Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Titik Lesuh Di Ladang, Ubah Ketakutan Jadi Peluang

Misbahul Munir S • Rabu, 16 Agustus 2023 | 17:58 WIB
Petani terus bertahan di ladang garapan mereka pada musim pengering dan ancaman karhutla seperti sekarang ini.
Petani terus bertahan di ladang garapan mereka pada musim pengering dan ancaman karhutla seperti sekarang ini.
Di tengah hembusan angin kering, yang menghembuskan riak-riak panas, Ahmadi (53), seorang petani yang teguh hati, menatap ladangnya yang semakin kering dan retak-retak. Musim pengering telah tiba. Ikut membawa keresahan dan ketakutan mendalam bagi para petani di Sungai Raya, Kubu Raya, Kalimantan Barat. Bagi Ahmadi dan kawan-kawannya, musim ini membawa dua sisi kontradiktif yang menghimpit. Seperti dua ujung pedang yang tajam ?

Deny Hamdani-Kubu Raya.

Sinar matahari telah memanggang tanah kebunnya. Mengeringkan setiap tetes kelembaban yang tersisa. Ahmadi yang sehari-hari merasa menjadi penjaga tanah, kini melihat tanaman yang dipeliharanya layu dan tak berdaya. "Ini musim kering yang paling sulit," ujarnya sambil mengusap keringat dari dahinya yang keriput akibat panas yang mencekik pada hari Minggu kemarin.

Di tengah situasi ini, Ahmadi terpaksa mengambil langkah mengejutkan. Membakar sebagian kecil lahan kebunnya untuk membantu proses bercocok tanam. Meski terlihat kontradiktif, tetapi dia menjaga api-api tersebut agar tak melebar dan menjalar jauh. Dia mengambil keputusan sulit yang diambil dengan penuh perasaan terhimpit. "Panen kali ini, sepertinya tidak ada yang bisa saya jual, tapi saya juga takut memicu karhutla," tuturnya dengan suara gemetar.

Ancaman karhutla (kebakaran hutan dan lahan) telah menjadi mimpi buruk bagi setiap warga Kalimantan Barat. Kebakaran tahun-tahun sebelumnya masih meninggalkan luka yang belum sembuh. Ahmadi dan para petani lainnya mengetahui betul bahwa ke tidak hati-hatian dalam membakar lahan dapat memicu malapetaka besar, menghanguskan hutan yang menjadi sumber kehidupan mereka dan masyarakat sekitar.

Namun, dilema Ahmadi tak berhenti di situ. Di balik ancaman karhutla, ada ancaman lain yang tak kalah mencekam. Dampak pidana penjara. Pemerintah telah mengeluarkan peraturan yang ketat terkait pembakaran lahan. Mereka yang terbukti melanggar dapat dijatuhi hukuman berat, termasuk penjara. Hal ini membuat beban pikiran petani semakin berat. "Kami hanya ingin mencari nafkah, tapi sekarang takut menjadi tahanan," ujar Ahmadi dengan mata yang berkaca-kaca.

Di tengah lahan kering yang berdampingan dengan rumpun rumput kering yang rentan terbakar, Ahmadi bersama para petani lainnya berharap musim hujan segera tiba. Harapan ini membawa curahan perasaan sedih dan ketakutan dalam hati mereka. Sembari menatap langit yang cerah dan tampak lesu, mereka terus berdoa, memohon agar musim kemarau ini segera berakhir dan membawa angin hujan yang menyuburkan kembali tanah-tanah yang mereka cintai.

Ketidakpastian merajalela di antara sawah-sawah yang gersang, dan para petani Kalimantan Barat seperti Ahmadi terus merangkai harapannya dalam lirih doa, sambil melangkah di atas jalan yang penuh dengan perasaan dan rintihan kekhawatiran.

Hanya saja, di balik keresahan dan ketakutan yang menghiasi musim kemarau di Kalimantan Barat, petani seperti Ahmadi masih tetap menemukan momentum mengubah tantangan menjadi peluang. Mereka tidak hanya menghadapi ancaman karhutla dan dampak hukuman pidana, tetapi juga menjadikan perjuangan mereka sebagai pijakan untuk perubahan positif.

Dalam upaya melawan musim kemarau yang tak kenal ampun, Ahmadi dan kawan-kawan petani lain berusaha mencari alternatif bertani berkelanjutan. Mereka juga terus melirik cara-cara baru dalam mengolah lahan dan menjaga tanaman agar tetap subur di tengah keterbatasan air. Misalnya menghadirkan teknologi irigasi dan metode pertanian berkelanjutan menjadi fokus mereka, memungkinkan tanaman tetap hidup meski musim kering melanda.

Ahmadi dan rekan-rekannya tidak ingin terus terjebak dalam paradigma membakar lahan berisiko tinggi. Baginya komitmen untuk menjaga hutan dan lingkungan sekitar dan meminimalkan risiko karhutla yang dapat membawa bencana bagi seluruh ekosistem harus terus dijaga. Semangat perubahan ini terpancar dari mata Ahmadi saat ia menjelaskan, "Kami harus beradaptasi dengan alam, bukan melawan alam," ujar dia.

Tidak hanya mengubah cara bertani, para petani ini juga mengajak masyarakat sekitar terlibat dalam gerakan pelestarian lingkungan. Dia sering tampil dalam kegiatan penyuluhan dan pelatihan. Mereka berbagi pengetahuan tentang cara bertani ramah lingkungan dan mengedukasi tentang bahaya karhutla. Solidaritas dan semangat berbagi informasi menjadi pendorong kuat di balik gerakan ini.

"Pemerintah terus dengar suara para petani dan merespons dengan langkah-langkah dukungan. Beragam program bantuan teknologi irigasi, pelatihan pertanian berkelanjutan, dan perlindungan hukum adalah cara kami bertahan di tengah situasi musim menakutkan yakni kekeringan," pungkas dia.(**) Editor : Misbahul Munir S
#Ancaman Tahanan #Tanaman Kering #karhutla