Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Modus Kerja di Amerika, Belasan Warga Kalbar Tertipu hingga Rp1,2 Miliar

Siti Sulbiyah • Senin, 8 Desember 2025 | 18:48 WIB
Ilustrasi penipuan.
Ilustrasi penipuan.

PONTIANAK POST – Belasan warga di Kalimantan Barat menjadi korban dugaan penipuan dengan modus dijanjikan bekerja di Amerika Serikat. Total kerugian yang dialami para korban ditaksir mencapai Rp1,2 miliar. Para korban dijanjikan pekerjaan di sektor restoran dengan gaji ribuan dolar Amerika per bulan, lengkap dengan fasilitas tempat tinggal dan makan gratis.

Salah satu korban, Hana (30), mengaku pertama kali mengetahui tawaran kerja tersebut melalui sebuah unggahan di aplikasi TikTok milik seseorang bernama Edi Susanto. Dalam unggahan itu, Edi disebut menawarkan pekerjaan di Amerika Serikat dan menjanjikan para korban akan lolos bekerja di sana.

“Awalnya saya lihat postingan kerja lewat TikTok Edi Susanto. Katanya akan berangkat sama dia kerja di sana. Dia menjanjikan lolos kerja di sana,” ujar Hana, Senin (8/12).

Tak hanya dari Edi, Hana juga mengungkap adanya sosok lain bernama Caroline yang disebut-sebut pihak yang membuka lowongan pekerjaan tersebut.

Hana mengatakan, ia sempat dijanjikan berangkat pada tanggal 10 Oktober 2025. Namun jadwal tersebut terus diundur dengan berbagai alasan, salah satunya karena masih menunggu calon pekerja lainnya.

Tak hanya itu, Hana bahkan sudah mengeluarkan biaya tambahan untuk memenuhi rangkaian proses yang disebut sebagai persyaratan keberangkatan. Ia mengaku sudah membeli tiket ke Surabaya untuk mengikuti wawancara keperluan pengajuan visa.

“Setoran awal Rp25,5 juta. Dalam perjalanannya ada tambahan-tambahan lagi,” katanya.
Korban lainnya, Sukito (48), mengungkapkan dirinya berencana membawa istri dan anak jika benar-benar diberangkatkan ke Amerika. Ia mengaku telah mengalami kerugian hingga lebih dari Rp100 juta.

“Saya dijanjikan bekerja sebagai waiter,” katanya.

Dari pengakuan para korban, terduga pelaku juga sempat menyampaikan rencana akan membuka restoran di Los Angeles sebagai tempat mereka bekerja. Namun hingga saat ini, seluruh janji tersebut tak kunjung terealisasi, sementara dana para korban telah habis disetorkan.

Sukito semula ingin berangkat sendiri. Namun, terduga pelaku membujuknya untuk membawa anggota keluarga yang lain. “Sehingga saya rugi Rp100an juta,” ucapnya.

Korban lainnya, Hery (46), mengatakan proses wawancara ke Konsulat Amerika Serikat di Surabaya juga telah mengalami penundaan hingga tujuh kali. Para korban sempat bertahan di Kota Surabaya saat akan mengurus visa. Namun, terduga pelaku belum bisa memastikan hal tersebut dengan berbagai alasan.

Kondisi ini menurutnya semakin memperkuat dugaan adanya permainan yang merugikan para korban. “Satu orang minimal rugi Rp30 juta. Bahkan ada yang sampai ratusan juta, terutama mereka yang mau berangkat bareng anak dan suami,” ucapnya.

Ia menyebut setidaknya ada 19 orang yang menjadi korban dengan total kerugian Rp1,2 Miliar. Menurutnya, ada satu keluarga yang mengalami kerugian hingga Rp300 juta. Ia juga menduga bahwa pelaku tidak hanya satu orang, baik dari pihak yang menawarkan pekerjaan maupun yang menjanjikan keberangkatan.

Adapun pekerjaan yang dijanjikan kepada para korban bervariasi, mulai dari pencuci piring, waiter, kasir, hingga asisten kasir di restoran. Gaji yang ditawarkan berkisar antara 2.500 hingga 6.000 dolar Amerika per bulan, dengan rincian pencuci piring 2.500 dolar, waiter 4.000 dolar, kasir 5.000 dolar, dan asisten kasir 6.000 dolar.

“Saya sendiri dijanjikan jadi kasir dengan gaji sekitar 5.000 dolar,” ujar Hery.

Selain gaji besar, para korban juga dijanjikan fasilitas tempat tinggal dan makan gratis. Namun hingga kini, para korban mengaku belum pernah menerima kontrak kerja resmi dan detail pekerjaan pun tidak pernah dibahas secara jelas.

Para korban kini berharap aparat penegak hukum segera menindaklanjuti kasus ini agar kerugian yang mereka alami dapat diproses secara hukum dan tidak ada lagi masyarakat yang menjadi korban dengan modus serupa. “Kami sudah melaporkan ini ke Polda Kalbar. Kami masih menunggu tindak lanjut laporan tersebut,” pungkasnya. (sti)

Editor : Hanif
#penipuan #kalbar #kerja #Tiktok #amerika #modus