Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Mengenal Djap Ci Hen, Penjahit Jubah Perang Para Tatung

Syahriani Siregar • Kamis, 26 Januari 2023 | 18:34 WIB
JAHIT JUBAH: Djap Ci Hen alias Ahien, seorang penjahit pakaian atau jubah tatung saat menyelesaikan pesanan pelanggan yang akan digunakan dalam perayaan Cap Go Meh mendatang, Rabu (25/1). (ARIEF NUGROHO/PONTIANAK POST)
JAHIT JUBAH: Djap Ci Hen alias Ahien, seorang penjahit pakaian atau jubah tatung saat menyelesaikan pesanan pelanggan yang akan digunakan dalam perayaan Cap Go Meh mendatang, Rabu (25/1). (ARIEF NUGROHO/PONTIANAK POST)
PONTIANAK - Bagi masyarakat Tionghoa mungkin sudah tidak asing lagi dengan Tatung. Hampir setiap 15 bulan pertama penanggalan Imlek selalu dirayakan dengan parade.

Tatung sendiri dalam Bahasa Hakka adalah orang yang dirasuki roh dewa atau leluhur. Raga atau tubuh orang tersebut dijadikan alat komunikasi atau perantara.

Dalam parade Tatung, setiap tatung menampilkan kebolehannya, termasuk jubah atau pakaian yang mereka kenakan. Ada yang berpakaian laiknya seorang dewi, bahkan ada pula yang berpakaian laiknya panglima perang seperti dalam film-film kolosal.

Lantas di mana dan siapa pengerajinnya? Adalah  Djap Ci Hen alias Ahien. Warga Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya itu adalah satu dari beberapa penjahit pakaian Tatung di Kalimantan Barat.

Ditemui di rumahnya di Gang Sayur No. 22, Parit Tengkorak, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Ahien menceritakan kisahnya.

Di sebuah ruangan yang menyerupai garasi berukuran 5x5 meter, Ahien merancang, membuat pola dan menjahit lembaran kain yang nantinya akan dibuat sebagai baju atau jubah sang Tatung.

Menurut Ahien, keterampilannya ini ia peroleh dari sang ayah yang juga seorang penjahit jubah Tatung. Sejak kecil ia terbiasa dengan profesi sang ayah. Baru lah diusia remaja, ia mengikuti jejak ayahnya tersebut, menjadi seorang penjahit.

“Memang keturunan. Ayah saya juga penjahit,” kata Ahien, Rabu (25/1).

Awalnya, ia membantu ayahnya menjahit pakaian biasa. Namun setelah tahun 2006, ia pun mencoba membuat pakaian atau jubah Tatung. Menginggat, ia memiliki saudara yang juga seorang Tatung.

Hasil karyanya itu pun dikenal oleh banyak orang. Perlahan ia pun kebanjiran pesanan. Menurutnya, tantangan terberat membuat pakaian Tatung adalah jubah dewa perang. Selain prosesnya yang lama, polanya juga ribet. Belum lagi ditambah pernak-pernik yang terbuat dari lempengan kuningan yang diukir secara manual.

“Yang sulit saat membuat jubah perang seperti ini,” kata Ahien, saat menunjuk jubah perang Dewa Naca.

Namun demikian, kata Ahien, semua itu dikerjakan sendiri.

“Ini semua kami yang mengerjakan. Lempengan kuningan diukir manual, termasuk senjata. Tapi ada juga yang harus dipesan dari Tiongkok, yakni bulu pada mahkota Dewa Naca,” sambungnya.

Untuk menyelesaikan satu jubah perang Tatung, ia butuh waktu satu minggu hingga satu bulan. Tergantung model. Sedangkan untuk biaya juga bervariasi, mulai dari Rp 3 jutaan hingga puluhan juta rupiah.

“Untuk jubah perang ini menghabiskan biaya Rp 19 jutaan,” bebernya.

Ahien juga menceritakan bagaimana proses pembuatan jubah perang para Tatung. Menurutnya, sebelum masuk pada proses pembentukan pola, ia membuat design atau sketsa jubah terlebih dahulu.

Design ini kemudian diberikan kepada pemesan. Setelah cocok, baru lah membuat pola kain, ornament dari lempengan kuningan hingga mahkota.

“Jadi kami mengerjakan apa yang sudah diminta oleh pemesan. Misalnya seorang tatung dengan Dewa Naca. Jadi apa saja yang harus disiapkan sesuai dengan permintaan. Jadi memang tidak bisa sembarangan,” jelasnya.

Ahien mengaku, tahun ini ia kebanjiran orderan. Sejak bulan Juni tahun 2022, ada 50 pakaian Tatung yang dipesan dari berbagai wilayah di Indonesia. Seperti Kota Singkawang, Bogor, dan Semarang.

Uniknya, setiap pakaian Tatung yang ia buat selalu berbeda-beda. Menurutnya, tergantung permintaan dari Dewa si pemesannya. (arf) Editor : Syahriani Siregar
#tatung #penjahit jubah #tionghoa #imlek #cap go meh