Karhutla Ketapang Ancam Habitat Orangutan, Sembilan Satwa Diselamatkan dalam Sebulan

Novantar Ramses Negara • Dipublikasikan Sabtu, 5 September 2026 | 11:13 WIB
Tim YIARI melakukan penanganan terhadap induk dan anak orangutan yang diselamatkan dari ancaman karhutla di Ketapang.
Tim YIARI melakukan penanganan terhadap induk dan anak orangutan yang diselamatkan dari ancaman karhutla di Ketapang.

PONTIANAK POST - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, tidak hanya mengancam permukiman dan aktivitas warga, tetapi juga semakin menekan habitat orangutan. Dalam waktu kurang dari satu bulan, sedikitnya sembilan orangutan harus diselamatkan karena terancam kebakaran.

Direktur Operasional Program Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), Argitoe Ranting, mengatakan tingginya jumlah orangutan yang dievakuasi menunjukkan semakin beratnya tekanan terhadap satwa liar akibat karhutla yang meluas di Ketapang.

“Dalam waktu kurang dari satu bulan, sudah sembilan orangutan yang harus kami selamatkan akibat ancaman karhutla. Ini menunjukkan bahwa kebakaran tidak hanya menghancurkan hutan, tetapi juga membuat satwa kehilangan tempat untuk berlindung dan mencari makan,” ujar Argitoe dalam pernyataan tertulisnya Sabtu (5/9).

Baca Juga: Asap Karhutla Kepung Habitatnya, Orangutan Ditemukan Lemas di Perkebunan Sawit Warga

Menurut dia, ketika habitat terbakar atau dikelilingi api, orangutan tidak memiliki banyak pilihan untuk menyelamatkan diri. Sebagian dapat bergerak keluar dari habitatnya untuk mencari lokasi yang lebih aman, tetapi perpindahan tersebut justru berisiko membawa mereka ke perkebunan, permukiman, atau kawasan yang berdekatan dengan aktivitas manusia.

Kasus terbaru terjadi pada Kamis (3/9/2026), ketika BKSDA Kalimantan Barat bersama YIARI mengevakuasi seekor orangutan betina dewasa dan anaknya dari Desa Sungai Awan Kiri, Kecamatan Muara Pawan, Ketapang.

Keduanya, yang kemudian diberi nama Mama Man dan Man, sebelumnya telah terpantau berada di area perkebunan warga yang berbatasan dengan sepetak hutan sejak pertengahan Juni 2026. Namun, kebakaran yang semakin mendekati lokasi membuat ruang gerak keduanya semakin terbatas dan tidak tersedia jalur aman untuk berpindah.

Tim tiba di lokasi sekitar pukul 06.30 WIB dan melakukan evakuasi dengan melibatkan dokter hewan YIARI. Induk orangutan yang diperkirakan berusia sekitar 20 tahun dibius untuk memudahkan proses penyelamatan. Sekitar 10 menit kemudian, induk berhasil dievakuasi menggunakan jaring dengan anaknya tetap berada bersamanya.

Baca Juga: Karhutla Ancam Pusat Rehabilitasi Orangutan YIARI, BNPB Kerahkan Water Bombing

Pemeriksaan awal tidak menemukan luka bakar maupun luka fisik pada induk. Setelah dievakuasi, induk mendapat dukungan oksigen selama pemulihan dari pembiusan sebelum dibawa bersama anaknya ke Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Orangutan YIARI di Sungai Awan Kiri.

Anak orangutan berjenis kelamin jantan dan diperkirakan berusia kurang dari satu tahun. Kondisinya terlihat aktif saat pemeriksaan. Namun, tim menemukan ingus dan cairan kering di sekitar hidungnya yang diduga berkaitan dengan paparan asap akibat karhutla.

Dokter hewan YIARI, drh. Komara, mengatakan tidak ditemukan luka akibat kebakaran pada induk maupun anak orangutan tersebut. Meski demikian, paparan asap tetap menjadi risiko yang perlu diwaspadai karena dapat memengaruhi sistem pernapasan orangutan.
“Paparan asap dalam jangka waktu tertentu tetap perlu diwaspadai karena dapat memengaruhi sistem pernapasan orangutan, terutama ketika konsentrasi asap di habitat sangat tinggi,” kata Komara.

Untuk sementara, Mama Man dan Man menjalani pemantauan kesehatan di pusat penyelamatan dan rehabilitasi YIARI. Pelepasliaran baru akan dipertimbangkan setelah kondisi di lokasi asal dinilai aman dan tersedia habitat yang sesuai.

Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, mengatakan penyelamatan satwa terdampak karhutla membutuhkan keterlibatan masyarakat. Ia meminta warga segera melaporkan apabila menemukan satwa liar yang keluar dari habitat dan berada di sekitar permukiman atau perkebunan.
“Kami mengimbau masyarakat yang menemukan satwa liar terdampak karhutla di sekitar permukiman, kebun, atau lokasi yang membutuhkan pertolongan agar segera menghubungi Balai KSDA Kalimantan Barat melalui call center 0811-5776-767 atau 0811-5670-041,” ujarnya. (mse)

Editor : Hanif
Karhutla ketapang orangutan Ketapang bksda kalbar YIARI kebakaran hutan dan lahan