Hadapi Karhutla, CMI Perkuat Kesiapsiagaan dan Respons Cepat di Ketapang

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 17:13 WIB
Tim dan unit mobil damkar CMI bersiaga untuk mendukung pemadaman karhutla di wilayah operasional Sandai, Ketapang, Kalimantan Barat.
Tim dan unit mobil damkar CMI bersiaga untuk mendukung pemadaman karhutla di wilayah operasional Sandai, Ketapang, Kalimantan Barat.

 

PONTIANAK POST – Ancaman karhutla Kalimantan Barat di tengah kondisi kemarau mendorong PT Cita Mineral Investindo Tbk atau CMI (IDX: CITA) memperkuat kesiapsiagaan di wilayah operasionalnya di Sandai, Ketapang. Perusahaan meningkatkan patroli, pemantauan, deteksi dini, serta kesiapan personel dan peralatan pemadam.

Langkah tersebut dilakukan melalui CITA Emergency Response Team (ERT). Tim tidak hanya disiapkan untuk merespons potensi kebakaran di area operasional, tetapi juga memberikan dukungan ketika terjadi karhutla di wilayah sekitar yang membutuhkan penanganan.

CMI menyatakan penguatan tersebut merupakan bagian dari upaya pencegahan agar api dapat dideteksi dan ditangani sedini mungkin sebelum berkembang dan meluas.

Tak Menunggu Api Membesar

HSE Manager Site Sandai CMI, Dody Patah Kristanto, mengatakan kondisi cuaca yang semakin kering menjadi perhatian perusahaan.

Karena itu, CMI meningkatkan kesiapsiagaan ERT dan memastikan personel serta peralatan dalam kondisi siap digunakan.

"Kami tidak ingin menunggu api membesar baru bertindak, tetapi melakukan pencegahan dan penanganan sedini mungkin," ujar Dody.

CITA ERT secara aktif melakukan patroli di wilayah operasional dan area sekitarnya. Patroli tersebut diarahkan untuk menemukan potensi titik api sekaligus memastikan indikasi kebakaran dapat segera ditindaklanjuti.

Respons Awal Dilakukan Saat Titik Api Ditemukan

Apabila menemukan titik api, tim melakukan respons awal dan pemadaman sesuai kondisi di lapangan. Kesiapan tersebut didukung personel yang memiliki kompetensi dalam penanganan keadaan darurat.

Bagi CMI, pencegahan menjadi garis pertahanan pertama dalam menghadapi karhutla. Karena itu, kesiapsiagaan tidak hanya difokuskan di dalam wilayah operasional perusahaan.

CITA ERT juga memberikan dukungan ketika kebakaran terjadi di wilayah sekitar yang membutuhkan penanganan. Upaya tersebut disebut sebagai bagian dari kontribusi perusahaan terhadap masyarakat dan lingkungan di sekitar wilayah operasional.

Karhutla Tak Hanya Mengancam Hutan

Risiko karhutla tidak berhenti pada kerusakan vegetasi dan lahan. Kebakaran juga dapat memengaruhi kualitas udara dan berdampak terhadap kesehatan masyarakat.

Aktivitas sosial-ekonomi dan mobilitas warga juga berpotensi terganggu ketika asap menyelimuti kawasan permukiman. Karena itu, pencegahan dan respons cepat menjadi penting ketika kondisi lahan semakin kering.

BMKG Ingatkan Risiko Musim Kemarau

CMI menyebut penguatan kesiapsiagaan dilakukan dengan mempertimbangkan perkembangan kondisi cuaca dan iklim.

Berdasarkan informasi BMKG yang dikutip perusahaan, musim kemarau pada 2026 meluas dan kondisi kering mendominasi sebagian wilayah Indonesia. Pada awal Agustus, kejadian karhutla juga dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan, termasuk Kalimantan Barat.

Kalimantan Barat juga termasuk wilayah yang mendapatkan peringatan dini kekeringan meteorologis pada periode awal Agustus 2026.

Karhutla Butuh Kolaborasi

Dody menilai penanganan karhutla tidak dapat dilakukan oleh satu pihak. Pemerintah, perusahaan, aparat, dan masyarakat memiliki peran masing-masing dalam pencegahan maupun penanganan kebakaran.

"Karhutla adalah tantangan yang membutuhkan kolaborasi," katanya.

Menurut dia, kemampuan CITA ERT diharapkan dapat memberikan manfaat lebih luas, termasuk ketika masyarakat dan pemerintah membutuhkan dukungan dalam kondisi darurat di sekitar wilayah operasional perusahaan.

Pendekatan tersebut menempatkan deteksi dini, respons awal, dan pemantauan berkelanjutan sebagai tiga bagian penting dalam menghadapi risiko kebakaran selama musim kemarau.

Perusahaan Perkuat Patroli dan Koordinasi

Ke depan, CMI menyatakan akan mempertahankan kesiapan ERT, memperkuat patroli dan pemantauan, serta meningkatkan koordinasi dengan pemerintah daerah, aparat, dan masyarakat.

Langkah tersebut diharapkan dapat membantu meminimalkan risiko kebakaran di sekitar wilayah operasional perusahaan.

"Ketika ada potensi kebakaran, kami harus siap; ketika ada api, kami harus bergerak cepat," tutur Dody.

Pencegahan Menjadi Kunci

Kesiapsiagaan menghadapi karhutla tidak hanya bergantung pada kemampuan memadamkan api. Deteksi dini dan tindakan cepat menjadi penting karena kebakaran dapat berkembang lebih sulit dikendalikan ketika terlambat ditangani.

Dengan meningkatnya risiko kekeringan, kolaborasi antara pemerintah, perusahaan, aparat, dan masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga lingkungan sekaligus melindungi warga dari dampak asap dan kebakaran.

Bagi masyarakat di sekitar wilayah rawan, keberadaan tim respons yang siap bergerak dapat menjadi salah satu lapisan perlindungan. Namun, pencegahan tetap membutuhkan kesadaran dan keterlibatan seluruh pihak. (ser)

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
Cita Sandai karhutla ketapang CMI