Meski kawasan ini sudah diguyur hujan, petugas masih terus bekerja untuk mendinginkan bara api yang masih mendekam di bawah permukaan tanah gambut.
Sudah 11 hari petugas gabungan bertahan untuk melokasir kebakaran.
Dirjen Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, Mahfudz terjun langsung melakukan pendinginan lahan di kawasan tersebut.
Usai menggelar rapat koordinasi pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Aula DLHK Provinsi Kalimantan Barat, Jumat (2/8), ia bersama rombongan turun ke lapangan untuk meninjau lokasi.
Baca Juga: Penemuan Granat di Kubu Raya Kembali Bikin Geger Warga
Saat ditemui Pontianak Post di lapangan, Mahfudz mengungkapkan dalam beberapa hari ini wilayah Kalbar sudah mengalami turun hujan.
Hal itu dinilai sangat positif dalam pengedalian karhutla. Sebab, kondisi ini membuat jumlah hotspot (titik panas) mulai menurun. Sebagaimana pantauan BMKG, wilayah Kalbar akan memasuki La Nina pada bulan Agustus.
La Nina adalah salah satu fenomena alam yang terjadi secara periodik di Samudera Pasifik. Fenomena ini menyebabkan suhu muka laut di wilayah tersebut mengalami penurunan, sehingga udara terasa lebih dingin dari biasanya.
Selain itu, La Nina juga berdampak pada curah hujan yang lebih tinggi dari rata-rata, sehingga dapat menyebabkan bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, dan angin kencang.
Baca Juga: Imam Hambali, Imam yang tak Tunduk dengan Pemikiran Penguasa
Meski demikian, kata Mahfudz, diharapkan semua daerah harus tetap siap siaga dan meningkatkan usahanya untuk melakukan pengendalian karhutla.
Berdasarkan pantauan Satelit Terra/Aqua (NASA), lanjut Mahfudz, jumlah titik panas (hotspot) di Kalbar hingga 31 Juli 2024 pada confident level high sebanyak 136 titik.
Jumlah itu lebih rendah dibandingkan tahun 2023 yaitu sebanyak 463 titik.
“Sedangkan untuk luas karhutla yang terjadi di Kalbar sampai dengan bulan Juni 2024 seluas 1.790,51 Hektare. Sekitar 48,35% terjadi pada lahan gambut dan lahan mineral 51,64%. Dengan frekuensi kejadian karhutla sebanyak 120 kejadian yang tersebar di seluruh wilayah Kalbar,” terangnya.
Dia menambahkan bahwa kerja sama di satgas sudah dibangun dengan baik yang melibatkan pemerintah pusat dan derah, TNI, kepolisian, BMKG, masyarakat dan berbagai pihak.
Keterlibatan semua pihak dalam penangulangan bencana dinilai menjadi kunci dalam pencegahan karhutla di Kalbar.
“Di Indonesia sudah ada enam daerah yang menetapkan Status Siaga Darurat Penanganan Bencana Asap akibat Karhutla, salah satunya termasuk Kalimantan Barat,”jelasnya.
Selain petugas, keterlibatan kelompok masyarakat dalam penanggulangan karhutla dinilai sangat penting. Pasalnya, mereka menjadi garda terdepan dalam deteksi dini dan respons cepat terhadap karutla. Di samping itu, mereka juga berperan aktif dalam upaya pencegahan melalui edukasi dan adopsi praktik-praktik pengelolaan lahan yang ramah lingkungan.
Sukirno salah satunya. Ia adalah ketua Kelompok Tani Sumber Rejeki yang turut berjibaku memadamkan api. Saat terjadi kebakaran lahan, mereka menjadi salah satu pihak yang rentan terdampak bencana. Kebakaran lahan yang terjadi di Desa Rasau Jaya Umum membuat tanaman petani kelompoknya turut terbakar. Durian, jengkol, lengkeng yang ditanam pada lahan seluas tiga hektare ikut terdampak.
Baca Juga: Warga Desa Pal 9 Kubu Raya Mulai Kesulitan Air Bersih, PMI Bantu Suplai Air Gratis
“Beruntung api hanya menghanguskan 100 pohon saja, sebab anggota kelompok tani sering memonitor lokasi yang memang sudah cukup dekat dengan kejadian karhutla,” jelasnya.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kalbar, Adi Yani yang turun ke lapangan bersama Dirjen Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI mengatakan. meski di sejumlah wilayah kabupaten dan kota sudah mengalami turun hujan, namun masih ditemukan titik panas di beberapa daerah.
