Karhutla Ketapang: 5.915 Titik Panas Terdeteksi, 5 Kecamatan Jadi Prioritas Pengendalian

Ahmad Sofi • Dipublikasikan Senin, 10 Agustus 2026 | 11:55 WIB
Hasil perhitungan luas kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang dirilis oleh Kementerian Kehutanan, luas lahan yang terbakar hingga Juni 2026 mencapai 8.095,95 hektare. (ISTIMEWA)
Hasil perhitungan luas kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang dirilis oleh Kementerian Kehutanan, luas lahan yang terbakar hingga Juni 2026 mencapai 8.095,95 hektare. (ISTIMEWA)

PONTIANAK POST - Sepanjang periode 1 Januari hingga 6 Agustus 2026, tercatat 5.915 titik panas terdeteksi di Ketapang. Jumlah tersebut didapat berdasarkan data Sipongi Kementerian Kehutanan Republik Indonesia. Plt Kadaops Manggala Agni Kalimantan X/Ketapang Seksi Wilayah II Pontianak Kalimantan Barat, Efendi, mengatakan titik panas tersebut tersebar di 20 kecamatan. Kendawangan menjadi wilayah paling banyak hotspot.

"Kendawangan paling banyak, 1.173 titik. Kemudian Matan Hilir Selatan 1.018 titik, Muara Pawan 533 titik, Simpang Hulu 489 titik, Nanga Tayap 374 titik dan Sungai Melayu Rayak 357 titik," kata Efendi, Sabtu (8/8).

Berdasarkan hasil perhitungan luas kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang dirilis oleh Kementerian Kehutanan, luas lahan yang terbakar hingga Juni 2026 mencapai 8.095,95 hektare.
Efendi mengungkapkan, berdasarkan data kejadian Karhutla, terdapat beberapa kecamatan di Ketapang yang memiliki tingkat kejadian cukup tinggi. Antara lain Kecamatan Kendawangan, Matan Hilir Utara, Matan Hilir Selatan, Benua Kayong dan Muara Pawan.

Baca Juga: Polres Kubu Raya Bersihkan Saluran Air ke Embung, Antisipasi Karhutla Saat Musim Kemarau 2026

Menurutnya, kelima kecamatan tersebut menjadi wilayah yang perlu mendapat perhatian khusus dalam upaya pencegahan dan pengendalian Karhutla, terutama pada periode musim kemarau, "Lima Kecamatan tersebut menjadi perhatian pimpinan dan ditetapkan sebagai skala prioritas dalam pelaksanaan langkah-langkah pengendalian Karhutla." 

Selain itu, melihat kondisi Karhutla yang terjadi di Ketapang saat ini, Effendi menilai secara umum memerlukan kewaspadaan yang tinggi. Kemarau panjang dan menurunnya curah hujan, maka potensi terjadinya kebakaran meningkat, terutama pada kawasan gambut dan lahan yang memiliki vegetasi kering.

"Kondisi saat ini belum bisa dianggap aman. Harus menjadi perhatian bersama. Semoga dengan kesiapsiagaan seluruh pihak, penguatan patroli, serta partisipasi aktif masyarakat, potensi Karhutla dapat ditekan sehingga tidak berkembang menjadi kebakaran berskala besar," pungkasnya. (afi)

Editor : Miftakhair
kendawangan ketapang wilayah Hotspot karhutla panas