Lebih dikenal sebagai klenteng Sukalanting. Berhadapan dengan klenteng adalah aliran hulu Sungai, ke Sanggau. Di kanannya adalah arah ke muara Kubu dan Rasau Jaya. Sebelah kiri arah ke Pontianak.
Sejarahnya, klenteng Sukalanting berdiri 1880. Memang tidak ada catatan di dalam tempat ibadah tersebut, angka itu dituturkan turun-temurun. Pendirinya adalah keluarga yang berasal dari Tiongkok.
Berlayar dari Cina Daratan melintas di Laut Cina Selatan, masuk ke Kapuas dan mendirikan tempat ibadah di simpang tiga sungai itu. Di kawasan klenteng ada tiga bangunan. Pada bangunan utama ada tiga altar, bangunan sebelahnya tempat meletakkan altar Dewi Kwan Im. Dua bangunan itu berdampingan. Warna dan arsistekturnya berciri Tiongkok. Berbeda dengan bangunan satunya yang terletak di bagian belakang. Warnya kuning.
Sebagian besar umat yang sembahyang di Klenteng Sukulanting itu adalah orang luar, bukan penduduk setempat. Selain Pontianak dan Sungai Raya, pengunjung klenteng datang dari berbagai kota di Indonesia bahkan luar negeri. Ada dari Palembang, Balikpapan, Samarinda, Jakarta, Malaysia, Taiwan, Hongkong, dan Tiongkok.
Tidak hanya orang, kapal pun akan mendatangi Klenteng Sukulanting saat melakukan pelayaran perdana. Pemilik kapal menganggap perlu ke Klenteng Sukulanting untuk meminta keselamatan ketika mengarungi samudera atau sungai.
Selain kunjungan yang bersifat temporer, ada pula kegiatan rutin di klenteng ini. Setiap Imlek, Cap Go Meh, dan ulang tahun klenteng ini ramai dikunjungi. Orang yang datang bersembahyang di tempat itu.
Bangunan klenteng yang ada sekarang adalah hasil renovasi pada 2010. Dulu, bangunannya tidak dominan merah, tetapi biru muda. Halamannya sekarang juga luas, lebih menjorok ke sungai. Pada klenteng ini hampir tidak ada barang asli dari tahun pendiriannya 1880 Masehi, hanya satu buah patung dewa tersisa. Patung itu tidak diletakkan di altar, tetapi di lantai. (*/haryadi)
Editor : Salman Busrah