Oleh karena itu, pihaknya tetap akan mengantisipasi terjadinya karhutla. Terlebih saat ini sudah masuk musim tanam.
“Kita harus tetap siaga. Jangan lengah dan selalu berkoordinasi dengan instansi terkait agar karhutla tahun ini tidak meluas,” katanya.
Adi Yani yang biasa disapa Adi menambahkan, Kabupaten Sambas, Ketapang, Sanggau, dan Kubu Raya menjadi daerah yang rawan karhutla.
Baca Juga: Pemilik K-Gym Minta Polisi Tak Diskriminasi Dirinya
Selain itu, ada tiga lokasi lain yang juga menjadi fokus perhatian agar wilayah tersebut tidak terjadi karhutla, yakni daerah perbatasan, bandara, dan pusat upacara HUT RI.
Perbatasan menjadi perhatian sebab bila terjadi karhutla di wilayah tersebut maka asapnya akan akan menyeberang ke negara tetangga. Antisipasi karhutla di kawasan bandara juga menjadi fokus supaya tidak menganggu penerbangan.
Wilayah terakhir adalah pada saat upacara hari kemerdekaan pada 17 Agustus nanti, jangan sampai menganggu upacara yang akan dilaksanakan di Ibu Kota Negara (IKN).
“Karena Kalbar sudah menetapkan status siaga bencana karhutla, kami berupaya melakukan pemadaman secara efektif dan efisien, agar api tidak membesar. Pemadaman lewat udara harus bersinergi memberikan dukungan kepada pemadaman darat agar hasilnya lebih optimal,” paparnya.
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Supadio, Erika Mardiyanti mengatakan wilayah Kalbar pada Dasarian III Juli 2024 (di atas tanggal 20 bulan Juli) berada pada periode transisi musim.
Adapun daerah-daerah yang perlu diwaspadai terkait potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir dan kekeringan adalah Kabupaten Ketapang bagian selatan.
Sedangkan untuk wilayah Kabupaten Kayong Utara bagian barat dan sebagian kecil wilayah Kubu Raya, diperkirakan musim kemaraunya di awal Agustus.
Erika Mardiyanti yang biasa disapa Erika menambahkan, saat datangnya musim kemarau akan berpotensi menyebabkan kemudahan terjadinya karhutla di sejumlah daerah di Kalbar. Ia merinci Potensi karhutla periode 31 Juli- 4 Agustus hampir terjadi di sebagian besar wilayah Kalbar. Seperti Kabupaten Sambas, Kota Pontianak, Kubu Raya, Landak, Sanggau, Sekadau, Sintang, Melawi, Kapuas Hulu, Kayong Utara, dan Ketapang.
“Selanjutnya di periode tanggal 5 -10 Agustus, potensi kemudahan terjadinya karhutla terjadi di wilayah Kubu Raya, Kayong Utara, Ketapang, Melawi, Sintang, dan Kapuas Hulu,” paparnya.
Baca Juga: Berlayar menuju Tanah Jawa Demi Ilmu Agama
Meski Kalbar memasuki musim kemarau, lanjut Erika, diperkirakan di sejumlah wilayah masih akan berpotensi hujan sedang hingga lebat. Ia menjelaskan prakiraan cuaca 10 harian ke depan pada tanggal 31 Juli-02 Agustus.
Potensi hujan sedang hingga lebat terdapat di Kabupaten Bengkayang, Kubu Raya, Kayong Utara, Sekadau, dan Kapuas Hulu.
“Memasuki tanggal 3-5 Agustus, perkiraan potensi hujan sedang hingga lebat terdapat di Kabupaten Sambas, Bengkayang, Landak, Sintang, Sanggau, Melawi dan Kapuas Hulu. Sedangkan pada tanggal 6 - 9 Agustus, potensi hujan sedang hingga lebat di Kabupaten Sambas, Sanggau, Landak, Kubu Raya, Pontianak, Kayong Utara, Ketapang, Sekadau, Sintang, Melawi, dan Kapuas Hulu,” jelasnya. (yad)
Editor : Syahriani Siregar