Karhutla Ketapang Picu Konflik Orangutan dan Warga

Uray Ronald • Dipublikasikan Sabtu, 8 Agustus 2026 | 16:13 WIB
Orangutan jantan bernama
Orangutan jantan bernama 'Wak' yang dievakuasi Tim Gabungan BKSDA Kalbar bersama YIARI, PT Mohairson Pawan Khatulistiwa, dan masyarakat di Desa Kuala Tolak, Kecamatan Matan Hilir Utara, Kabupaten Ketapang. (BKSDA Kalbar)

 

PONTIANAK POST – Karhutla Ketapang yang terus berulang memicu konflik antara orangutan dan warga. YIARI menyebut kerusakan habitat membuat satwa semakin sering keluar mencari makanan dan tempat berlindung.

Ketua Umum YIARI Silverius Oscar Unggul mengatakan pembukaan lahan dengan cara membakar secara tidak terkendali mempercepat kerusakan habitat orangutan.

Menurutnya, hutan yang terbakar dan terfragmentasi membuat orangutan kehilangan sumber pakan dan tempat berlindung.

“Pembukaan lahan dengan cara membakar lahan yang tidak terkendali memicu kebakaran yang merusak habitat orangutan. Ketika hutan terbakar dan terfragmentasi, orangutan kehilangan makanan, kehilangan tempat tinggal, dan akhirnya terdorong masuk ke kebun warga,” katanya di Pontianak, Sabtu (8/8).

Baca Juga: BKSDA Kalbar Evakuasi Orangutan dari Ancaman Karhutla di Ketapang

Orangutan dan Warga Sama-Sama Terdampak

Silverius mengatakan kerusakan habitat membuat masyarakat dan orangutan sama-sama menjadi korban.

Warga menghadapi kerugian ekonomi akibat tanaman yang rusak. Keberadaan satwa liar juga meningkatkan kekhawatiran masyarakat.

Di sisi lain, orangutan kehilangan ruang hidup akibat kerusakan habitat. Kondisi tersebut membuat konflik manusia dan satwa terus berulang.

“Artinya, orangutan dan masyarakat sama-sama menjadi korban dari praktik yang sama. Situasi ini juga menimbulkan beban besar bagi negara, baik dari sisi penanganan konflik satwa, pemadaman kebakaran, pemantauan lapangan, hingga translokasi dan pemulihan habitat,” ujarnya.

Karhutla Ketapang Jadi Persoalan Keselamatan

Silverius menilai karhutla di Ketapang tidak lagi hanya menjadi persoalan lingkungan. Dampaknya telah meluas hingga menyentuh keselamatan manusia dan satwa liar.

“Yang lebih memprihatinkan, kebakaran di Ketapang juga sudah sangat serius dan bahkan telah menelan korban jiwa. Ini bukan lagi sekadar isu lingkungan, tetapi juga krisis keselamatan manusia, satwa liar, dan masa depan bentang alam kita,” katanya.

Pada 2025, satu warga Desa Tempurukan, Kecamatan Muara Pawan, meninggal dunia dalam kejadian karhutla. Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat menyebut korban meninggal setelah terkepung asap saat membakar lahan miliknya.

Baru-baru ini, seorang pria juga ditemukan meninggal dunia akibat karhutla pada Selasa (4/8/2026) malam. Korban diduga nekat menerobos Jalan Poros Sungai Pelang–Tumbang Titi yang tengah dilalap api.

Kepulan asap tebal yang membumbung di lokasi membatasi jarak pandang, menyebabkan korban hilang arah hingga akhirnya terjebak di tengah titik kebakaran.

Baca Juga: Karhutla Ancam Pusat Rehabilitasi Orangutan YIARI, BNPB Kerahkan Water Bombing

Konflik Orangutan Terjadi Berulang

Catatan YIARI menunjukkan konflik orangutan dan warga di kawasan Desa Kuala Tolak bukan peristiwa baru.

BKSDA Kalimantan Barat bersama YIARI pernah menyelamatkan sejumlah orangutan saat kebakaran besar melanda kawasan tersebut pada 2015 dan 2019.

Peristiwa serupa kembali terjadi pada 2026. Seekor orangutan jantan yang kemudian diberi nama “Wak” ditemukan di perkebunan buah milik warga.

Kehadiran orangutan tersebut sempat menimbulkan kekhawatiran karena berpotensi merusak tanaman. Pada saat yang sama, karhutla di sekitar desa meningkatkan risiko bagi satwa dan masyarakat.

BKSDA Kalbar bersama YIARI kemudian melakukan evakuasi untuk mencegah konflik.

Warga Sebut Habitat Orangutan Terganggu

Warga Desa Kuala Tolak Morsali mengatakan konflik satwa liar dan masyarakat terus berulang. Menurutnya, kondisi tersebut berkaitan dengan pembukaan lahan yang semakin masif.

“Orangutan keluar ini juga masalahnya habitatnya terganggu. Banyak pembukaan lahan, apalagi ini musim kemarau, api banyak. Jadi dia mencari tempat yang aman untuk cari makan dan berlindung karena habitatnya sudah tidak aman lagi,” katanya.

Setelah dievakuasi, orangutan “Wak” dilepasliarkan kembali ke areal konsesi PT Mohairson Pawan Khatulistiwa (Mopakha). Lokasi tersebut berada dalam bentang hutan yang sama dengan habitat asal orangutan.

Perusahaan mengelola sekitar 36.972,56 hektare ekosistem gambut. Kawasan tersebut dinilai masih memiliki populasi orangutan liar yang sehat. Kondisi habitatnya juga dinilai aman bagi satwa.

Menurut data Mopakha, kawasan ini menjadi habitat utama bagi lebih dari 660 individu orangutan Kalimantan, salah satu populasi terbesar di Kabupaten Ketapang. 

General Manager PT Mopakha Wendi Tamariska mengatakan lokasi pelepasliaran dipilih berdasarkan kajian teknis.

Kajian tersebut mempertimbangkan tutupan tajuk yang memadai dan ketersediaan pakan. Perusahaan juga berkomitmen mendukung pemantauan lanjutan. Pemantauan dilakukan untuk membantu orangutan beradaptasi kembali di habitat alaminya.

Baca Juga: Lima Orangutan Kembali ke Hutan Kalimantan Setelah Puluhan Tahun Direhabilitasi

BKSDA: Konflik Harus Ditangani Bersama

Kepala BKSDA Kalimantan Barat Murlan Dameria Pane mengatakan penanganan konflik satwa liar membutuhkan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan.

Menurutnya, translokasi bukan sekadar memindahkan satwa. Langkah tersebut menjadi bagian dari mitigasi untuk menjaga keselamatan masyarakat dan orangutan.

Murlan juga mengingatkan habitat orangutan semakin terdesak akibat fragmentasi hutan. Kondisi tersebut diperparah oleh kebakaran hutan dan lahan.

“Penyelesaian konflik manusia dan satwa liar tidak dapat dipisahkan dari pengendalian karhutla, perlindungan habitat, serta penegakan hukum terhadap praktik pembukaan lahan dengan cara membakar,” ujarnya.*

Editor : Uray Ronald
Sumber : Antara
Karhutla ketapang konflik orangutan Ketapang habitat orangutan YIARI Ketapang orangutan dan warga