PONTIANAK POST – Retakan yang membelah permukaan tanah di Dusun Limus, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, menyisakan pertanyaan tentang kondisi lahan di balik fenomena tersebut.
Polanya menyerupai permukaan tanah di kawasan kering Afrika, tetapi apakah kemunculan retakan ini berkaitan dengan berkurangnya hujan?
Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan konteks penting.
Dalam analisis dinamika atmosfer yang diterbitkan (13/10/2026), BMKG memprakirakan curah hujan kategori rendah, kurang dari 50 milimeter per dasarian, terjadi di sebagian Kalimantan Barat bagian selatan pada periode dasarian II Oktober.
Baca Juga: Kabut Asap Ganggu Jarak Pandang di Ketapang, Polisi Amankan Lalu Lintas dan Cegah Karhutla
Prakiraan ini menunjukkan adanya potensi kondisi lebih kering di sebagian wilayah. Namun, data tersebut belum cukup untuk memastikan bahwa berkurangnya hujan menjadi penyebab retakan di Dusun Limus.
Tanah Bisa Pecah Ketika Kehilangan Air
Penjelasan ilmiah mengenai fenomena ini mengarah pada sifat material tanah.
Penelitian yang dipublikasikan dalam Vadose Zone Journal (3/3/2016) menjelaskan bahwa tanah liat dapat menyusut ketika mengering, sehingga memicu retakan dan, dalam kondisi tertentu, penurunan permukaan tanah.
Baca Juga: Ria Norsan Minta Reforma Agraria di Kalbar Selesaikan Konflik Tanah dan Tingkatkan Kesejahteraan
Endapan berbutir halus yang terpapar udara dapat kehilangan air dan membentuk jaringan retakan dengan pola poligonal.
Penyebab di Dusun Limus Belum Terjawab
Guru Besar Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan IPB University, Prof Widiatmaka, menilai pengeringan tanah atau endapan lumpur merupakan dugaan awal yang masuk akal. Akan tetapi, penyebab spesifiknya memerlukan pemeriksaan langsung.
“Belum dapat dipastikan apakah pengeringan itu terutama akibat cuaca kering, surutnya genangan, atau perubahan tata air dan penggunaan lahan,” ujarnya dikutip dari laman IPB University (7/10/2026).
Pembukaan lahan, perubahan drainase, pengambilan air, dan pertambangan juga berpotensi memengaruhi tata air. Meski begitu, belum ada bukti yang memastikan aktivitas tersebut memicu retakan di lokasi ini.
“Lebih tepat menyebutnya menyerupai tanah retak di kawasan kering Afrika, bukan bukti bahwa lahan di Kalimantan telah berubah menjadi gurun,” tegasnya.
Untuk mengetahui penyebab sebenarnya, pemeriksaan kondisi tanah, ketersediaan air, perubahan tutupan lahan, serta riwayat hujan di sekitar Dusun Limus menjadi langkah penting.
Baca Juga: Residu Bauksit Hasilkan Logam Tanah Jarang, Cangkang Sawit Kalbar Jadi Reduktor Indus
Tanpa data tersebut, retakan ini belum bisa dijadikan bukti perubahan iklim ataupun kerusakan lingkungan yang lebih luas.
Editor : Khoiril Arif Ya'qob