Tragedi Kekeringan Ekstrem Ketapang: Niat Ambil Air, 4 Warga Tewas di Lubang Bekas PETI

Ahmad Sofi • Dipublikasikan Minggu, 6 September 2026 | 12:10 WIB
Jenazah para korban yang meninggal dunia saat hendak mengambil air di lubang bekas PETI beberapa hari lalu. (ISTIMEWA)
Jenazah para korban yang meninggal dunia saat hendak mengambil air di lubang bekas PETI beberapa hari lalu. (ISTIMEWA)

PONTIANAK POST - Kemarau panjang menelan korban jiwa. Empat orang ditemukan meninggal dunia saat hendak mengambil air di lubang bekas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI).

Peristiwa tersebut terjadi di Rawangan Kecil, Desa Persiapan Bayangan, Kecamatan Nanga Tayap, Kabupaten Ketapang, Senin (31/8) lalu. Mereka hendak mengambil air untuk kebutuhan sehari-hari, karena sumber air di tempat mereka sudah mengering.

Keempat korban berinisial SAK (28), SAH (41), PK (22), dan JY (21), yang seluruhnya merupakan warga Dusun Bayangan, Desa Bayangan, Kecamatan Nanga Tayap.

Baca Juga: Antisipasi Kekeringan dan Karhutla, Polres Singkawang Siapkan Dua Sumur Bor

Peristiwa tersebut pertama kali diketahui setelah pihak Polsek Nanga Tayap menerima informasi dari masyarakat mengenai adanya warga yang ditemukan tidak sadarkan diri di dalam lubang bekas aktivitas PETI.

Kapolsek Nanga Tayap, IPTU Martin Nababan, mengatakan berdasarkan keterangan salah satu istri korban, Parida, mereka berangkat menuju lubang bekas PETI untuk mengambil air. Mereka terpaksa masuk ke dalam lubang bekas PETI karena sumber air untuk kebutuhan masyarakat di wilayahnya sudah mengering.

Saat berada di lokasi, seorang korban mencoba menggunakan mesin pompa untuk menyedot air, namun selang yang digunakan tidak mencapai sumber air, sehingga korban kemudian turun ke dalam lubang untuk menurunkan mesin tersebut.

“Setelah mesin berhasil diturunkan, air sempat mengalir dan ditampung menggunakan terpal. Namun, salah satu korban terlihat tidak sadarkan diri di dalam lubang yang diduga akibat kekurangan oksigen,” kata Martin, Minggu (6/9).

Baca Juga: Dampak Kekeringan di Sanggau: Produksi Pertanian Menurun, Petani Andalkan Stok Gabah

Melihat rekannya tidak sadarkan diri, tiga orang lainnya berupaya menolong dengan turun ke dalam lubang. Akan tetapi, ketiganya juga mengalami hal serupa. Satu persatu korban tumbang dan tak sadarkan diri.

“Saksi yang berada di atas kemudian meminta bantuan warga, dan masyarakat sekitar melakukan proses evakuasi terhadap para korban,” jelas Martin.

Sekitar pukul 16.00 WIB, seluruh korban berhasil dievakuasi dari dalam lubang oleh masyarakat. Salah satu korban sempat dibawa ke fasilitas kesehatan, namun dinyatakan meninggal dunia dalam perjalanan. Sementara tiga korban lainnya dinyatakan meninggal dunia setelah berhasil dievakuasi dari dalam lubang.

Selanjutnya, keempat korban dibawa ke rumah duka masing-masing. Pihak keluarga korban juga menyatakan penolakan terhadap pelaksanaan visum dan autopsi serta menyatakan menerima kejadian tersebut sebagai musibah dan takdir.

Martin mengungkapkan, berdasarkan hasil pengecekan awal, lokasi tersebut merupakan lubang bekas aktivitas PETI yang sudah lama tidak beroperasi.

“Para korban datang ke lokasi tersebut dengan tujuan mengambil air untuk kebutuhan sehari-hari, bukan untuk melakukan aktivitas penambangan. Musim kemarau menyebabkan sumber air di wilayah tersebut cukup sulit diperoleh, sehingga warga berupaya memanfaatkan sumber air yang masih tersedia,” ungkapnya.

Baca Juga: TNI Kerahkan Dua Water Treatment ke Limbung Kubu Raya, Atasi Krisis Air Bersih Warga

Pihaknya mengimbau masyarakat agar tidak memasuki atau melakukan aktivitas di sekitar lubang-lubang bekas pertambangan yang sudah tidak beroperasi, terlebih untuk mengambil air atau kegiatan lainnya, karena kondisi lubang dapat membahayakan keselamatan dan berpotensi memiliki kadar oksigen yang rendah. 

“Kami juga telah melakukan pendataan korban, meminta keterangan saksi-saksi, mendatangi rumah duka, serta membuat administrasi terkait penolakan visum dan autopsi. Kami mengingatkan masyarakat untuk selalu mengutamakan keselamatan dan segera melaporkan apabila menemukan kondisi berbahaya di lokasi bekas aktivitas pertambangan,” imbaunya. (afi)

Editor : Miftahul Khair
lubang bekas PETI kekeringan krisis air bersih ketapang korban jiwa