Serasah Mangrove Disulap Jadi Kompos, THP Politap Perkuat Ekonomi dan Kelestarian Pesisir Ketapang

Hanif PP • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 09:51 WIB
Tim PKM Program Studi Teknologi Hasil Perkebunan Politap bersama masyarakat Desa Suka Baru foto bersama pada kegiatan praktik pengolahan serasah mangrove.  (DOK. THP POLITAP)
Tim PKM Program Studi Teknologi Hasil Perkebunan Politap bersama masyarakat Desa Suka Baru foto bersama pada kegiatan praktik pengolahan serasah mangrove. (DOK. THP POLITAP)

PONTIANAK POST — Limbah organik di kawasan pesisir tidak selamanya menjadi persoalan lingkungan. Melalui teknologi sederhana, serasah mangrove dan sisa bahan organik dapat diolah menjadi pupuk kompos yang bernilai guna sekaligus berpotensi menjadi sumber ekonomi baru bagi masyarakat.

Hal tersebut menjadi fokus kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Program Studi Teknologi Hasil Perkebunan (THP) Politeknik Negeri Ketapang (Politap) di Desa Suka Baru, Kelurahan Benua Kayong, Kabupaten Ketapang, Kamis (6/8/2026).

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program Politap bertajuk “Pendampingan Transformasi Ekonomi dan Lingkungan Desa Pesisir melalui Implementasi Teknologi Sanitasi, Digitalisasi dan Pengolahan Limbah Kreatif.”

Baca Juga: Tingkatkan Transparansi Pembangunan Desa, TRKJJ Politap Gelar Sosialisasi Penyusunan RAB di Sukabaru

Dalam kegiatan itu, masyarakat mendapatkan pelatihan pemanfaatan limbah organik melalui teknologi pengomposan guna mendukung ketersediaan pupuk ramah lingkungan di wilayah pesisir.

Kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (P3KM) Politap, Muh Anhar, ST., MT., yang mewakili Politap, membuka dan menutup kegiatan tersebut. Ia mengatakan, pengabdian kepada masyarakat merupakan bagian penting dari Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Menurutnya, melalui kegiatan PKM, perguruan tinggi dapat berkontribusi secara langsung dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia serta membantu masyarakat meningkatkan kesejahteraan dari aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan.

Sementara itu, Ketua PKM, Firmanilah Kamil, S.Pd., M.Pd., mengatakan pengabdian kepada masyarakat merupakan salah satu tugas pokok dosen dalam mengimplementasikan ilmu pengetahuan dan teknologi kepada masyarakat.

Baca Juga: Di Tengah Kemarau Panjang, Ratusan Warga Ketapang Lintas Agama Berdoa Bersama Minta Hujan

Transfer pengetahuan, kata dia, tidak hanya dilakukan melalui penyuluhan, tetapi juga pelatihan dan praktik langsung agar masyarakat memiliki keterampilan yang dapat diterapkan secara mandiri dan dikembangkan menjadi peluang usaha.

“Kami berharap kegiatan ini dapat membuka wawasan dan pengetahuan masyarakat, sekaligus membuka peluang berwirausaha sehingga dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat,” ujarnya.

Hal senada juga disampaikan Koordinator Program Studi THP Politap, Marisa Nopriyanti, STP., M.P., mengatakan kegiatan PKM rutin dilaksanakan THP sebagai bentuk dukungan kepada pemerintah daerah dalam mengembangkan masyarakat melalui transfer teknologi.

Baca Juga: Tim PKM FEBI Libatkan 43 Dosen, Dorong Lebih dari 100 UMKM Sungai Kakap Naik Kelas lewat Digitalisasi dan Sertifikasi Halal

Menurutnya, teknologi yang diberikan tidak hanya berkaitan dengan pengolahan produk pangan, tetapi juga produk nonpangan, termasuk pengolahan dan pemanfaatan limbah organik.

Marisa menjelaskan, serasah mangrove yang banyak ditemukan di kawasan pesisir dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan kompos. Dengan pengolahan yang tepat, limbah tersebut dapat memiliki nilai guna, sekaligus mengurangi volume sampah yang berpotensi menimbulkan bau dan mengganggu lingkungan.

Ditempat yang sama, Koordinator PKM THP Politap, Emy Arahman, S.Pd., M.Pd., menjelaskan kegiatan dilakukan melalui sosialisasi, penyuluhan, dan praktik langsung pengolahan serasah mangrove menjadi pupuk organik.

Masyarakat diperkenalkan dengan teknik pengomposan menggunakan aktivator EM4. Peserta mempraktikkan proses pencampuran bahan organik, pembuatan dan penyiraman larutan fermentasi, hingga perawatan wadah selama proses pengomposan.

“Peserta tidak hanya mendapatkan pengetahuan secara teori, tetapi juga mempraktikkan langsung tahapan pengomposan, mulai dari pencampuran bahan organik hingga perawatan selama proses fermentasi,” jelas Emy.

Setelah praktik, proses pengomposan akan dilanjutkan dengan pendampingan dan evaluasi untuk memastikan proses penguraian berjalan dengan baik hingga kompos siap digunakan pada media tanam.

Melalui kegiatan tersebut, THP Politap berharap masyarakat Desa Suka Baru dapat menerapkan teknologi pengomposan secara berkelanjutan. Pengelolaan limbah organik diharapkan tidak hanya menciptakan lingkungan pesisir yang lebih bersih, tetapi juga membuka peluang usaha dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. (pms/ser)

 

 

Editor : Rafael B. Junior
THP Politap serasah mangrove kompos Warga Pesisir peluang usaha