Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Lebih Irit, Nelayan di Kabupaten Kubu Raya Ganti BBM dengan Gas LPG

A'an • Minggu, 10 Maret 2024 | 12:38 WIB

 

PENGGUNAAN LPG: Nelayan di Kabupaten Kubu Raya memanfaatkan gas LPG sebagai bahan bakar pengganti BBM, sehingga lebih irit dalam pengeluaran.
PENGGUNAAN LPG: Nelayan di Kabupaten Kubu Raya memanfaatkan gas LPG sebagai bahan bakar pengganti BBM, sehingga lebih irit dalam pengeluaran.

SUNGAI RAYA – Nelayan di Kabupaten Kubu Raya beralih menggunakan gas LPG, karena lebih irit dibandingkan Bahan Bakar Minyak (BBM).

Selain irit, Gas LPG juga lebih mudah didapatkan dibandingkan BBM, yang selama ini digunakan nelayan.

Selain soal irit, gas LPG juga tidak sulit mendapatkan jika dibandingkan BBM. “Pertama irit itu yang kami kejar,” kata Jamali, salah satu nelayan di Kampung Nelayan Sungai Tekong, Desa Sungai Kupah, Kabupaten Kubu Raya, baru-baru ini.

Jamali merincikan biaya yang dikeluarkan antara dua bahan bakar tersebut. Jika menggunakan BBM dalam satu hari mereka bisa menghabiskan 5 liter.

Jika BBM itu adalah pertalite, maka sekitar Rp50 ribu biaya yang dibutuhkan mereka untuk mencari ikan di laut dalam satu hari.

Sementara jika menggunakan gas LPG, satu tabung Rp25 ribu untuk harga eceran atau beli di warung. Biaya yang dikeluarkan üntuk membeli gas LPG itu, pemanfaatannya oleh mereka bisa digunakan dua hari.

“Gas LPG eceran itu Rp25 ribu pertabung dan tidak susah mendapatkannya,” kata Jamali.

Jamali menceritakan, ia menggunakan gas LPG sudah sejak 2010. Bukan hanya dirinya sendiri, nelayan lain pun sudah menggunakan gas LPG sebagai bahan bakar kapal saat melaut mencari ikan.

“Mayoritas sudah pakai gas, hampir 100 persen pakai gas, tidak lagi pakai BBM, karena mahal,” aku Jamali.

Selain soal harga, jarak tempuh juga menjadi pertimbangan mereka. “Kalau pakai gas LPG jarak tempuh bisa lebih jauh ketimbang pakai BBM. Jadi kapal bisa lebih ke tengah laut. Semakin ke tengah, potensi tangkapan makin banyak, dan ikan lebih besar. Kalau dekat sini, ikan kecil dan harga jualnya juga murah,” cerita Jamali.

Peralihan penggunaan BBM ke Gas LPG sebagai bahan bakar kapal nelayan berangkat dari Teknologi Konverter Kit Amin Ben-Gas (ABG), milik Amin Suwarno.

Bahkan pengalihan penggunaan bahan bakar dari bensin ke gas LPG bukan hanya dilakukan nelayan yang menggunakan perahu sampan saja, tetapi juga speedboat bahkan mesin pertanian.

Bahkan menjadi bahan bakar moda transportasi lain bagi guru-guru dan peserta didik di kawasan pesisir Kabupaten Kubu Raya.

Pemanfaatkan gas LPG sebagai bahan bakar moda transportasi air dilihat Tim Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) RI yang berkunjung ke Kubu Raya, baru-baru ini.

Tim Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) RI juga melakukan audiensi dengan Pemerintah Kabupaten Kubu Raya.

Koordinator Bidang Sarana dan Prasarana Perikanan Tangkap, Asdep Pengelolaan Perikanan Tangkap, Deputi Sumber Daya Maritim Endang Puji Astuti mengatakan pihaknya mendapat berbagai masukan terkait dengan kunjungan untuk melihat langsung Teknologi Konverter Kit Amin Ben-Gas (ABG) milik Amin Suwarno.

Teknologi ini tidak hanya membantu nelayan dalam hal kebutuhan bahar bakar yang lebih irit, tapi juga mendukung sektor pariwisata. Gas LPG menjadi bahan bakar bagi kapal-kapal kato yang dilombakan setiap tahun.

“Tentunya sangat bagus, jika ditularkan untuk daerah lainnya. Jika perjalanannya masif bisa menjadi skala nasional,” kata Endang.

Selain untuk perlombaan kapal kato, Gas LPG menjadi bahan bakar kapal-kapal untuk menikmati destinasi wisata mangrove. Bahkan membantu akses transportasi bagi guru dan pelajar di kawasan pesisir Kubu Raya.

“Betapa miris juga, tenaga guru yang mencetak kecerdasan anak-anak bangsa, di satu sisi melewati hal yang menyeramkan.

Adanya bantuan dari Dishub untuk moda transportasi dengan pemanfaatan Teknologi Konverter Kit maka sangat membantu karena dari sisi biaya bisa sangat terpaut jauh,” terang Endang.

“Ini menjadi masukan dan bahan koordinasi kami untuk lebih lanjut di pusat, akan kami sampaikan kepada pimpinan.

Harapannya bisa koordinasi dengan Kementerian atau lembaga terkait dan menjawab permasalahan yang ada disini,” tambah Endang.

Inovator Teknologi Konverter Kit Amin Ben-Gas (ABG), Amin Suwarno menjelaskan tim yang datang untuk  melihat sejauh mana penerapan konversi BBM ke Gas LPG.

“Melihat yang sudah diimplementasi di lapangan, karena tidak hanya diterapkan ke nelayan tapi juga petani,” kata Amin.

Menurut Amin, Teknologi Konverter Kit yang dibangunnya itu juga menjadi pilot project bersama ITB untuk mendorong moda wisata maritim yang ramah lingkungan.

Amin menyatakan Teknologi Konverter Kit hadir untuk membantu masyarakat di kawasan pesisir. Salah satunya bahan bakar transportasi air bagi guru-guru dan peserta didik di kawasan pesisir.

“Setelah kurang lebih satu tahun diperjuangkan akhirnya terealisasi, ada armada transportasi air menghubungkan daerah yang tidak bisa dilalui darat. ABG ini hadir untuk membantu pendidikan bagi anak-anak bangsa,” pungkas Amin. (mse)

Editor : A'an
#nelayan #bbm #sungai raya #kubu raya #gas lpg