Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Melihat Perayaan Hari Mangrove Sedunia di Desa Dabong

Misbahul Munir S • Kamis, 27 Juli 2023 | 10:30 WIB
BERSIHKAN PLASTIK: Melati Wijsen bersama komunitas Bye Bye Plastic Bags usai membersihkan plastik di Bali. IST
BERSIHKAN PLASTIK: Melati Wijsen bersama komunitas Bye Bye Plastic Bags usai membersihkan plastik di Bali. IST
Menjaga Mangrove dan Merawat Sumber kehidupan Warga Lokal

Sebagian besar masyarakat di Desa Dabong masih bekerja sebagai nelayan pesisir. Lewat puncak rangkaian perayaan hari mangrove sedunia, mereka bertekad untuk terus menjaga dan melindungi mangrove agar sumber kehidupan tetap terus lestari.

Haryadi, Desa Dabong

Speed boad bertenaga 200 PK melaju cepat dari Dermaga Rasau Jaya membelah Sungai Kapuas menuju Desa Dabong.  Hampir dua jam perjalanan, juru kemudi mulai melambatkan mesin saat memasuki muara sungai desa. Sepanjang aliran sungai menuju kantor desa, rimbunnya vegetasi mangrove cukup menyegarkan pandangan mata siang itu.

Tak lama setelah beristirahat sesaat di desa, rombongan kembali menaiki speed boad menuju area penanaman mangrove. Lokasinya tidak jauh dari desa, di sana sudah ada masyarakat yang  bersiap melakukan aksi penghijuan kawasan yang mulai kritis.

Ridwanto, Ketua LPHD Dabong saat ditemui di lokasi penanaman mengungkapkan total pohon mangrove yang akan ditanam tahun ini sekitar 10.000 bibit dibagi dalam 4 tahap. Kemarin, Rabu (26/7) masuk tahap ketiga, dimana strategi penanaman dari wilayah terbuka dalam hutan desa. Kini kondisinya mulai bergerak menuju area perairan. “Total luas hutan Desa Dabong hampir 3.000 hektare di mana luasan mangrove mencapai 2.500 hektare.” Jelasnya.

Dia menambahkan Penanaman mangrove di desa Dabong menjadi puncak rangkaian perayaan hari mangrove sedunia. Kegiatan penanaman ini dihadiri berbagai pihak seperti Lembaga Pengelola Hutan Desa Se-Kubu Raya.  Didukung UPT Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Unit XXXIII Wilayah Kubu Raya Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Kalimantan Barat, PT. Belantara Sejahtera Mandiri, Sampan Kalimantan, dan masyarakat desa. Kegiatan ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari upaya memulihkan 20 persen hutan mangrove yang mengalami kerusakan di Kabupaten Kubu Raya.

“Kami yakin metode penanaman yang dilakukan bisa menjaga kelangsungan hidup bibit mangrove yang sudah ditanam. Dari pemantauan hasil penanaman tahap sebelumnya masing-masing sebanyak 2.500 batang, kematian bibit hanya sekitar 7%,” tambahnya.

Pria berkacamata itu mengatakan selain mangrove mampu memulihkan habitatnya sendiri. Penanaman akan membantu mempercepat pemulihan mangrove di Kubu Raya

“Pulihnya Mangrove dapat memberikan manfaat besar bagi masyarakat di desa khususnya nelayan, karena dengan kondisi mangrove yang baik, maka Kepiting, Kepah, Siput, Kerang, Ikan Tirus, dan lainnya dapat berkembang biak dengan baik pula,” katanya.

Ya’ Suharnoto, Kepala UPT Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Unit XXXIII Wilayah Kubu Raya yang turut serta dalam rombongan mengungkapkan. Kerjasama dan sinergi berbagai pihak sangat bagus. Dimana untuk menjaga dan memulihkan ekosistem mangrove di Kalimantan Barat, khususnya Kabupaten Kubu Raya. Luas Hutan Mangrove di Kabupaten Kubu Raya sebesar 16% dari luas wilayahnya, sehingga memiliki potensi keanekaragaman hayati yang tinggi.

“Mangrove Kubu Raya berdasarkan identifikasi biodiversity mangrove merupakan Mega Biodiversity dengan 67 spesies flora bakau dengan rincian 33 Mangrove Sejati dan 34 Mangrove Asosiasi. Perlu diketahui Mangrove Sejati di Kubu Raya mewakili 76,7 % dari total Mangrove Sejati di Indonesia dan atau mewakili 55 % spesies Mangrove Sejati Global.” Ungkapnya.

Dia Menambahkan ekosistem mangrove di Kubu Raya berdasarkan tutupan hutannya 80 % masih dalam keadaan bagus sehingga layak harus dijaga. Sementara 20 % mengalami kerusakan baik disebabkan ulah manusia maupun faktor alam patut untuk kita pulihkan atau rehabilitasi

“Terdapat empat jenis flora yang terancam punah menurut www.iucnredlist.org  seperti Berus Mata Buaya dikategorikan Sangat Terancam Punah, Dungun tergolong Endangered, Gedabu hampir terancam dan Terumtum yang tergolong Hampir Terancam,” tambahnya.

Pada kesempatan tersebut Agnes Milinia Koordinator Pendamping Desa Kubu dari Perkumpulan Sampan Kalimantan mengungkapkan, lembaganya senantiasa menemani masyarakat pesisir dan terlibat secara langsung dalam kegiatan penanaman mangrove.

“Dalam mengatasi persoalan mangrove di  Kubu Raya seperti di Desa Dabong. Para pihak dengan berbagai kepentingan perlu terus bersinergi dan kerja bersama. Mengingat potensi dan manfaat mangrove bisa menjadi modalitas penting untuk kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat pesisir,” tutupnya. (*) Editor : Misbahul Munir S
#menjaga alam #Desa Dabong #peduli lingkungan #Hari Mangrove Sedunia #kubu raya