Warga Bertaruh Nyawa Memadamkan Api di Bukit Kuri

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 23:24 WIB
Bukit Kuri terbakar – Kobaran api dan kepulan asap masih menyelimuti kawasan wisata Bukit Kuri, Desa Sinar Puri, Kecamatan Sungai Laur, Kabupaten Ketapang, Kamis (6/8) siang. Kebakaran yang terus meluas mengancam destinasi wisata yang pernah masuk nominasi Anugerah Pesona Indonesia (API), sementara warga mendesak pemerintah segera menerjunkan helikopter water bombing untuk mempercepat pemadaman.
Bukit Kuri terbakar – Kobaran api dan kepulan asap masih menyelimuti kawasan wisata Bukit Kuri, Desa Sinar Puri, Kecamatan Sungai Laur, Kabupaten Ketapang, Kamis (6/8) siang. Kebakaran yang terus meluas mengancam destinasi wisata yang pernah masuk nominasi Anugerah Pesona Indonesia (API), sementara warga mendesak pemerintah segera menerjunkan helikopter water bombing untuk mempercepat pemadaman.

 

PONTIANAK POST – Bukit Kuri terbakar hebat sejak Selasa (4/8). Kobaran api yang melanda kawasan wisata alam di Desa Sinar Puri, Kecamatan Sungai Laur, Kabupaten Ketapang, hingga Kamis (6/8) belum berhasil dikendalikan. Warga mendesak pemerintah segera mengerahkan helikopter water bombing karena pemadaman dari darat dinilai sudah tidak lagi mampu membendung laju api.

Kebakaran yang dipicu kemarau panjang itu tidak hanya mengancam permukiman dan kawasan hutan, tetapi juga merusak salah satu destinasi wisata petualangan unggulan Kalimantan Barat yang pernah meraih penghargaan nasional. Hingga kini, masyarakat masih bertaruh keselamatan untuk memadamkan api secara manual di medan perbukitan yang terjal.

Warga Bertaruh Nyawa Memadamkan Api

Kepala Desa Sinar Puri, Adi Kusuma, mengatakan api mulai muncul pada malam 4 Agustus dan terus meluas hingga menjalar ke puncak Bukit Kuri.

Menurutnya, masyarakat bersama BPBD, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), perusahaan, relawan, hingga Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) telah berupaya memadamkan api secara manual. Namun luas kebakaran, medan yang sulit dijangkau, serta cuaca kering membuat upaya tersebut belum membuahkan hasil.

"Kami sangat membutuhkan helikopter water bombing. Dengan kondisi sekarang, cara manual sudah tidak mampu memadamkan api. Semua upaya sudah kami lakukan, tetapi api terus meluas," ujarnya.

Adi mengungkapkan warga bahkan telah tiga kali naik ke kawasan perbukitan untuk memadamkan api secara langsung meski harus menghadapi lereng curam dan kobaran api yang terus membesar.

"Kami sudah sampai tiga kali naik ke lokasi titik api dengan mempertaruhkan keselamatan. Yang kami khawatirkan sekarang adalah muncul korban jika kondisi ini terus berlanjut," katanya.

Menurut dia, yang paling dibutuhkan saat ini bukan lagi tambahan personel, melainkan dukungan pemadaman dari udara agar api tidak terus meluas.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Ketapang, Andreas Hardi, mengatakan dampak kebakaran terhadap Bukit Kuri sangat besar.

Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, sekitar 80 persen kawasan puncak Bukit Kuri telah terbakar. Vegetasi yang sebelumnya menutupi kawasan perbukitan kini sebagian besar habis dan menyisakan hamparan bebatuan.

"Kerusakannya sangat luar biasa. Berdasarkan pengamatan kami, sekitar 80 persen kawasan puncak Bukit Kuri terbakar. Vegetasi habis, bahkan banyak area yang kini hanya menyisakan bebatuan. Untuk memulihkan kondisi hutan seperti semula diperkirakan membutuhkan waktu puluhan tahun," ujarnya.

Ia menyebut kebakaran kali ini merupakan yang terbesar sepanjang sejarah Bukit Kuri. Demi alasan keselamatan, kawasan wisata tersebut ditutup sementara hingga kondisi dinyatakan aman.

Bukit Kuri sebelumnya dikenal sebagai salah satu ikon wisata olahraga dan petualangan Kabupaten Ketapang. Kawasan ini pernah meraih Anugerah Pesona Indonesia (API) 2021 sebagai destinasi wisata olahraga dan petualangan terbaik.

Ikon Wisata yang Kini Terancam Hilang

Bukit Kuri adalah tujuan wisata favorit pecinta alam. Dari puncak bukit, pengunjung menikmati panorama perbukitan hijau yang membentang luas dan tebing batu yang menjadi lokasi olahraga panjat tebing.

Kini lanskap tersebut berubah drastis. Kobaran api melalap vegetasi yang selama ini menjadi daya tarik utama kawasan wisata tersebut.

Kerusakan itu bukan hanya kehilangan bagi sektor pariwisata, tetapi juga mengancam habitat alami, sumber mata pencaharian masyarakat sekitar, serta potensi ekonomi desa yang berkembang melalui wisata alam.

Kemarau 38 Hari Perparah Karhutla

Bupati Ketapang Alexander Wilyo mengatakan penanganan kebakaran di lapangan menghadapi berbagai kendala.

Menurutnya, Ketapang telah mengalami 38 hari tanpa hujan, menjadikannya daerah dengan periode kemarau terlama di Kalimantan Barat. Kondisi itu menyebabkan lahan, terutama kawasan gambut, sangat kering dan mudah terbakar.

"Ketapang menjadi daerah dengan periode kemarau terlama di Kalimantan Barat. Sudah 38 hari tidak turun hujan sehingga kondisi lahan sangat kering. Apalagi kebakaran banyak terjadi di lahan gambut yang jauh lebih sulit ditangani," ujarnya saat mengikuti Rapat Teknis Penanganan Bencana Asap di Posko Satgas Udara Lanud Supadio, Kamis (6/8).

Selain minimnya curah hujan, upaya pemadaman terkendala jauhnya sumber air, terbatasnya akses menuju lokasi kebakaran, serta kurangnya sarana dan prasarana.

Menghadapi kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Ketapang telah mengusulkan dukungan kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Usulan itu meliputi penambahan mobil tangki air, pembangunan sumur bor di kawasan rawan kebakaran, penambahan peralatan pemadam, pengerahan helikopter water bombing, hingga pelaksanaan operasi modifikasi cuaca (OMC) apabila kondisi atmosfer memungkinkan.

Kebakaran Bukit Kuri memperlihatkan bahwa dampak karhutla tidak hanya menghancurkan hutan. Destinasi wisata yang selama ini menjadi kebanggaan masyarakat Ketapang ikut terancam hilang, sementara warga harus mempertaruhkan keselamatan untuk memadamkan api dengan peralatan seadanya.

Jika bantuan udara tidak segera diterjunkan, kerusakan diperkirakan akan semakin meluas dan membutuhkan waktu puluhan tahun untuk memulihkan ekosistem yang telah terbakar.

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
karhutla kalimantan barat Desa Sinar Puri musim kemarau ekstrem BPBD Ketapang Sungai Laur