PONTIANAK POST - Warga Perumahan Green Ardian di Jalan Parit Bugis, Kubu Raya, mengeluhkan pasokan air bersih dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kubu Raya yang macet sejak lima hingga enam hari terakhir.
Situasi ini memaksa warga kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti mandi, mencuci, dan memasak. Herianto, warga yang tinggal di komplek tersebut, menyatakan pemadaman air terjadi tanpa pemberitahuan resmi dari pihak PDAM.
"Kami tidak tahu penyebab pasti—apakah ada pipa pecah atau masalah teknis lain. Yang jelas, air tiba-tiba tidak mengalir dan sudah berlangsung hampir sepekan. Ini sangat mengganggu karena kami bergantung pada air PDAM," ujarnya, Jumat (2/5).
Tidak hanya di Green Ardian, gang-gang sekitar seperti Gang Lanjut juga mengalami hal serupa. Herianto mengaku telah menghubungi Ketua RT setempat, untuk memastikan kondisi ini.
"Pak RT membenarkan bahwa warganya juga mengalami hambatan ditribusi air PDAM ke rumah. Dugaan kami, beberapa wilayah lain di jalur Parit Bugis mungkin turut terdampak," tambah pengusaha pernak-pernik pernikahan ini.
Warga berharap PDAM Kubu Raya segera memberikan informasi jelas terkait penyebab gangguan dan waktu pemulihan layanan.
"Kami memahami jika ada masalah teknis, tapi tolong beri pengumuman agar kami bisa mencari solusi sementara, seperti menggunakan air galon atau sumur bor," kata Herianto.
Hingga berita ini diturunkan, PDAM Kubu Raya belum memberikan keterangan resmi. Pontianak Post akan terus memantau perkembangan ini dan berupaya menghubungi pihak PDAM untuk klarifikasi.
Akibat terhambatnya ditribusi air ini, warga terpaksa membeli air galon dengan biaya tambahan sekitar Rp20.000 – Rp30.000 per hari. Sebagian ada yang mengandalkan sumur bor, tetapi kualitasnya tidak sebaik air PDAM.
"Bayangkan, satu keluarga bisa menghabiskan puluhan ribu rupiah hanya untuk beli air. Ini jelas memberatkan," keluh warga lain yang enggan disebutkan namanya.
Warga mendesak PDAM segera memperbaiki jaringan dan transparan dalam memberikan informasi.
"Kami tidak menolak jika ada pemeliharaan, tetapi beri pemberitahuan minimal sehari sebelumnya. Jangan sampai kami baru tahu saat air sudah mati," tandas Herianto. (den)
Editor : Miftahul Khair