Buntut Berita Makanan Basi, Rumah Wartawan di Ketapang Digeruduk Puluhan Karyawan Dapur MBG

Ahmad Sofi • Dipublikasikan Rabu, 5 Agustus 2026 | 17:20 WIB
Ilustrasi rumah wartawan di Ketapang digeruduk karyawan dapur MBG. (ILUSTRASI AI)
Ilustrasi rumah wartawan di Ketapang digeruduk karyawan dapur MBG. (ILUSTRASI AI)

PONTIANAK POST - Rumah seorang wartawan media daring, Adang Hamdan, didatangi puluhan orang, Selasa (4/8) siang. Istri dan anak sang wartawan pun mengalami trauma atas kejadian tersebut.

Hamdan mengatakan, kedatangan orang-orang tersebut berkaitan dengan pemberitaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Mereka tidak terima karena diduga menyajikan makanan yang tidak layak.

"Orang-orang ini merupakan bagian dari Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Ketapang Delta Pawan–Mulia Baru, dan beberapa dapur SPPG lainnya," ungkap Hamdan, Rabu (5/8).

Baca Juga: Satu Nyawa Melayang akibat Karhutla di Ketapang, Polisi Beberkan Kronologi Lengkap: Pemotor Nekat Terobos Asap

Dia menjelaskan, rangkaian persoalan bermula pada 29 Juli 2026 lalu. Saat itu, dua wartawan media daring menerima laporan dari masyarakat mengenai dugaan makanan basi yang diterima siswa di SMA Negeri 1 Ketapang, SMP St. Agustinus, dan RA Al-Ikhlas. Keluhan yang disampaikan siswa, guru, dan orang tua menyebut menu sayur labu siam dan jagung pipil sudah basi.

Menindaklanjuti laporan tersebut, kedua wartawan mendatangi dapur SPPG Ketapang Delta Pawan–Mulia Baru untuk meminta konfirmasi kepada Kepala SPPG dan tenaga ahli gizi. Kepala SPPG, Rahmat Agung Perdana, menyatakan akan melakukan pengecekan.

Setelah dilakukan pemeriksaan internal, Rahmat membenarkan adanya sayur yang basi. Rahmat juga mengakui masih ditemukan menu yang belum sesuai dengan arahan terbaru Badan Gizi Nasional (BGN), yakni masih disertakannya susu kemasan dalam paket MBG.

Secara terpisah, Koordinator Wilayah BGN Kabupaten Ketapang, Boby Nur Haliandi, juga membenarkan adanya laporan tersebut setelah berkoordinasi dengan Kepala SPPG.

Baca Juga: Ibu Rumah Tangga di Ketapang Ditangkap karena Diduga Edarkan Sabu, Polisi Sita 17 Paket Siap Edar dari Kamar Kos

Berdasarkan keterangan para penerima manfaat, berita mengenai dugaan makanan basi kemudian dipublikasikan. Setelah pemberitaan menjadi perhatian publik, pihak SPPG meminta dilakukan pertemuan untuk memberikan klarifikasi. Redaksi media tersebut memenuhi permintaan itu sebagai bentuk pelaksanaan prinsip keberimbangan.

Pada 1 Agustus 2026, Kepala SPPG Ketapang Delta Pawan–Mulia Baru, Rahmat Agung Perdana, bersama Ahli Gizi, Rewinda Oryza Sativa, mengakui terjadi penurunan kualitas pada menu sayur yang didistribusikan pada 29 Juli 2026 serta menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh penerima manfaat.

Menurut Hamdan, setelah pemberitaan lanjutan dan hak jawab dimuat, dia mengira persoalan telah selesai. Namun, dalam sebuah pertemuan berikutnya, dia mengaku menerima pernyataan yang dipahaminya sebagai ancaman bahwa rumahnya akan didatangi para relawan yang terdampak penghentian sementara operasional dapur SPPG.

"Saya sudah menjalankan tugas jurnalistik sesuai prosedur. Kami datang melakukan konfirmasi, memberikan ruang klarifikasi, bahkan memuat hak jawab. Saya mengira persoalan selesai setelah itu, tetapi justru muncul pernyataan bahwa rumah saya akan didatangi relawan," ujar Hamdan.

Pada Selasa (4/8) sekitar pukul 14.30 WIB, rumah Hamdan benar-benar didatangi massa yang menurut keterangannya berjumlah sekitar 50 orang. Mereka meminta pertanggungjawaban atas pemberitaan yang mereka anggap menjadi penyebab dihentikannya sementara operasional dapur SPPG.

Rombongan tersebut tidak hanya terdiri dari pekerja dapur SPPG Ketapang Delta Pawan–Mulia Baru, tetapi juga diduga melibatkan pekerja dari dapur lain yang disebut masih berada di bawah pengelolaan pihak yang sama.

Baca Juga: Hari Anak Nasional di Ketapang, Alexander Wilyo Dorong Kolaborasi Lindungi Anak dan Cetak Generasi Masa Depan

"Yang saya pikirkan saat itu bukan diri saya, tetapi keselamatan istri dan anak-anak. Mereka tidak ada kaitannya dengan pekerjaan jurnalistik yang saya lakukan," ungkapnya.

Istri Hamdan, Juli, mengaku berusaha melindungi keluarganya. Dia mengalami intimidasi ketika situasi di depan rumah semakin memanas.

"Saya hanya ingin melindungi keluarga saya. Saya merasa tertekan karena begitu banyak orang datang ke rumah. Saya sempat ditarik di tengah kerumunan dan situasinya sangat membuat saya takut," kata Juli.

Menurutnya, peristiwa tersebut meninggalkan trauma bagi kedua anak mereka yang menyaksikan langsung kejadian itu.

Baca Juga: Stand Ketapang Jadi Magnet di MTQ XXXIV Kalbar, Desain Islami Megah hingga Ketupat Colet Curi Perhatian Pengunjung

"Anak-anak melihat semuanya secara langsung. Setelah kejadian itu mereka ketakutan dan terus bertanya mengapa begitu banyak orang datang ke rumah kami. Itu yang paling membuat saya sedih sebagai seorang ibu," ujarnya.

Sementara itu, Ce Mery, yang disebut sebagai perwakilan mitra pengelola dapur Surya Gizi Lestari sebelumnya menyampaikan bahwa kehadiran mereka bertujuan mendampingi para relawan yang ingin menyampaikan rasa kecewa dan kekesalan setelah penghentian sementara operasional dapur berdampak terhadap pekerjaan mereka. (afi)

Editor : Miftahul Khair
Wartawan Digeruduk Intimidasi Pers makanan basi ketapang dapur MBG