Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Pentingnya Jiwa Kepemimpinan di Era Digitalisasi

Super_Admin • Senin, 28 Juni 2021 | 11:05 WIB
SERAH INSENTIF: Bupati Muda Mahendrawan secara simbolis menyerahkan insentif bagi guru ngaji dan petugas fardu kifayah di Kubu Raya yang dilangsungkan Ruang Praja Utama Kantor Bupati Kubu Raya, Rabu (28/4). ASHRI ISNAINI/PONTIANAK POST
SERAH INSENTIF: Bupati Muda Mahendrawan secara simbolis menyerahkan insentif bagi guru ngaji dan petugas fardu kifayah di Kubu Raya yang dilangsungkan Ruang Praja Utama Kantor Bupati Kubu Raya, Rabu (28/4). ASHRI ISNAINI/PONTIANAK POST
SUNGAI RAYA – Bupati Kubu Raya, Muda Mahendrawan menilai di era milennial dan digitalisasi yang serba cepat seperti saat ini menuntut generasi muda untuk menanamkan jiwa kepemimpinan di dalam diri masing-masing, sehingga mampu beradaptasi dan menghadapi beragam perubahan di masa depan. Hal tersebut disampaikan Muda saat menjadi pembicara dalam Kelas Kepemimpinan Mahasiswa yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak di Gedung Konferensi Ruang Theater 2, Sabtu (26/6).

Muda pun berharap para pemuda saat ini bisa terus berinovasi dan menciptakan aksi positif, mulai dari lingkungan tempat tinggal masing-masing. "Karena di era milenial sekecil apa pun seorang pemuda adalah pemimpin, maka jadilah pemimpin yang membuat perubahan nyata dan jangan mendewakan suatu simbol yang menjadi tingkatan jabatan, tapi ciptakan sebuah gerakan ide dan gagasan untuk perubahan yang lebih baik di masa mendatang," kata sosok yang pernah menjadi kepala daerah termuda di Kalbar tersebut.

Menurutnya, setiap anak muda harus mempunyai jiwa pemimpin yang sangat kuat, terlebih di era milenial saat ini. Terlebih saat ini diingatkan dia, perkembangan teknologi sangat cepat dari tahun ke tahun membuat resapan teknologi ke pemuda begitu cepat. "Karenanya penting bagi anak-anak muda untuk memiliki jiwa leadership yang tangguh agar tidak tertinggal," jelasnya.

Bupati pertama Kubu Raya ini menambahkan, untuk menjadi seorang pemimpin, setiap anak muda harus berani menancapkan diri dan mempunyai keberanian untuk berfikir visi. Karena lanjutnya, pada substansinya setiap orang merupakan calon pemimpin, diingatkan dia, minimal pemimpin di dalam lingkungan rumah tangganya. Selain itu, pemimpin, menurut dia, juga harus memiliki lima kecerdasan, di antanya kecerdasan spiritual, kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, kecerdasan sosial, dan kecerdasan bahagia.

“Kata ayah saya, rendah diri jangan, tapi rendah hati itu harus, karena hal itu merupakan pelajaran di lingkungan keluarga kita. Sering kita lihat hal itu menjadi suatu hal yang bisa mempengaruhi dalam keseharian dan pergaulan, karena hal ini juga akan membuat imajinasi kita berpikir. Sebab berpikir itu sudah pasti akan terwakili dan akan membuat kita bisa melakukan dan akhirnya kita bisa beradaptasi sehingga di situlah awal kita berinisiatif," ungkap menirukan ucapan sang ayah, mantan Rektor Untan, almarhum Prof. Mahmud Akil.

Bagi Muda, sosok pemimpin yang ideal itu harus memiliki usaha perjuangan dan harus menumbuhkan daya juang tinggi. Karena daya juang itu, menurut dia, muncul kebanyakan terjadi di dalam faktor internal yang dimulai sejak kecil sampai berumah tangga dan keluarga yang akan memperkuat daya juang seseorang.

“Jadi hal inilah yang perlu ditancapkan di kalangan generasi muda kita agar mereka punya mimpi daya juang yang tinggi, sehingga memiliki integritas, karena setiap pemimpin ada masanya dan setiap masa ada pemimpinnya. Hal ini juga satu diantara yang perlu kita pahami kalau kondisi itulah dinamika dan terus mengalami perubahan," ungkapnya.

Menurutnya, untuk menjadi calon pemimpin, generasi muda harus berani menjebak dirinya untuk berpikir menjadi pemimpin, meski terlihat ekstrem, tapi justru hal ini bagian dari menjebak seseorang secara positif. Karena kalau para calon pemimpin itu tidak menjebak untuk terlibat atau untuk memberanikan berinisiatif, dipastikan dia bahwa itulah awal akibat kegagalan calon pemimpin untuk percaya diri.

“Menjadi seorang pemimpin harus memiliki akar yang kuat supaya kita tidak hanya mengandalkan pencitraan saja, namun hal paling terpenting itu jangan sampai kita hanya melihat ini untuk hal-hal yang bersifat sementara dan menjadi solusi permanen dikejar," ungkapnya.

Di sisi lain, lanjut Muda, seorang pemimpin juga harus berpikir solutif yang wajib dikembangkan sebagai cara berfikir setiap pemimpin. Karena selama ini, diakui dia, begitu banyak permasalahan dipermasalahkan lagi, sehingga tidak ada solusi yang diberikan.

“Untuk itulah diperlukan sosok pemimpin yang berfikir solutif, mencari solusi, cari ide cerdas, dan cari terobosan supaya bisa melipat ruang dan waktu serta energi agar bisa dikejar solusinya," tutup Bupati. (ash) Editor : Super_Admin
#digitalisasi #Jiwa Kepimimpinan