hutan. Cuaca kering disertai angin yang cukup kuat meningkatkan risiko penyebaran api.
Asap Karhutla Berisiko Ganggu Kesehatan
Dokter Spesialis Mikrobiologi Simon Yosonegoro Liem mengingatkan asap karhutla dapat menimbulkan dampak serius bagi kesehatan masyarakat, terutama kelompok rentan.
Kelompok tersebut meliputi anak-anak, lanjut usia (lansia), ibu hamil, serta penderita penyakit pernapasan.
"Paparan asap dapat menyebabkan iritasi mata, hidung, dan tenggorokan, memperburuk gangguan pernapasan, serta meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA)," katanya.
Masyarakat Diimbau Tidak Membakar Lahan
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Daops Manggala Agni Kalimantan X/Ketapang, Efendi, mengatakan penanganan karhutla di sekitar pusat rehabilitasi merupakan bentuk komitmen bersama untuk melindungi hutan, satwa liar, dan keselamatan masyarakat.
"Kami mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan serta segera melaporkan setiap indikasi kebakaran agar dapat ditangani sedini mungkin," katanya.
Tim gabungan juga mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Pelaporan dini terhadap titik api dinilai penting untuk mempercepat penanganan sehingga kebakaran tidak meluas dan dampaknya terhadap lingkungan, satwa liar, maupun masyarakat dapat diminimalkan.
Pusat Rehabilitasi Orangutan YIARI di Ketapang merupakan fasilitas rehabilitasi orangutan seluas sekitar 200 hektare. Pusat Rehabilitasi Orangutan YIARI di Ketapang merupakan pusat rehabilitasi orangutan pertama di Kalimantan Barat.
Sejak beroperasi, fasilitas tersebut telah menyelamatkan lebih dari 250 orangutan dan melepasliarkan lebih dari 160 individu ke habitat alaminya. Hingga kini, YIARI belum memublikasikan jumlah resmi orangutan yang sedang menjalani rehabilitasi di pusat tersebut.*
Editor : Uray RonaldSumber : Antara