PONTIANAK POST – Sekitar 400 warga Kabupaten Ketapang dari berbagai agama berkumpul dalam doa bersama lintas agama untuk memohon keselamatan sekaligus turunnya hujan di tengah kemarau. Kegiatan digelar di Lapangan Kantor Bupati Ketapang, Minggu (9/8/2026).
Doa bersama lintas agama Ketapang tersebut diikuti pemerintah daerah, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), tokoh agama, personel kepolisian, serta masyarakat. Selain memohon hujan, warga berdoa agar masyarakat Ketapang diberikan kesehatan, keselamatan dan perlindungan.
Harapan Turunnya Hujan
Bupati Ketapang Alexander Wilyo mengatakan doa bersama merupakan bentuk ikhtiar bersama untuk menghadapi berbagai tantangan yang dirasakan masyarakat.
Ia berharap Tuhan Yang Maha Esa memberikan hujan yang cukup dan bermanfaat bagi masyarakat Kabupaten Ketapang.
“Melalui doa bersama ini, kita memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar diberikan mukjizat berupa turunnya hujan yang cukup dan bermanfaat bagi masyarakat Kabupaten Ketapang,” ujar Alexander.
Doa bersama itu digelar ketika masyarakat menghadapi kondisi cuaca yang kering. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam prediksi curah hujan Agustus 2026 menyebut sebagian besar wilayah Indonesia diprakirakan mengalami curah hujan kategori rendah, yakni 0–100 milimeter per bulan.
BMKG juga menyediakan pemutakhiran prakiraan cuaca untuk Kabupaten Ketapang dan sejumlah kecamatan di wilayah tersebut. Data itu menjadi rujukan untuk memantau perkembangan cuaca dan potensi hujan di wilayah Ketapang.
Di tengah kondisi tersebut, sekitar 400 warga bersama pemerintah daerah, Forkopimda dan tokoh lintas agama berkumpul untuk memanjatkan doa. Salah satu harapan yang disampaikan adalah turunnya hujan yang cukup dan bermanfaat bagi masyarakat.
Kemarau tidak hanya berkaitan dengan kondisi cuaca. Keterbatasan air dapat memengaruhi kebutuhan sehari-hari masyarakat dan meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan.
Berdoa Bersama Tanpa Sekat Agama
Harapan terhadap hujan dipanjatkan bersama oleh pemuka agama dari enam keyakinan. Doa berlangsung dalam suasana khidmat dengan pesan utama tentang keselamatan, perlindungan dan kebaikan bagi masyarakat Ketapang.
Dari agama Islam, doa dipimpin Drs. KH. Abdullah Al-Fakir, SE., ME.; Katolik oleh Romo Laurensius Sutadi; Kristen oleh Pdt. Jantje Thiamsing Abidano, S.Th.; Hindu oleh I. Nengah Giri Widya Adi Atmaeda; Buddha oleh Pandita Muda Sudarso; serta Konghucu oleh Edi Sayuti.
Salah seorang warga yang mengikuti doa bersama mengatakan kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk bersama-sama memanjatkan harapan agar hujan segera turun dan kebutuhan masyarakat selama kemarau dapat terpenuhi.
"Kita semua berdoa agar hujan segera datang, karena karhutla sudah terjadi dimana-mana," katanya.
Bupati Alexander juga mengapresiasi masyarakat dan seluruh pihak yang ikut menjaga kebersamaan dalam kegiatan tersebut.
Ia berharap kebersamaan lintas agama terus terpelihara sehingga masyarakat dapat menghadapi berbagai tantangan secara bersama-sama.
Harapan untuk Ketapang
Kapolres Ketapang AKBP Muhammad Harris mengatakan kegiatan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat toleransi dan persatuan masyarakat.
Menurutnya, seluruh peserta bersama-sama mendoakan keselamatan masyarakat serta memohon agar Ketapang mendapat curah hujan yang cukup dan bermanfaat.
“Kegiatan ini menjadi momentum kebersamaan masyarakat Kabupaten Ketapang dalam memperkuat toleransi dan persatuan lintas agama,” kata Harris.
Kapolres bersama jajarannya turut mengikuti kegiatan tersebut sebagai bentuk dukungan terhadap upaya menjaga keamanan, ketertiban dan keselamatan masyarakat.
Ikhtiar Bersama di Tengah Kemarau
Doa bersama berlangsung aman, tertib dan khidmat hingga selesai. Bagi masyarakat yang hadir, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk menyatukan harapan di tengah kondisi kemarau yang sedang dihadapi.
Selain berharap hujan segera turun, masyarakat juga diingatkan bahwa menghadapi kemarau membutuhkan kebersamaan dan kepedulian seluruh pihak.
Kepala BPBD Kabupaten Ketapang Yunifar Purwantoro menyatakan kondisi karhutla di Ketapang sukar dipadamkan karena sulitnya memperoleh sumber air. BPBD juga menyebut hampir seluruh kecamatan di Ketapang terdapat titik kebakaran.
Yang lebih penting untuk angle harapan hujan, BPBD Kalbar menyebut terbatasnya sumber air di sejumlah lokasi kebakaran sebagai salah satu kendala penanganan karhutla di Ketapang dan Kubu Raya.
Bahkan sehari sebelumnya, dalam kejadian Karhutla di Jalan Pelang seorang warga meninggal dunia akibat karhutla, sementara seorang warga lanjut usia mengalami luka bakar dan dievakuasi ke rumah sakit.
Editor : Aristono Edi Kiswantoro