Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Eksotisme Tersembunyi Desa Pulau Limbung Permata, Yang Kaya Akan Sumber Alam

Misbahul Munir S • Jumat, 11 Agustus 2023 | 21:44 WIB
Desa Pulau Limbung, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Provinsi Kalimantan Barat menyimpan eksotisme menarik bagi warga luar. Segala potensi sumber daya alam seperti galian C berupa pasir, hasil pertanian, perikanan, hutan alam, dan sawit menjadi
Desa Pulau Limbung, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Provinsi Kalimantan Barat menyimpan eksotisme menarik bagi warga luar. Segala potensi sumber daya alam seperti galian C berupa pasir, hasil pertanian, perikanan, hutan alam, dan sawit menjadi
DESA Pulau Limbung, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Provinsi Kalimantan Barat menyimpan eksotisme menarik bagi warga luar. Sejauh mata memandang, permata tersembunyi berupa hamparan alam dengan segala hiruk-pikuk belum tersentuh banyak modernisasi sudah ada sejak puluhan tahun silam.
Desa ini, yang tersembunyi di tepian indah sungai, telah menjadi jantung yang menghidupi masyarakat melalui beragam potensi alaminya yang melimpah ruah ?

DENY HAMDANI, PULAU LIMBUNG.

Desa Pulau Limbung memang terletak di tepi sungai, yang aliran airnya mengalir deras. Di antara gemuruh aliran sungai, terdapat bisnis penyedotan pasir yang tak hanya memberi manfaat untuk warga di desa, tetapi juga memberikan mata pencaharian kepada sebagian masyarakat setempat. Aktivitas ini mengajarkan semua akan nilai pentingnya menjaga keseimbangan alam sambil tetap mendukung perekonomian lokal.

Usaha pemanfaatan galian C berupa pasir untuk bahan dasar pembangunan infrastruktur sudah berlangsung sejak lama. Bahkan tahun 2012 silam, pendapatan desa bisa mencapai ratusan hingga miliaran rupiah. Waktu itu mantan Kades Usmandi sekaligus tokoh warga setempat bercerita. "PAD desa cukup besar. Dana tersebut kami bahkan bisa bangun desa termasuk fasilitas umum lain dan kebutuhan umum warga Pulau Limbung," kata Usmandi, waktu itu.

Menurutnya, pasir dari desanya tersebut menjadi salah satu sumber bahan bangunan yang dijual hingga ke seluruh Kalimantan Barat bahkan sampai ke luar provinsi. Makanya galian C di Desa ini benar-benar cukup banyak. Padahal sudah dieksploitasi sejak tahun 1980. Akan tetapi sampai sekarang masih melimpah bahkan seperti tidak ada habis-habisnya.

Cerita keberadaan Desa Pulau Limbung sesungguhnya sudah ada sejak puluhan hingga ratusan tahun lalu.
Sebelum terbentuk pemerintahan sah, wilayah Pulau Limbung hanya tersusun dari kampung-kampung. Secara definitif keberadaan Pulau Limbung menjadi desa yang diakui pemerintahannya pada tahun 1994. Sebelumnya, secara struktur pemerintahan desa memang belum ada. Pulau Limbung hanya dipimpin Kepala Kampung alias Penggawe. Berdasarkan hasil wawancara dengan tokoh setempat, kepemimpinan di Pulau Limbung berawal dari adanya Penggawe yaitu Pak Marawi. Kemudian Kepala Kampung yakni Pak Soot.

Barulah pada tahun 1994 pemerintahan di Pulau Limbung dibentuk sebagai desa. Pemimpinnya waktu itu Slamet (1994-1999). Kemudian berlanjut ke Askah (1999–2007), Usmandi (2007 – 2013). Agus sendiri sempat menjadi Pj Kades dari tahun 2013 sampai 2015. Kemudian Isyanto tahun 2016 – 2021. Saat ini Kepemimpinan Desa Pulau Limbung, dipercayakan kepada Mujirin. Di bawah kepemimpinan beliau Desa Pulau Limbung terus berbenah dalam proses pembangunan.

Untuk luasan wilayah, Desa Pulau Limbung diperkirakan memiliki luas hingga mencapai 11.233,62 Ha. Ada lima dusun sebagai penyanggah desa pulau limbung termasuk 2 dusun terluar Dusun Sedayu Mandiri dan Selat Karya. Di sana juga sudah berdiri SMK Negeri 03 Kecamatan Sungai Raya pada tahun 2017 menjadi semangat baru dunia pendidikan warga setempat dan sekitar. Ada 3 jurusan yakni pertanian,
perikanan, dan tata boga

Selain itu, kearifan lokal masyarakat Desa Pulau Limbung juga lama dipertahankan. Kearifan lokal warga setempat ini kecenderungannya sama dengan tradisi warga melayu pada umumnya. Salah satu contoh tradisi melayu yang masih saat ini melekat seperti adanya pantangan bekerja pada tanggal 1 Muharram (tahun baru Islam) dan peringatan robo-robo. Robo-robo adalah tradisi tahunan yang dilaksanakan pada hari rabu di akhir bulan safar kalendar hijriyah.

