SUNGAI RAYA – Komunitas lintas iman di Kalimantan Barat semakin memperkuat kolaborasi dalam upaya menjaga dan melestarikan lingkungan. Dialog inklusif yang melibatkan berbagai pihak ini menekankan pentingnya nilai-nilai dalam Deklarasi Istiqlal dan falsafah Bali, Tri Hita Karana, sebagai landasan etis untuk pelestarian lingkungan di Kalimantan Barat.
"Kolaborasi lintas iman menjadi kunci dalam menghadapi tantangan kerusakan lingkungan yang semakin kompleks. Dialog lintas iman menciptakan ruang inklusif yang mampu menjembatani perbedaan pandangan, terutama dalam isu lingkungan," ujar Ketua Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri (Stakant) Pontianak, Benny Suwito, dalam sebuah diskusi di Sungai Raya, Jumat (6/12).
Menurut Benny, komunitas lintas iman memiliki kemampuan unik untuk meruntuhkan sekat-sekat perbedaan melalui dialog berbasis keberagaman. "Kerusakan lingkungan bukan hanya masalah ekologi, tetapi juga menyentuh aspek moral dan sosial. Pendekatan multikultural yang diusung komunitas lintas iman menawarkan solusi berkelanjutan dengan mengintegrasikan kearifan lokal dan tantangan global," jelasnya.
Ia juga menekankan peran penting tokoh agama sebagai motor penggerak dalam pelestarian lingkungan. "Ajaran agama mengandung nilai-nilai harmoni antara manusia dan alam. Tokoh agama dapat menjadi agen perubahan yang mempromosikan kesadaran lingkungan di tengah masyarakat," tambah Benny.
Selain itu, generasi muda dianggap sebagai agen perubahan yang sangat penting dalam kampanye pelestarian lingkungan. "Generasi muda memiliki semangat inovasi yang tinggi dan responsif terhadap isu-isu kontemporer, termasuk perubahan iklim," katanya. Dengan memanfaatkan teknologi digital dan media sosial, generasi muda dapat menyebarkan pesan-pesan pelestarian lingkungan secara masif dan efektif.
Benny menilai perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menghadirkan solusi komprehensif yang mengintegrasikan nilai-nilai agama, sosial, dan sains. "Kampus adalah laboratorium pendekatan interdisipliner yang dapat menghasilkan kebijakan berbasis penelitian," tuturnya.
Kolaborasi antara perguruan tinggi, tokoh agama, dan komunitas lintas iman disebutnya sebagai kunci untuk menciptakan gerakan transformatif dalam memastikan masa depan yang berkelanjutan. Koordinator Gusdurian Pontianak, Lulu Musyarofah, menambahkan bahwa diskusi ini juga menekankan pentingnya nilai-nilai dalam Deklarasi Istiqlal dan Tri Hita Karana.
"Deklarasi Istiqlal menekankan penghormatan terhadap keberagaman dan kemanusiaan, sedangkan Tri Hita Karana mengajarkan harmoni antara manusia, Tuhan, dan alam," jelas Lulu.
Kedua prinsip ini dinilai mampu memperkuat solidaritas universal dalam merespons kerusakan lingkungan secara holistik. Diskusi yang dihadiri oleh tokoh agama, aktivis lingkungan, dan komunitas lintas iman ini berhasil merumuskan langkah-langkah strategis untuk menangani isu lingkungan di Kalimantan Barat. (ash)
Editor : Miftahul Khair