Peringatan robo-robo berisikan acara doa bersama kemudian menyantap hidangan yang dilakukan di jalan oleh masyarakat Desa Pulau Limbung. Disini warga saling bisa mencicipi makanan dari warga lainnya tanpa ada batasan dan perbedaan. Yang tidak kalah menariknya di masyarakat pulau limbung mengenal tradisi apabila ada warga yang meninggal, secara bersamaan tidak melakukan kegiatan bekerja di perusahaan, sebagai penghormatan kepada keluarga yang meninggal.

Berkenaan dengan kearifan lokal lain dalam pemanfaatan lahan, warga Desa Pulau Limbung sering melakukan gotong royong menanam padi saat musim tanam tiba. Lebih dari 20 warga kadang turut dalam melakukan kegiatan ini. Sebelum penanaman padi dilakukan, warga terlebih dahulu melakukan doa bersama agar dijauhkan dari segala macam bentuk gangguan dalam usaha pertaniannya. "Bentuk gotong royong ini ditujukan agar petani dalam mengusahakan tanaman padinya tidak terlalu lama dalam melakukan proses penanaman. Apabila selesai satu lahan telah ditanami, maka bergantian ke lahan petani yang lain begitu seterusnya," ucap Mujirin Kades terpilih.

Tradisi lain yang masih dipelihara warga di sana adalah tari makyong. Kesenian Tradisional memiliki keunikan tersendiri yaitu konon barang siapa yang mendapatkan sapu tangan makyong ia dipersilahkan menari bersama makyong. Sementara seni grup Hadrah (Rebana) beranggotakan beberapa orang. Grup hadrah ini sering mengisi agenda acara dalam pesta pernikahan dan arak-arakan pengantin pria.

Kemudian, biasanya dalam penyambutan tamu-tamu penting atau pejabat yang berkunjung ke Desa Pulau Limbung. Selain itu, ada grup musik bernama Pesona 13 yang dibentuk sejak tahun 2013. Selanjutnya Tahun 2016 berganti nama menjadi Mitra 2016. Grup musik Mitra 2016 merupakan sarana hiburan bagi masyarakat Desa Pulau Limbung dan sekitar. Grup musik ini lebih sering mengisi agenda-agenda dalam pesta pernikahan, pesta HUT kemerdekaan RI dan acara-acara lain yang menggunakan hiburan musik.

Seperti diulas sebelumnya, Desa Pulau Limbung adalah pemukiman warga pinggiran sungai. Maka ada juga warga yang berprofesi sebagai nelayan air tawar. Aktivitas nelayan di Desa Pulau Limbung dilakukan di sekitar wilayah desa saja. Hasil tangkapan mereka beraneka jenis ikan air tawar. Sering kali
alat tangkap tradisionalnya berupa jala, pukat atau menyaruk ikan jenis patin, baung, toman. Ikan raksasa seperti tapah, belidak hingga udang galah sering ditangkap masyarakat. :Hasil yang didapat nelayan Desa Pulau Limbung juga tidak menentu," kata Ahmad, warga setempat.



Photo
Photo


Photo
Photo


Photo
Photo


Nah, penghasilan cukup besar adalah warga yang berprofesi di pengolahan kayu dan penyedotan pasir sungai. Penghasilan mereka dalam sehari paling sedikit bisa mencapai ratusan ribu rupiah. Namun, tidak semua warga mampu untuk melakukan pekerjaan ini. Dikarenakan pekerjaannya cukup berat dan menggunakan tenaga ekstra.

Salah satu pekerjaan yang masih ada dilakukan meski minim adalah penebang kayu juga jadi pilar ekonomi penting warga di desa ini. Namun dilakukan dengan tata kelola hutan bijaksana. Masyarakat di Desa Pulau Limbung menjunjung tinggi prinsip kelestarian sumber daya alam. Melalui kerja keras dan pengelolaan terencana, mereka berhasil memanfaatkan kayu secara berkelanjutan sambil menjaga ekosistem hutannya.

Di samping itu, ada juga warga yang berprofesi sebagai petani. Umumnya warga di sana mengusahakan tanaman padi, sayur-sayuran berupa mentimun, kacang-kacangan sampai buah-buahan berupa semangka. Pendapatan petani dan pekebun ini bervariasi dan tidak menentu. Seperti usaha semangka, buah ini hampir setiap tahun dibudidayakan di Desa Pulau Limbung. Pernah juga gagal panen akibat curah hujan tinggi dan banjir.

Pekerjaan lain dan kebanyakan juga dilakukan warga di sana adalah pekerja sawit. Semanjak perusahaan sawit masuk, banyak warga bekerja sebagai buruh. Upah buruh perusahaan sawit sejumlah puluhan ribu hingga ratusan ribu. Jika dalam 1 bulan bekerja selama 25 hari, maka upah yang didapatkan bisa menyentuh angka di level nyaris Rp2 jutaan hingga Rp2 jutaan lebih. Jika bekerja sebagai buruh perkebunan, masyarakat tidak bisa mengerjakan pekerjaan lain karena faktor waktu dan tenaga.
Namun tidak semua masyarakat Desa Pulau Limbung bekerja sebagai buruh. Ada juga menjadi petani, nelayan, pekerja kayu dan pekerja di tambang pasir(**) Editor : Misbahul Munir S
#Desa Pulau Limbung #kekayaan alam #Eksotisme #Sumbur Daya Alam